Happy reading...
Alisya mengeluarkan semua bahan-bahan yang sudah di siapkan untuk membuat sesuatu yang Azka suruh. Dia mengeluarkan baso, otak-otak, tulang taleng, cabe rawit, cabe merah, bawang merah+putih.
Dia mengupas bawang dan memasukan nya ke blender bersamaan dengan cabe. Siang ini Azka tiba-tiba ingin membuat merecon, kata nya tergiur dengan penjual makanan di sebrang.
"Aku perlu bantu apa?" Tanya alisya. Yang kini tengah duduk di meja makan atas perintah suaminya.
"Kamu duduk aja di situ, biar aku aja yang masak."
"Beneran gak mau di bantu?" Tawar alisya.
Azka menggeleng," enggak perlu, sekali kali suami yang masak." Ucap nya dengan kekehan.
Akhirnya alisya hanya duduk di meja makan sambil memperhatikan suaminya yang sedang asik menumis bahan yang sudah di blender.
Alisya menopang dagu nya bosan sedari tadi hanya melihat Azka masak, "kenapa gak beli aja mas?"
"Mumpung hari ini libur dan kerjaan kantor juga udah beres. Aku juga males harus tidur seharian," jelas nya.
"Tap--"
Omongan alisya terhenti saat Azka sudah beres membuat merecon, dia membawa nampan yang berisi satu porsi mercon dan menaruh nya ke atas meja. "Cobain. Enak atau enggak?"
Alisya mencium aroma wangi yang keluar dari makanan yang berada di hadapannya,"aku coba ya."
Alisya mencoba makanan itu layak nya seperti chef. Dia tidak perlu menyikap cadar nya karena dia memang tidak memakainya. Tidak ada mbok dini dan pak Slamet di rumah, Azka sengaja meliburkan mereka berdua. Dan Azka pula yang meminta alisya untuk tidak perlu memakai cadar saat bersama nya.
"Gimana?" Tanya Azka penasaran.
Alisya memasang mimik wajah yang sulit di artikan. "Gimana?" Tanya Azka tak sabaran.
"Hmm. Eng-- enak,"
Mata Azka membola, "beneran?" Tanya nya memastikan.
"Iya. Enak kok, ni cobain." Ucap nya seraya menyuapi Azka.
Azka menerima suapan dari alisya. Mata nya membulat, memang tidak salah resep dari alisya. Makanan yang di buat nya ini memang enak. Mungkin akan laku keras jika ia berjualan.
"Enak?" Tanya alisya.
Azka mengangguk, "enak banget."
Bukannya mengambil satu porsi lagi untuk nya, Azka malah beranjak dari kursi dan kembali dengan tangan membawa sendok. "Kamu gak ngambil lagi? Ntar kalau kamu gak kenyang gimana?"
"Enggak perlu. Makan berdua aja biar romantis." Ucap nya tanpa ragu.
Refleks membuat pipi alisya merona, "ciee, pipi kamu kenapa Al?" Goda Azka.
"P-pipi k-kenapa apanya?" Tanya nya salah tingkah dan langsung menutup pipi nya dengan kedua tangan. Sejak kapan azka belajar menggombal.
"Kamu gak bisa bohong." Tukas nya.
"A-apaan sih." Ucap nya jadi risih karena terus di ganggu oleh Azka.
Azka tertawa puas melihat tingkah istrinya yang sedang malu. Membuat nya jadi sangat beruntung bisa memberikan kesempatan untuk hubungan mereka. Alisya tidak butuh satu Minggu untuk membuat nya jatuh hati. Lima hari saja sudah membuat nya jatuh hati. Cinta memang tak bisa di tebak.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum."
Alisya menoleh ke arah pintu Yang sekarang sedang di ketuk. Dia beranjak dari meja makan menuju kamar nya untuk mengambil cadar dan memakainya. Setelah selesai memakai cadar, alisya berjalan menuju ruang tamu dan bersiap membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam."
Kening alisya bertaut bingung saat mendapati seseorang yang sekarang sedang berdiri di depan rumah nya. Wanita itu memakai baju gamis berwarna hitam dengan motif bunga dan tas selempang berwarna krem yang senada dengan motif bajunya.
"Haylan." Gumam nya.
Bukan main, ternyata haylan pun merasakan kebingungan yang di alami alisya. Saat ini mereka sama-sama bingung.
"Siapa, Al?" Tanya azka.
AzKa menghampiri mereka berdua dan melelehkan suasana. Namun, apa yang Azka lihat kini malah sebalik nya. Bukan bingung yang ada di wajah nya, melinkan cemas. Namun apa yang Azka cemas kan hanya karena kehadiran gadis yang sekarang sedang tersenyum menyapa mereka berdua.
"Haylan. Mari masuk."
Bagaimana pun haylan memang sahabat nya. Dalam pikiran alisya Mungkin saja haylan tau alamat rumah nya dari Naira.
"Mau minum apa?" Tawar alisya.
Kini haylan sudah berada di ruang tamu rumah yang ia tuju.
"Gak perlu repot-repot. Aku cuma mampir sebentar, sekalian mau kasih ini," haylan mengeluarkan bingkisan yang berisi kotak musik bercorak kuno namun indah.
"Ini apa?"
"Anggap aja hadiah pernikahan kamu." Haylan tersenyum sambil menaruh bingkisan itu di atas meja tamu.
"Jadi ngerepotin." Alisya jadi tidak enak.
"Gak apa-apa, sekalian tanda ucapan maaf aku karena gak bisa Dateng waktu kamu nikah." Haylan masih tersenyum. Dia begitu ramah, hingga senyuman yang sahabat nya itu berikan tak bisa ia artikan.
"Kalau gitu es teh manis, mau gak?" Tanya alisya memaksa.
Haylan mengangguk, "ampas teh nya jangan di buang ya." Lanjut nya.
Alisya mengangguk mengerti. Sahabat nya satu ini memang punya kebiasaan meminum teh manis dengan ampas yang masih berada di gelas. Akhirnya alisya beranjak dari duduknya dan segera membuat kan teh untuk sahabat nya.
Tanpa alisya sadari, kepergiannya menyisakan haylan dan juga azka yang sekarang sedang duduk berhadapan. Mereka saling menatap hingga salah satunya memutuskan kontak terlebih dulu.
"Es teh manis datang."
Alisya tersenyum girang menghampiri mereka di ruang tamu dengan nampan berisi es teh manis yang ia buat. Ia memberikan minum itu pada haylan.
"Ini buat kamu."
Alisya menyodorkan es teh manis juga pada azka dengan potongan lemon di dalam nya. Ia tau bahwa sejak tadi suaminya belum minum setelah makan merecon, tapi kenapa Azka tidak merasa pedas. Apa ia sangat menyukai pedas atau ada hal lain?
Azka tersenyum sambil mengambil minum yang alisya berikan, sebelum...
"Jangan! Kamu alergi lemon!"
***
Jangan lupa vote and coment.
Salam rindu; pecinta halu 🦋
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
Short Story"aku ingin kamu berhenti melakukan pekerjaan selayaknya istri, Aku tidak ingin terbiasa dengan semua ini". Ucap Azka penuh penekanan "Aku tau kamu masih menunggu perempuan itu tapi, izinkan aku untuk membuat mu jatuh hati padaku hanya dalam satu Min...
