"Kalian duluan aja ke kantin, gue mau mampir dulu ke toilet," ucap Velua saat mereka sedang berjalan di koridor.
"Ngapain?" Pertanyaan konyol yang seharusnya tidak usah dijawab, tapi ya begitulah orang Indonesia, suka gak jelas.
"Mau beli cilor sekalian tarik tunai, ngapa? Mau ikut lo?" jawab Velua agak ngegas.
Coslyn menepuk pundak Velua beberapa kali berniat menenangkan. "Slow, Vel, slow, ntar tensi lo naik lagi."
Setelah hampir seminggu berteman, tampaknya Coslyn mulai memperlihatkan wujud aslinya. Ya, mereka menganggap Coslyn adalah gadis lugu, polos, dan kalem jika dilihat dari wajahnya. Tetapi, nyatanya ... sama saja, gadis itu bahkan lebih ceplas-ceplos ketimbang Velua, tapi alhamdulillah bobroknya masih bisa dikendalikan.
"Tau, nih, suka banget ngegas. Digas balik ngamok." Si penyulut emosi nomor 2 Velua karena yang nomor 1 tetap kekasihnya, Carka Zuleuw.
"Dahlah, sono lo berdua duluan, pesenin gue bakso sama es teh, papay." Setelah mengatakan pesanannya, Velua ngacir dengan berlari kecil ke toilet.
° ° °
Velua mencuci tangannya selepas menyelesaikan urusan dengan si alam. Dia mengamati penampilannya lewat cermin toilet, barangkali ada yang aneh. Bukannya menemukan sesuatu yang aneh justru dirinya tersenyum lebar.
"Masyaallah, cakep banget gue. Ada, ya manusia secantik gue ini. Ckckck ... pantesan banyak bener yang ngejar-ngejar," monolognya sembari berpose layaknya model majalah.
"Ini nih waktu di dalam rahim emak gue ngidamnya permata jadinya yang lahir cem rontokan serbuk berlian," lanjutnya masih membanggakan diri. Ya, itu lebih baik daripada dia banyak insecure, dia membuktikan bahwa dirinya merupakan ciri-ciri dari manusia body image positive.
Insecure tak masalah asal itu membawa kita pada perubahan baik, tapi kalau insecure berlebih dan terus membanding-bandingkan diri alangkah baiknya jangan, diberi kesempurnaan tanpa kecacatan harusnya sudah bersyukur sekali, 'kan?
Kembali pada Velua yang melunturkan senyumnya dan mendengus. "Kenapa coba dulu gue khilaf nerima Carka? Padahal, kan, gue pengennya Jaemin. Tapi, yaudahlah, gue pacaran sama Carka kalau nikahnya sama Jaemin, sijeuni bisa apa?" Velua tertawa sendiri. Gadis itu merogoh saku roknya saat merasakan ponselnya bergetar, melihat nama Berlian tertera di sana membuatnya segera menggeser tombol hijau.
"Dengan Kaneira Juvelua titisan Dewi Aphrodite di sini? Ada yang bisa jodohnya Jaemin bantu?"
"Jodohnya Jaemin mata lo njepat. Lo di toilet apa Gunung Semeru, hah? Mau gue balikin ni bakso ke penjualnya?"
Velua meringis, sedikit menjauhkan ponselnya saat Berlian mengomel. "Iya-iya, gue otw nih dengan kecepatan turbo, bye." Velua memutuskan panggilan sepihak. Melihat cermin sebentar dan merapikan rambutnya, padahal sudah rapi sebelum akhirnya meninggalkan toilet. Untung sepi.
° ° °
Saat sampai di meja yang ditempati kedua temannya ternyata di sana juga ada sesosok makhluk yang bergelar kekasihnya. Kerutan tipis terbentuk di dahi Velua, sedikit heran melihat Carka bergabung dengannya, melirik kedua temannya yang satu tampak santai dan satunya tampak tak peduli.
"Tumben, Ka?"
Carka yang memang sejak tadi menunggu Velua hanya tersenyum. "Penuh."
Velua menganggukkan kepalanya mengerti. Mengambil duduk di samping Coslyn dan berhadapan dengan Carka. Kursi kantin ini memang muat untuk 6 orang di setiap mejanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EGOIS : CARKA ✓
Fiksi Remaja[ COMPLETE ] Dia Carka Zuleuw. Playboy tingkat dewa adalah julukannya. Carka suka memberi harapan, tapi tidak dengan kepastian. Digombalin buat ngilangin gabut? Ya begitulah Carka. Dia pacaran tidak lebih dari seminggu. Namun, bagaimana bisa dia ber...
