keping 11; sang saksi bisu 🍁

667 28 0
                                        

Happy reading...

"Assalamualaikum."

Suara itu terdengar dari luar pintu. Azka segera beranjak dari sofa dan membuka pintu sambil melihat siapa tamu yang datang ini. Dan ternyata...

"Zam, kamu di sini."

Seorang pria dengan postur tubuh kekar yang ternyata Azzam itu tersenyum.

"Iya, saya bawa ini. Buat Al."

Dia menyodorkan bingkisan parsel buah, Azka menerima nya dengan senang hati. Melihat suaminya tak kunjung datang, alisya beranjak dari kursi menemui mereka.

"Azzam?"

Azzam tersenyum, pandangan nya menangkap tangan seseorang yang sekarang sedang bergelayut di Azka. Dia tersenyum, setidak nya dia bisa melepas alisya dengan tenang, meski ternyata diam-diam azzam merasakan luka yang sulit untuk di ucapkan.

"Kalau gitu saya pamit dulu, cuman mau kasih itu buat alisya. Saya dengar dari Tante ocha kalau Al hamil, aku turut senang ya. Semoga proses nya lancar."

"Aamiin"

"Aamiin" ucap mereka serempak, membuat mereka saling berpandangan dan tersenyum.

Sejak tadi mereka selalu berbicara dengan Rempak, atau jangan-jangan mereka akan memiliki anak kembar?.

***

Flashback on.

Alisya terbangun karena gerakan Azka yang tiba-tiba memeluknya, tangan nya melingkar indah di perutnya. Dia tersenyum saat melihat suaminya kini tengah tidur terlelap di samping nya.

"Mas?"

Tak ada pergerakan dari pemilik wajah yang sekarang sedang di pegang.

"Apa kamu mengenal haylan, sahabatku?"

Pertanyaan itu lolos begitu saja. Dia masih memikirkan kejadian tadi siang yang selalu mengganggunya. Mengetahui bahwa ternyata haylan adalah bagian dari masa lalu Azka yang sangat indah.

Azka berbalik membelakangi. Alisya menyikap selimut nya dan beranjak dari kasur. Berjalan ke arah lemari, membuka lemari itu dan menarik laci kecil yang ada di dalam nya.

"Apa dia yang kamu tunggu?"

Tangan nya kini sedang memegang foto haylan, benar. Foto haylan sahabatnya. Alisya tidak sengaja menemukan foto itu di dalam lemari Azka yang berada di kamar atas.

Naas memang mengetahui bahwa ternyata sahabatnya sendiri yang kini sedang di tunggu suaminya. Rasa hangat di mata kini keluar menjadi butiran air. Dada nya sesak mengingat kejadian yang kini masih menghantuinya.

"Kamu kuat Al, Allah tidak pernah memberi cobaan di luar kemampuan hambanya."

Alisya mengelus perutnya sambil tersenyum. Dia harus kuat demi seseorang yang kini sedang berkembang di dalam rahim nya.

"Aku takut mas, jika kamu mengetahui anak ini. Aku takut jika hatimu masih menunggu haylan, dan berakhir dengan meninggalkan ku."

Kini matanya menatap nanar suaminya yang masih tertidur. Dia mengusap pipi yang basah, membuat nya sekering mungkin agar tidak terlihat. Dia hanya ingin terlihat kuat, hanya itu.

Tok. Tok. Tok.

Mata alisya membulat kaget saat mendengar suara ketukan pintu. Dia menoleh ke arah suaminya, dia masih tertidur. Dengan cepat alisya memasukkan foto itu ke dalam sakunya dan berniat untuk mengembalikan nya ke tempat semula.

"Assalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam, masuk mbok"

Alisya membukakan pintu, mata yang tadi terlihat lesu kini memancar kan kebahagiaan.

"Lucu banget,." Kata nya heboh.

Dia mengambil kucing yang berada di pangkuan mbok dini, kucing yang ia tunggu-tunggu untuk menemaninya di rumah seharian ini. Tidak mungkin kan dia harus terus ke butik dengan keadaan berbadan dua.

"Mau di bawa kemana,non?" Tanya mbok dini saya melihat kucing yang sekarang di bawa ke dapur.

"Mau di mandiin, mbok. Biar wangi hehe."

Alisya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur, dia Begitu antusias untuk memandikannya.  Bahkan dia sudah membeli sabun dan parfum dari jauh-jauh hari. Niat nya memang besar.

Setidak nya dengan keberadaan kucing ini, akan membuat alisya sedikit melupakan sakit nya.

Flashback off.

***

"Mas?"

Tidak ada pergerakan sama sekali, lelaki dengan mata terpejam itu sedang tertidur lelap.

"Mas Azka, aku pengen buah."

Alisya sedikit menggoyangkan bahu Azka dengan keras dari sebelumnya.

"Ada di kulkas, Al. " Ucap Azka masih dengan mata tertutup.

Alisya mendelik kesal, "mas, anak kamu pengen buah. Ini anak kamu loh yang mau, cepetan."

Azka mendengus dan berbalik menghadap alisya yang kini sedang memandangnya tajam. Dia mencoba duduk. "Ayo"

Alisya tersenyum, akhirnya suaminya itu menurut juga. Dia ingin sekali tertawa melihat Azka yang kini beranjak dari tempat tidur dengan mata berkedut.

Alisya menoleh ke arah jam dinding, jam 00.00 malam. Bukan salah nya jika anak nya ingin sesuatu kan?

"Kamu mau apa?" Tanya nya.

Alisya mengedar pandangan ke arah kulkas yang sekarang tengah di buka oleh suaminya itu.

"Pengen ini."

"Yang ini?" Tanya Azka memastikan.

Alisya mengangguk, anak nya memang sedang ingin stoberi. Mata Azka kini sudah tidak berkedut atau ngantuk lagi, dia sudah membasuh wajahnya dengan air.

"Pake coklat enak kek nya?" Goda alisya.

Azka menoleh, "oke."

Azka mengambil potongan coklat batang lalu memasukkan nya ke dalam tempat untuk ia lumer kan.

"Nih."

Azka menaruh coklat beserta stoberi di atas meja makan. Alisya mengikutinya, dan langsung duduk di kursi. Dia mengambil stoberi dan memasukkan nya ke dalam coklat.

"Enak?"

"Enak banget."

Melihat alisya memakannya dengan lahap membuatnya ingin makan juga.  Alisya menoleh, sadar jika suaminya sejak tadi memperhatikan. Ia mengambil stoberi dan mencelupkan ke dalam coklat lalu menyuapi nya.

Akhirnya mereka menghabiskan stoberi itu bersama-sama. Sebelum...

"Akhh.",

"Al kamu kenapa?"

Azka langsung berhambur memeluk istrinya yang sekarang sedang memegang perutnya yang sedikit sakit.

"Akhh, mas." Alisya mulai panik.

"Sabar, Al, kita kerumah sakit."

Melihat istrinya kesakitan membuatnya semakin khawatir. Di tambah alisya behkan merasa kan lemas di kakinya, dengan segara Azka menggendong nya dan membawa nya ke mobil untuk di periksa di rumah sakit.

"Mas sakitt."

***

Nah Lo, kenapa nih sama alisya?
Jangan-jangan...

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang