"LEON, SINI DULU, NAK, MAMI MINTA TOLONG." Teriakan dari pemegang tahta tertinggi keluarga Juanka itu membuat Leon yang sedang bermalas-malasan akhirnya merelakan diri untuk turun dari kasur menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur.
"Ada apa, Mi?"
Roseline berbalik menghampiri Leon yang sedang bersender di dinding. "Kamu masih inget rumahnya tantemu 'kan?"
Leon mengangguk malas. "Masih."
Roselin menjentikkan jarinya. "Nah, kasih ini ke rumahnya, ya? Dia belum tau, kan kalau kita pindah ke sini lagi."
Leon mengintip paperbag yang berisi beberapa kue buatan ibunya. "Buat apa, sih, Mi? Tinggal telpon, kan bisa."
Roseline menatap anak semata wayangnya sewot. "Intinya kamu mau atau nggak?"
"Mana bisa Leon nolak."
"Nah, bagus. Sekarang cuci muka terus pergi sana, kucel banget kayak gelandangan."
"Leon bilangin daddy, nih?"
"Bilang aja, daddy kamu, kan bucin banget sama mami." Roseline mengibaskan rambutnya ke arah Leon sembari berbalik membuat Leon harus menutup mata agar tidak kecolok.
Tidak lama Leon kembali turun untuk berpamitan. "Mi, Leon pergi dulu."
Roseline yang sedang menonton tv mendongak menatap anaknya heran. "Kamu mau silaturahmi atau ngelayat, Yon? Masa item semua?"
"Baju Leon ya adanya ini, Mami. Kalau nggak item ya abu-abu."
Roseline berdecak mendengar penuturan anaknya. "Ngebosenin. Nanti kita ke mall belanja, ya? Kita beli baju warna pink, koleksimu terlalu suram."
Leon menahan diri untuk tidak mendelik. "Nggak-nggak, ya kali pink, Mi?"
"Orang ganteng mau pake warna apa aja tetep ganteng tau, Yon," jelas Roseline menyakinkan.
"Sebahagia Mami aja." Setelah menyalami Roseline dan mengucap salam, Leon melajukan kuda besinya ke rumah sang tante.
°
°
°
Carka meneguk minumannya hingga sisa setengah kemudian menyeka keringatnya yang membanjiri tubuh dengan handuk kecil yang ia bawa. Sore ini dia baru saja selesai berlatih dan melatih sekaligus.
Di rasa cukup, Carka mengemas barang-barangnya dan menenteng tasnya untuk pulang. Sambil memakai jaket, Carka berpamitan pada teman latihannya. "Bang, gue duluan, ya."
Raka yang merasa terpanggil menoleh dan mengangguk. "Iya, hati-hati."
Carka mengacungkan jempolnya kemudian menaiki motornya, tapi tidak segera menjalankannya.
Mine♡
Online
K.Juvelua:
Ka
Ka
Ka
Udah selesai latian belom?
CarkaZul:
Baru kelar. Kenapa?
Mau nitip sesuatu?
K.Juvelua:
Nggak, sih. Gabut doang
Sendirian di home
CarkaZul:
Lah, emang pada ke mana?
K.Juvelua:
Nggak tau
Bilangnya, sih ke rumah sodara lagi
Ntar malem pulang
CarkaZul:
Mau ke rumah gue gak?
Gue jemput.
K.Juvelua:
Tapi mau maghrib ini bentar lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
EGOIS : CARKA ✓
Roman pour Adolescents[ COMPLETE ] Dia Carka Zuleuw. Playboy tingkat dewa adalah julukannya. Carka suka memberi harapan, tapi tidak dengan kepastian. Digombalin buat ngilangin gabut? Ya begitulah Carka. Dia pacaran tidak lebih dari seminggu. Namun, bagaimana bisa dia ber...
