32. Give Up.

8K 277 3
                                        

Mereka semua membeku untuk sesaat dengan tatapan tak percaya bahkan Velua merasa kekuatan tubuhnya seperti diambil paksa hingga membuatnya limbung dan mundur beberapa langkah mencari sesuatu untuk menopang dirinya. Coslyn yang berada dekat dengan Velua segera memeluk bahu temannya yang sudah lemas.

Hamil? Kania hamil? Tapi, anak siapa?

Segala pertanyaan muncul di benak mereka. Selama ini Kania tidak pernah menunjukkan perubahan yang berarti yang dapat membuat mereka curiga. Di luar pun kegiatannya selalu dipantau oleh orang tuanya. Jadi, bagaimana bisa?

Risa bahkan sempat pingsan tepat setelah dokter menyampaikan hal yang mengejutkan mereka dan sudah ditangani. Terlalu syok membuat tekanan darahnya turun dan membuatnya pingsan.

Tidak mereka sangka, salah satu kebanggaan mereka telah menjadi aib bagi keluarga besar. Sekarang ini Risa duduk di sofa ruangan sedang menangis dan Rania berusaha menenangkannya.

Tatapan mereka tertuju pada satu titik, Kania. Gadis yang biasanya mendongakkan kepala sekarang sedang menunduk dengan kedua tangannya yang meremat selimut rumah sakit.

Wirya-ayah Kania berjalan dengan penuh amarah. "Papa kira kami sudah sangat ketat menjaga pergaulan kamu Kania. Kamu itu anak semata wayang Papa, harusnya kamu bisa menjaga sikap dan menjadi kebanggaan keluarga yang mengungguli sepupu-sepupu kamu. Tapi, papa nggak nyangka .... Papa kecewa sama kamu, Kania, putri kecil papa sudah mencoreng nama baik keluarga. Sekarang bilang sama papa, siapa ayah dari yang kamu kandung?"

Semua orang di dalam ruangan itu pun tahu jika Wirya sedang berusaha mengendalikan diri agar tidak menumpahkan semua amarahnya. Marah bercampur kecewa tentu dirasakan mereka apalagi Kania adalah anak tunggal mereka.

Tapi, Kania tetap bungkam. Hanya isakannya yang terdengar mengisi keheningan.

"Kania!" Wirya memegang kedua bahu Kania agar putrinya itu mendongak.

"Pa ... sakit," lirih Kania merasa ayahnya semakin mencengkram bahunya.

"Sakit? Kamu bilang sakit? INI BAHKAN NGGAK SEBERAPA DENGAN RASA SAKIT HATI KAMI SAAT TAU KAMU HAMIL DI LUAR NIKAH, KANIA." Hilang sudah kesabaran Wirya, dia menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Dengan wajah memerah dan napas memburu dia menatap putrinya murka membuat Abyan harus memisahkan keduanya agar Wirya tidak semakin lepas kendali dan melakukan sesuatu yang buruk.

"LEPAS, ABYAN. ANAK INI HARUS DIBERI PELAJARAN. DIA SUDAH MEMALUKAN DAN MENJADI AIB KELUARGA," teriak Wirya tak melepaskan pandangan dari Kania membuat gadis itu bergetar ketakutan dan beringsut mundur menjauhi ayahnya.

"Tapi nggak dengan cara seperti itu, Wirya. Kamu justru membuat Kania takut dan semakin nggak mau bicara. Kamu sadar, hah?"

Wirya ganti menatap kakaknya dengan sorot yang sama. "Kamu nggak ngerti, Abyan, kamu nggak ngerti karena kamu nggak ada di posisi saya!"

"Kamu jangan lupa, saya juga punya seorang putri, Wirya. Saya tau bagaimana rasanya," balas Abyan dengan penuh penekanan.

Wirya memberontak berusaha melepaskan kuncian Abyan. Sedangkan Risa semakin histeris menangis dan Velua yang masih di ambang antara percaya dan tidak percaya.

"Lepas, saya akan mencoba bicara baik-baik dengan anak itu."

Abyan berusaha percaya dan melepaskan Wirya yang membuat pria itu menghampiri ranjang anaknya. "Sekarang bilang sama papa siapa yang sudah hamilin kamu?" tanyanya lebih lembut.

Semua yang di ruangan merasa seperti sport jantung. Manuluver menepuk bahu Arexon untuk mengode keluar, ini bukan ranah mereka untuk ikut campur. Tadinya dia juga ingin menarik kekasihnya, tapi dia rasa Coslyn perlu untuk menenangkan temannya.

EGOIS : CARKA ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang