Oji dan Felix melakukan tugasnya dengan cukup baik. Sejauh ini Kania tidak merasa curiga karena diikuti. Ini sudah 8 hari sejak mereka menjadi penguntit dan tidak menemukan apa pun. Yang Kania lakukan hanya berangkat sekolah, pulang ke rumah, dan malamnya tidak keluar sama sekali membuat mereka berdua seperti mendapat jalan buntu.
"Eh, Lix, ini bukan jalan yang biasa dia lewatin, kan?" tanya Oji berbisik.
Felix hanya mengangguk. Matanya berpendar curiga dan waspada dengan sekitar hingga mereka sampai di gang kecil. Keduanya memberi jarak yang tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk mendengarkan.
"Rekam, goblok." Felix menempeleng kepala Oji yang malah plonga-plongo.
Oji langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian itu. Setelah mendapatkan hal yang cukup mereka pergi dengan sangat hati-hati berusaha tidak menimbulkan suara, ini bukan sinetron jadi mereka tidak bisa melarikan diri sebaik itu.
Keduanya istirahat di sebuah taman terlebih dahulu sambil menenggak minumannya.
"Gila, tremor badan gue," keluh Oji.
"Lebay," cerca Felix.
Detective Konon
Carka, Philips, +62, +62, Anda.
DanielOji gtg:
Kita kumpul, gue sama Felix nemu info baru
CarkaZul:
Oke
CoslynM:
2^
BerlianThesia:
3^
FelixAq:
4^
DanielOji gtg:
Oaaa ... :)
_______________
"Apa yang kalian dapet?" tanya Carka.
Oji menunjukkan video yang sudah dia rekam.
"Dia mau kasih tanggung jawab?" Mereka tahu itu bukan suara Kania, tapi seorang lelaki.
Tidak ada sahutan.
"Udah gue bilang lo harus gugurin kandungan lo itu."
"Gue gak mau."
"Cih, lo serius mau porotin keluarga itu dengan alibi lo hamil anak mereka? Ngotak, dodol. Mereka kaya, mereka cerdik, mereka bisa nyewa orang buat celakain lo bahkan bongkar kebusukan lo."
Hanya sepenggal, tapi cukup membuat darah Carka mendidih.
"Gue gak tau siapa cowok itu karena dia pake serba item," jelas Felix.
"Selama di rumah gue cuma denger cacian keluarganya, dia nangis, dan tiap malem dia nyebut nama Reano (?)" sambung Berlian dengan sedikit tidak yakin di akhir kalimatnya.
Alis Carka bertaut kemudian membuka cepat map berisi data Kania yang sudah ia kumpulkan. Tangannya membolak-balik kertas itu hingga sampai di data seseorang. "Reano Calisto?"
"Siapa dia?" tanya Coslyn.
"Temen bimbel Kania, gak terlalu deket cuma kadang mereka terlibat kegiatan yang sama. Atau jangan-jangan dia yang udah hamilin Kania?" Carka menatap teman-temannya.
"Kemungkinan 90%," jawab Berlian.
°
°
°
Carka melangkah dengan berat memasuki kamarnya. Permasalahan mereka sudah teratasi meski dengan banyak drama dari Kania juga Rean yang sempat tidak ingin bertanggungjawab. Dugaan mereka benar, Rean adalah orang yang sudah menghamili Kania karena cowok itu mabuk.
Carka menutup pintu dengan kaki kirinya dan berjalan lunglai. Dia membanting dirinya di kasur dalam keadaan terlentang.
"Hah ... Vel, lo di mana, sih? Gue kangen banget sama lo. Sayang, masalah ini udah beres, cowok itu udah gue hajar tadi karena dia, kan gue hampir nikah sama cewek yang gak gue cinta."
Semenjak Velua pergi Carka menjadi lebih sering berbicara sendiri lalu tertawa dan menangis kemudian. Gila, ya?
"Gue harus cari lo ke mana, Sayang?"
Dia tertawa. Menertawakan dirinya dan kebodohannya sendiri. "Andai dulu gue gak jadi playboy, andai dulu gue setia sama lo pasti semua ini gak bakal terjadi, iya 'kan? Andai dulu gue gak sok-sokan pasti kita lagi main berdua 'kan, jalan-jalan berdua, lo ngerengek ke gue buat ketemu Jaemin."
Carka bangkit dan duduk. Dia menatap sendu 2 tiket ke Korea yang sudah tidak lagi memiliki arti. Harusnya liburan ini bisa dia gunakan untuk membuat banyak momen dengan Velua di Negeri Gingseng sana.
Carka tertegun sejenak. "Vel, atau jangan-jangan lo pergi ke Korea?"
°
°
°
Carka termenung di balkon kamarnya dengan rokok terselip di bibir juga diapit oleh kedua jarinya. Dugaan jika Velua berada di Korea adalah salah besar. Kekasihnya tidak ada di sana. Kekasih? Apa sekarang mereka masih sepasang kekasih? Tentu saja, tidak ada kata putus di antara keduanya.
Dia sudah mencari Velua ke mana-mana. Dia sampai rela mengemis pada ayahnya agar mau membantunya mencari Velua.
Kenangan demi kenangan mereka berputar dengan sendiri di benak Carka hingga membuat air mata cowok itu keluar tanpa aba-aba. Ketika seorang pria sampai bisa mengeluarkan air matanya untuk seorang wanita, bukankah itu tandanya dia benar-benar tulus?
Carka membuang putung rokoknya yang sudah ia injak. Dia mengelus foto Velua di ponselnya. "Vel ... Veve, ayo balik, gak kangen sama gue? Vel, maafin gue ... Maaf karena selalu bikin lo sakit hati. Lo boleh hukum gue apa pun asal jangan pergi. Jangan tinggalin gue, Vel."
"Carka tanpa Velua itu hampa. Gue udah dapet rasa sakitnya, tapi kenapa dengan cara lo pergi dari sisi gue?"
°
°
°
Carka membanting apa pun di kamarnya lalu meraung keras. Sekeras apa pun tidak akan ada yang mendengarnya. Dia baru pulang setelah kembali mencari Velua, namun satu petunjuk pun tidak ia dapatkan.
Dia menjatuhkan diri di dinginnya lantai kamar. Memeluk lututnya lantas menangis. Bayang-bayang Velua pergi untuk selamanya membuat dia nyaris gila. Sesak itu melingkupi tubuhnya hingga membuat dia sulit untuk bernapas. Rasa bersalah itu menggerogoti kepercayaan dirinya bahwa Velua akan kembali lagi ke sisinya.
"Sayang, pulang."
"Velua, balik, yuk kita ke Korea, ya."
"Vel, apa yang harus gue lakuin biar lo kembali? Gue udah nyesel sekarang. Gue nyesel, gue nyesel Velua."
Hingga lama kelamaan napasnya menjadi teratur, dia tertidur dengan posisi yang sama.
° ° °
Gatau deh makin buntu, makin ngawur, bye.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
EGOIS : CARKA ✓
Teen Fiction[ COMPLETE ] Dia Carka Zuleuw. Playboy tingkat dewa adalah julukannya. Carka suka memberi harapan, tapi tidak dengan kepastian. Digombalin buat ngilangin gabut? Ya begitulah Carka. Dia pacaran tidak lebih dari seminggu. Namun, bagaimana bisa dia ber...
