Carka merasa geram sendiri dengan kedua orang tua Kania yang asal main hakim sendiri juga dengan anak mereka yang malah mengambinghitamkan dirinya yang tidak tahu apa-apa.
Tanggung jawab? Geez, dia bahkan tidak melakukan apa pun apalagi menyentuh anak mereka jadi dia harus bertanggungjawab untuk hal apa?
"Astaghfirullah, Carka, kamu kenapa ini mukanya?" Sierra memekik kaget sekaligus panik melihat wajah lebam anaknya juga orang asing yang datang.
"Tau, tuh, ada gitu orang mukulin orang lain dengan gajenya," sindir Carka keki.
"Gaje kamu bilang? Setelah--"
"Tunggu, ada apa ini? Bapak ini siapa, ya?" Sierra mengerutkan alis kebingungan.
"Bun, siapa?"
Carka melotot. Ayahnya di rumah? Tamat sudah riwayatnya.
°
°
°
Carka memutar bola matanya kesal mendengar Wirya yang melebih-lebihkan cerita yang sudah salah sejak awal.
"Benar begitu, Carka?" tanya Keandra Zuleuw - ayah Carka.
"Gak, Yah. Ayah tau sendiri, kan Carka sukanya sama siapa. Carka juga gak mungkin segila itu buat hamilin anak orang sebelum nikah, Yah," terangnya.
"Halah, lalu yang terjadi dengan anak saya itu apa, hah? Itu semua karena sikap berandalan kamu itu," sela Wirya.
Sierra menatap marah. Ibu mana yang terima anaknya dijelek-jelekkan di depannya langsung. "Anda bisa menjaga sikap? Walaupun anak saya nakal, tapi dia tau bagaimana cara menjaga perempuan. Bisa jadi putri anda yang justru memfitnah anak saya."
Keandra memijat pangkal hidungnya. Dia baru pulang dari Filipina dan sudah disuguhi masalah seperti ini. "Senakal apa pun anak saya, saya percaya dia tidak akan melakukan hal bejat itu kepada putri anda."
Carka tersenyum tipis, setidaknya keluarganya masih mempercayai dirinya. Keandra, walaupun sangat sibuk dan jarang memperhatikan anaknya, tetapi pria itu selalu memberi kepercayaan untuk putra-putrinya yang membuat mereka seperti tidak kehilangan sosok ayah. Ayahnya tidak pernah marah atau menuntut mereka untuk menjadi apa yang ayahnya inginkan. Justru ayahnya selalu mendukung dan memberi fasilitas yang mumpuni selama itu hal positif untuk anaknya.
Ya, sudah seharusnya setiap orang tua seperti itu. Memberi kepercayaan dan mendukung anaknya dalam hal yang positif tentunya.
Kembali pada Wirya yang menggebrak meja tidak terima. "Lalu bagaimana dengan nasib putri saya? Masa depannya sudah rusak karena ulah anak kalian," teriaknya.
Keandra memberikan tatapan memperingati. "Anak saya tidak akan berbuat demikian, anda mengerti?"
"Maksud anda anak saya berbohong?"
Keandra mengenditkan bahu. "Mungkin saja."
"Saya tetap menuntut keadilan untuk putri saya. Kania tidak mungkin berbohong dan putra anda harus menikahi anak saya."
Keandra menghela napas lelah. "Manusia menyebalkan," gumamnya.
"Kenapa anda menuntut keadilan pada orang yang tidak bersalah? Anda ingin saya laporkan atas tuduhan pencemaran nama baik? Bisa jadi anda terlalu menekan anak anda hingga membuatnya tidak berani berkata yang sebenarnya. Hah ... untuk apa saya bicara panjang lebar, pintu keluar ada di sana silakan anda pergi."
"Saya tidak akan pergi sebelum Carka mau bertanggung jawab," kekeuh Wirya mengundang emosi ketiga orang lainnya.
"Carka," panggil Keandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
EGOIS : CARKA ✓
Teen Fiction[ COMPLETE ] Dia Carka Zuleuw. Playboy tingkat dewa adalah julukannya. Carka suka memberi harapan, tapi tidak dengan kepastian. Digombalin buat ngilangin gabut? Ya begitulah Carka. Dia pacaran tidak lebih dari seminggu. Namun, bagaimana bisa dia ber...
