Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Extra Part I

845 25 0
                                        

Hai, siapa kangen cerita ini? Wkwk, sebenernya aku kangen jadi buat part ini karena pengen aja.

***

Ternyata banyak hal telah berubah ketika Velua menginjakkan kakinya ke tanah kelahirannya setelah mengurus banyak kepindahan mengenai pendidikannya. Rasa bersalah menyusup dan menikam tepat ke ulu hatinya ketika menyaksikan adiknya, Fillo telah tumbuh lebih tinggi sejak pertemuan terakhir mereka.

Keegoisannya yang membuat sang adik harus ikut menanggung banyak beban setelah kepergiannya begitu membuat Ia malu untuk berhadapan dengan Fillo. Bagaimana mungkin ada kakak seegois dirinya? Bagaimana mungkin ada orang setega dirinya? Dan bagaimana mungkin ada orang yang begitu tak memiliki perasaan seperti dirinya? Banyak pertanyaan berkecamuk di benak Velua untuk menyalahkan dirinya sendiri yang mungkin akan terus Ia bawa hingga mati.

Kepalan tangannya mengerat seiring dengan gemuruh jantungnya kala menyaksikan adiknya berdiri menjulang di depannya dengan senyuman. Perasaannya campur aduk hingga membuat lidahnya kelu dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata sekadar untuk menyapa selain matanya yang berkaca-kaca.

"Kakak gak kangen aku?" Fillo menyambutnya. Tanpa amarah dan hanya senyuman yang Ia perlihatkan. Anak sekecil itu, yang baru menapaki bangku SMA harus menjadi korban keegoisan orang dewasa.

Ada banyak hal yang ingin Velua katakan, tapi tak mampu Ia utarakan dan Fillo mengerti. Untuk itu Ia maju dan mendekap erat sang kakak yang amat Ia rindukan.

"Selamat datang, Kak."

Tangis Velua pecah dalam pelukan itu. "Maaf, maaf, maafin kakak, Fill," racau Velua.

Fillo mengelus punggung Velua yang bergetar hebat. "Udah, gak apa. Semua udah terjadi, aku seneng kakak baik-baik aja. Jangan sedih lagi, semua udah selesai."

Velua tak sanggup menghentikan aliran sungai kecil di matanya. Tangisnya semakin menjadi untuk meluapkan segala perasaan rindu dan sesalnya. Fillo masih setia memeluk sang kakak dan menenangkan, bohong jika dia merasa biasa aja. Setiap hari Ia selalu memohon agar kakaknya hidup dengan layak dan pulang dalam keadaan baik. Setiap hari Ia selalu merecoki Berlian untuk sekadar menanyakan kabar sang kakak. Ia mengerti kakaknya butuh waktu untuk sembuh dan untuk itu dia pun berusaha tetap kuat agar mampu menyambut kakaknya.

Dan hari ini tiba, dia dapat kembali meraih sang kakak. Memeluk sosok yang selalu ada untuknya kala peran orang tua tak Ia dapatkan. Mendekap tubuh yang selalu menjadi garda terdepan ketika ada yang berniat menyakitinya.

Kak, kali ini biar aku yang jaga kakak, ya, ungkap lirih batinnya semakin memeluk erat Velua yang sudah lebih tenang. Matanya yang semula terpejam meresapi kerinduan terbuka dan bersibobrok dengan kehadiran Carka yang sedari tadi terdiam menatap interaksi keduanya.

Fillo pernah marah pada pria itu. Pria yang memberi banyak luka pada kakak tersayangnya, namun pada nyatanya pria itu juga yang menjadi obatnya. Fillo benci fakta jika Carka memang memiliki sisi baik yang membuatnya tak benar-benar mampu membenci pria itu.

Seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. Menggumamkan kata terima kasih karena telah membawa kakaknya pulang yang dibalas Carka dengan anggukan serta senyum balasan.

Mereka bertiga masih ada di bandara internasional Soetta. Kemarin ketika Carka memberitahunya jika akan pulang bersama Velua, Fillo sama sekali tidak dapat tertidur nyenyak. Degup jantungnya terus berdetak cepat karena banyaknya kerinduan yang Ia pendam hingga membuatnya menangis dalam kamar itu.

Ruangan yang menjadi saksi seberapa banyak Ia menangisi keluarganya yang berantakan. Menjadi tempat satu-satunya Ia melepas topeng kuat yang Ia kenakan sepanjang hari. Tak jarang Ia merasa ingin menyerah karena tak sanggup. Tapi dia selalu percaya pada kakaknya, percaya jika sang kakak akan pulang dan kembali padanya.

Badai itu sudah terlewati dan pelanginya datang. Fillo melonggarkan pelukan dan menghapus sisa air mata Velua dengan pelan. Tangannya sedikit gemetar karena masih tak menyangka hari ini akan tiba.

"Kak, ayo pulang. Aku mau cerita banyak hal," ucapnya menggenggam tangan Velua erat dan menatap wajah sang kakak dengan lekat.

"Ayo, sekarang kakak udah pulang."

●●●

Hehehe segini aja dulu ya. Tes ombak, kalau rame mungkin aku buatin lagi?🫣 mana suara vote komennya

Jangan lupa baca ceritanya Berlian-Arexon di lapak sebelah dan AU aku di IG yap

Jangan lupa baca ceritanya Berlian-Arexon di lapak sebelah dan AU aku di IG yap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
EGOIS : CARKA ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang