"kalau gitu saya pamit, Mbak"
Alisya mengaguk sambil tersenyum, "aku antar sampai pintu."
Mereka berjalan menghampiri pintu dan membuka kenop pintu.
"Astagfirullah. Kalian pada ngapain disini?."
Alisya terkejut saat melihat semua Karyawan nya sedang berkumpul mengerumuni pintu ruangan nya.
"Maaf mbak."
"Maaf mbak."
Mereka meminta maaf. Tanpa mau memperpanjang lagi, alisya menyuruh mereka melanjutkan pekerjaannya. Mereka pun menurut dan melangkah menuju tempat masing-masing.
"Hati-hati ya nai."
"Iya mbak. Sekali lagi terimakasih ya mbak."
Kemudian Naira pergi menyebrang jalan setelah berpamitan pada Alisya. Saat Naira sudah sampai di sebrang jalan, Naira kembali menoleh melihat alisya yang sedang melambaikan tangan padanya.
Saat setelah alisya berbalik dan memegang knop pintu, suara bising pun menyertai nya.
Tintin, tin. Tin
"NAIRA AWASS!!"
tepat setelah mendengar kegaduhan di belakang nya, alisya pun menoleh.
Mata nya terkejut saat melihat sosok di kenal nya sudah terkapar dijalan.
"Haylan!"
Dengan cepat alisya menghampiri mereka. Banyak kerumunan orang yang datang melihat kecelakaan yang baru saja terjadi.
"Ada apa ini?"
"Haylan bangun! Haylan."
Alisya langsung duduk di bawah tepat disamping kepala haylan dan mencoba menggoyang kan pipi haylan memberi kesadaran. Namun haylan sudah lebih dulu pingsan.
"Ka haylan mbak, hikss hikss."
"Tenang nai, tenang. Kita bawa dia kerumah sakit." Kata alisya.
Orang-orang yang berada disana pun ikut membatu alisya. Salah satu dari mereka sudah menelpon polisi dan juga ambulans.
"Tolong beri kami ruang." Kata perawat yang keluar dari ambulan.
Mereka membawa haylan menuju rumah sakit. Naira sudah masuk kedalam ambulan menemani haylan.
"Mbak Al, ada apa ini?" Tanya Anggi saat melihat alisya yang masuk kedalam ambulan.
"Tidak ada apa-apa, tolong jaga toko selama saya pergi ya."
"Baik mbak."
Ambulan yang membawa mereka pun akhirnya berangkat. Alisya melihat Naira yang begitu cemas melihat Kaka iparnya itu terluka.
"Hikss, ka haylan banguun hiks hiks" Naira menangis sesegukan sambil terus memegang tangan haylan.
Alisya memegang bahu Naira, dia mengangguk dengan mata yang sengaja terpejam seakan memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Sedangkan diambulan haylan sudah lebih dulu diberi infusan dan juga pendeteksi jantung. Setelah beberapa menit dijalan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit 'medica'.
"Ada apa ini?" Tanya dokter yang melihat mereka lebih dulu.
"Pasien mengalami benturan dikepala dok,"
"Bawa masuk ke ruang UGD" perintah dokter.
"Baik dok."
Mereka membawa haylan kedalam ruang UGD. Salah satu dokter yang tadi menghampiri mereka pun ikut masuk kedalam.
Semua suster sudah bolak-balik masuk kedalam namun tidak satupun yang memberitahu mereka kondisi haylan.
"Nai, aku mau ke toilet sebentar."
Alisya memegang bahu Naira menyadarkan nya dari lamunan.
Naira mendongak, "iya mbak."
"Insya Allah semua akan baik-baik saja, nai" kata alisya.
Ia pun pergi meninggalkan Naira yang masih menunggu di luar ruangan haylan. Naira begitu gelisah hingga dirinya tidak bisa berpikir jernih.
Sebelum alisya datang. Seorang pemuda dengan keluarga nya menghampiri Naira. Saat menyadari keberadaan seseorang, Naira pun mendongak.
"Kak Azzam."
Naira langsung memeluk Azzam. Namun Kaka nya masih terdiam.
"Hikss, ka Azzam. Mbak haylan hiks,"
Katanya sambil menunjuk kearah ruang UGD.
"Apa lagi rencana mu Naira?"
Mata Naira membulat. Dia melepaskan pelukannya, dan melihat kearah Kaka nya itu yang masih dengan posisi diam.
"Maksud Kaka apa?" Tanya nya.
"Ini termasuk rencana kamu, kan. Kapan kamu akan berubah nai!! Kapan?!" Azzam berteriak pada adiknya itu sambil memegangi kedua bahu Naira dengan kasar.
"Maksud Kaka apa? Aku ga ngerti."
"Jangan pura-pura tidak tau. Kamu yang jelas-jelas buat haylan masuk ke dalam rumah sakit. Jawab nai?! Jawab rencana apa yang kamu buat!"
Naira hanya terdiam. Sebegitu jahatnya kah dia didepan Kaka nya sendiri, hingga dia tidak bisa melihat apa yang terjadi disini.
"Maksud Kaka apa? Justru Ka haylan nyelamatin aku dar--"
"Naira cukup!!"
Azzam tak kuasa menahan amarahnya lagi, dia sudah siap dengan tangan yang akan menampar, Sebelum..
"AZZAM!"
Alisya sudah lebih dulu menahan tangan Azzam yang siap menampar Naira. Alisya melepaskan tangan Azzam dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan?! Ingat, Dia itu adik kamu Azzam." Kata nya dengan sedikit berteriak
"Adik? Adik aku sudah mati. Adik siapa yang kamu maksud."
Plakk.
Alisya menampar Azzam tepat di pipinya.
"Azzam, jaga omongan kamu! Dia masih adik kamu,"
"Adik mana yang mencelakakan Kaka iparnya sendiri, Al. Jelaskan apa itu yang disebut adik?!" Tanya nya dengan nada frustasi.
"Siapa yang mencelakakan siapa Azzam. Justru haylan mencoba menyelamatkan adik kamu dari mobil. Dia mendorong Naira untuk menyelamatkan nya, ini semua murni kecelakaan."
"Mana buktinya, Al. Mungkin saja dia yang merencanakan itu semua." Tebaknya asal.
"Aku buktinya. Aku melihat sendiri kejadian itu, Naira sudah berubah zam." Alisya mencoba meyakinkan Azzam.
Jelas dia sendiri yang melihat kejadian itu. Tepat dimatanya alisya melihat haylan yang berlari menyelamatkan Naira, dia melihat dibalik kaca tokonya. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat.
Haylan menerima tabrakan mobil itu, dia mendorong Naira dan kemudian mobil itu menghantam haylan hingga haylan terjatuh kejalan dan terbentur batu besar.
"Keluarga pasien?" Tanya suster yang keluar dari ruangan UGD.
Semua mata kini tertuju pada suster itu.
"Pasien sudah sadar." Info suster
Saat mendengar nya semua orang langsung masuk kedalam ruangan UGD. Azzam yang sudah berada didalam akhirnya menghampiri haylan dan membantunya berbaring lagi di kasur.
"Aku dimana?"
Kata haylan.
"Kamu dirumah sakit, nak." Jawab ibu haylan yang juga merasa khawatir.
Haylan masih berusaha untuk membuka matanya, rasa pusing di kepala nya tiba-tiba saja muncul. Dia terus memegang kepalanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Azzam.
Mata haylan kini menangkap sosok pria yang berada disampingnya sambil memegangi tangannya. Haylan yang merasa aneh pun langsung menarik tangan nya.
"Kamu siapa?"
***
Jeng jeng jeng...
Gimana, masih kuat lanjut ga?😁
Semoga masih sanggup ya.
.
.
.
Don't forget vote and comen nya ya readerss 🍀
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
Historia Corta"aku ingin kamu berhenti melakukan pekerjaan selayaknya istri, Aku tidak ingin terbiasa dengan semua ini". Ucap Azka penuh penekanan "Aku tau kamu masih menunggu perempuan itu tapi, izinkan aku untuk membuat mu jatuh hati padaku hanya dalam satu Min...
