SMA Gentara sedikit heboh dengan kabar datangnya murid pindahan. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan, intinya hampir semua murid SMA'NTARA grusak-grusuk sejak pagi.
"Katanya murid pindahan itu cakep, cuy."
"cowok?"
"Cewek."
"Beuh, sabi lha gue gebet."
"Gebet matamu. Inget bini di rumah."
"Sekate-kate lu. Gue ga punya bini, adanya istri."
"Sama aja, Udin."
"Hilih, cantikkan gue pasti."
"Ngaca lo! Muka disemen aja bangga."
"Halah, cantik si Ghea, bebep gue."
Itu merupakan sepenggal suara hati mereka yang harus terhenti karena bunyi bel pertanda pelajaran akan segera dimulai sudah berbunyi. Mereka mulai masuk kelas masing-masing.
Sedangkan di halaman depan, gadis yang baru turun dari taksi itu celingukan. Dia tidak tahu letak ruang kepsek, ingin bertanya, tapi koridor seperti tak berpenghuni.
"Tanya siapa, ya? Di google ada gak ya?" gumamnya dengan mata berpendar ke sana ke mari.
Baru saja dia mengetikkan beberapa kata di laman pencarian bahunya ditepuk seseorang dan membuatnya menoleh.
"Kamu siswi baru itu?"
"Iya, Bu," jawabnya kikuk.
"Saya Faizza. Kebetulan hari ini saya yang piket, mau ke ruang kepsek? Yuk, saya antar."
Gadis itu mengikuti Bu Izza sembari menatap sekitarnya. Ternyata SMA'NTARA lebih luas dari yang ia kira.
Bu Izza yang sempat menoleh tersenyum. "Nanti pas jam istirahat kamu bisa keliling sekolah. Ajak seseorang atau saya buat temani, ya," pintanya.
"Eh, iya, Bu."
Keduanya sampai di ruang kepsek. Bu Izza sedikit menyingkir. "Nah, ini ruangannya. Kalau begitu ibu permisi. Mau patroli lagi, biasanya pada bolos jam segini."
"Iya, Bu. Terima kasih bantuannya."
。。。
Suasana kelas XI MIPA-2 seperti biasa, tenang. Namun, ada sedikit keberisikan yang ditimbulkan dari beberapa siswa yang merasa bosan. Mendengar sang pengajar meminta izin keluar sebentar semua spontan menegakkan tubuh dan menghirup udara sebanyaknya seolah baru bebas.
"Masih nggak habis thinking gue, kenapa gue masuk IPA padahal otak gue jalurnya IPS," celetuk Radit yang duduk di belakang.
Alin menimpali, "Sama, gue juga. Mana masuknya MIPA-2 lagi."
"Jodoh ni, Lin, kita," balas Radit menggoda dengan memainkan alisnya.
Alin bergidik, mengetuk keningnya beberapa kali lalu berganti mengetuk mejanya dengan mulut komat-kamit. "Amit-amit dedemit gue jodoh ama kang ngibul."
"Tapi cintaku padamu bukan dusta, Lin." Radit memberikan flying kiss pada Alin yang duduk beberapa bangku di depannya.
"Iyuh, jijay."
"Tapi kenapa, ya orang jalan aja dihitung perpindahannya?" Loli menopang dagu menatap teman-temannya meminta jawaban.
"Yee, itu mah mending. Timbang suruh ngitung kecepatan angin? Mending angin biasa, kalau tornado? Bukannya dapet jawaban, kelar idup lo yang ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
EGOIS : CARKA ✓
Genç Kurgu[ COMPLETE ] Dia Carka Zuleuw. Playboy tingkat dewa adalah julukannya. Carka suka memberi harapan, tapi tidak dengan kepastian. Digombalin buat ngilangin gabut? Ya begitulah Carka. Dia pacaran tidak lebih dari seminggu. Namun, bagaimana bisa dia ber...
