Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

8. Sisi Lain.

9.3K 384 5
                                        

"Segelap apa pun warna hitam, dia masih memiliki keindahan bagi pecintanya."

° ° °

Setelah mampir dari rumah Velua untuk berbincang dengan orang tuanya sekalian izin membawa anak gadisnya pergi. Carka membawa Velua untuk singgah ke penjual nasi padang di pinggir jalan. Ya, sejak pulang sekolah Carka memang belum makan, selepas berganti baju pemuda itu langsung pamit ke rumah Velua saat gadis itu mengatakan Abyan ingin bertemu dirinya.

"Buk, nasi padang sama es tehnya dua, ya." Carka mengucapkan pesanannya sekalian mengambil duduk sedangkan Velua hanya diam mengikuti.

Si Ibu penjual mengacungkan jempolnya. "Siap, Den Carka."

Ini memang salah satu tempat makan favorit Carka jadi tidak heran jika penjualnya pun mengenal Carka.

Carka mencomot sate telur puyuh. "Ambil aja yang lo mau nanti gue yang bayar."

Velua mendengus. "Iyalah, kayak lo pernah biarin gue bayar sendiri aja."

Memang jika bepergian dengan Carka, dia tidak akan membiarkan Velua mengeluarkan sepersen pun uang bahkan jika tidak bersamanya Carka akan mentransfer uang saat gadis itu pergi dengan temannya. Sekeras apa pun Velua menolak, Carka akan tetap memaksa. Seloyal itu seorang Carka Zuleuw.

"Ini, Den, pesanannya."

"Makasih, Buk Cantik."

Bu Wati menabok pelan lengan Carka dengan nampan. "Bisa aja, cantikan pacar kamu, tuh."

Velua yang merasa terpanggil tersenyum sopan. "Bener kata Carka, kok, Bu. Ibu cantik."

"Ibu mah udah tua, kamu masih muda, masih cantik. "

Velua hanya tersenyum menanggapi setelahnya Bu Wati pamit untuk melayani pelanggan yang lain.

"Gak usah geer lo, lo sama Bu Wati cakepan Bu Wati," ujar Carka menggoda Velua.

"Gak nanya," balasnya ketus.

Keduanya makan dengan hening sesekali mata Velua berpendar melihat sekelilingnya yang cukup ramai sampai atensinya teralih mendengar suara ukulele yang dipetik bersamaan suara nyanyian yang terdengar. Dia menatap seorang anak kecil yang mungkin seumuran adiknya atau bisa jadi lebih muda dengan pakaian sedikit lusuh tengah bernyanyi pada pembeli di sana.

Miris. Batinnya merasa iba melihat beberapa pelanggan justru mengusirnya dan si anak terlihat sabar dan masih tersenyum tanpa merasa tersinggung sekalipun, sesekali tangannya menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, tampak sekali anak itu sudah kelelahan. Hingga genangan kecil muncul membuat pandangannya kabur sesaat dan butiran bening turun tanpa ia sadari. Semua itu tak luput dari penglihatan Carka yang sejak tadi memandangnya.

"Hei," tegur Carka membuat Velua terkesiap. Gadis itu mengusap air matanya dan menatap Carka dengan mata merahnya juga bibir yang melengkung ke bawah.

Velua kembali memandang anak kecil itu yang berjalan ke arahnya.

"Permisi, Kak," pintanya dan mulai memetik ukulelenya. Velua menghembuskan napasnya berat mencoba tidak kembali menangis, dia membayangkan adiknya di posisi ini dan dia tidak sanggup, sungguh.

EGOIS : CARKA ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang