keping 1; Tamu spesial🍁

1.8K 60 0
                                        

Perempuan dengan busana gamis berwarna hitam berbalut jilbab berwarna cream, kini tengah sibuk membereskan potongan kain sisa menjahit karyawan-karyawan nya.
Perempuan itu kini mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang kini sudah terlihat rapi dari sebelum nya.

Alisya berjalan menuju jendela besar di depan, dan membuka gorden butiknya. Membuka pintu untuk keluar dan mengganti tulisan yang tergantung dengan 'closed' menjadi 'open'.

"pagi mbak,"alisya terlonjat kaget.

"Astagfirullah". Naira-pegawai nya sudah berada tepat di belakang

"Naira, bikin kaget aja?." Ucap alisya seraya memegang dadanya.

"Hehe, maaf mbak" ucap nya seraya masuk mengikuti alisya.

Alisya lebih memilih menjadi wanita mandiri ketimbang harus duduk manis di rumah sambil menunggu seseorang datang untuk melamar. Baginya pernikahan memang suatu ibadah, namun itu semua tidak akan terjadi tanpa ikhtiar juga.

"assalamualaikum"

"Wa'alaikumsalam". Satu persatu pegawai alisya sudah masuk dan bersiap untuk bekerja hari ini.

"Saya gak lama kok di sini, jadi semua tugas masih saya alihkan kepada Naira untuk saat ini " ucap nya sambil tersenyum.

"Mbak mau nikah?" Tanya Salah satu pegawai.

"Masih proses, doakan saja"

"Aamiin." Naira mengamini dengan kencang.

_ _ _

Menjadi seorang desainer adalah cita-cita alisya sejak usianya masih kanak-kanak. Dan dia bersyukur kini mamah dan papah nya mengizinkan untuk dirinya membuka butik, mungkin meski dalam usaha akan ada yang namanya jatuh-bangun. Dirinya harus terbiasa, karena itulah yang dinamakan proses.

Tok.tok.tok

Alisya membuka pintu "kamu udah siap?." Tanya oca-mamah alisya.

Alisya mengangguk.

Dirinya siap untuk dijodohkan kesekian kali, pertama dirinya menolak karena banyak nya penolakan terhadap dirinya. Namun, oca berhasil membuat anak semata wayangnya untuk mau dijodohkan lagi.

Kini alisya turun bersama oca yang mendampingi nya sambil memegang tangan sang anak.

"Ini anak saya, alisya. Alisya, ini Tante monik yang dulu tetangga kita saat masih di Bandung" aji memperkenalkan alisya dengan senyum yang mengembang.

Alisya kini menghampiri Monik dan mencium tangan sang Tante.

"Gimana kabarnya?" Monik memulai pembicaraan.

"Alhamdulillah, baik Tante" alisya mendongak dan menjawab saat ada pertanyaan yang terlontar untuknya, namun setelah menjawab alisya kembali menunduk.

Setelah lama berbincang mengenang masa muda mereka dulu, kini Monik memulai inti dari kedatangan nya.

"Tante kesini dengan maksud dan tujuan untuk membawa lamaran untuk anak Tante, namanya Azka anak sulung Tante" alisya menoleh saat Monik memperkenalkan anaknya.

"Dia lulusan sarjana jurusan manajemen, pernah kuliah di Kairo. Dan kini dia sedang sibuk mengerjakan proyek di kantor ayahnya" Monik mulai bercerita latar belakang sang anak.

"Mungkin Tante akan langsung bertanya saja mungkin ya?" Monik sedikit lebih tertawa untuk mencairkan suasana yang kini menjadi hening di ruang tamu.

"Apakah nak alisya bersedia menerima pinangan Azka?" Monik menunggu jawaban dari alisya.

Untuk beberapa saat alisya terdiam "insya Allah, jika Allah menginginkan hal ini. Alisya siap"

Ruang tamu kini mulai ceria Kembali. Monik membuka sebuah kotak cincin berwarna merah, terdapat cincin dengan berlian putih kecil di tengahnya. Monik memberikannya kepada Azka dan menyuruhnya untuk memasang kan cincin itu.

"Selamat pak pram, kita sudah resmi menjadi besan" ucap aji sambil memeluk dan menepuk pelan punggung Pramudya. Atau bisa di panggil pak Pram.

Semuanya memberikan selamat kepada Azka dan alisya yang saat ini sudah resmi bertunangan, dan hanya hitungan hari mereka akan resmi menjadi suami istri.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita makan malam dulu bersama sebelum pergi" tawar aji.

"Tidak bisa pak" ucap Pram menggantung kalimat nya.

Semua menatap heran pada Pram.

"Tidak bisa menolak maksudnya" Pram tertawa terbahak bahak tak percaya bahwa candaan nya membawa efek tegang.

"Ayah bisa saja" Monika menepuk pelan pundak sang suami.

semuanya beralih di meja makan persegi panjang dengan sepuluh kursi berwarna merah layaknya makan di restoran. Mereka sengaja memasak lebih karena mengetahui akan ada tamu yang datang.

Kini di meja makan sudah tersedia soto ayam, kentang balado, tempe Orek, sambal, mie berbumbu kecap dan tak lupa nasi putih.

"Wah.wah.wah. saya bisa sering kemari jika makannya seenak ini" canda Pram saat mencicipi soto ayam.

"Anda bisa saja. Alhamdulillah jika kalian semua suka" ucap aji dengan tawaan kecil namun hangat.

Semua memakan makanan mereka masing-masing dengan hikmat, dan kemudian tak selang Satu menit pembantu rumah tangga tak sengaja menjatuhkan sirup saat hendak menyiapkan hidangan kepada Azka.

"Maaf tuan" ucap Bu Kokom.

"Tidak apa-apa" Azka berdiri menggibaskan baju nya yang terkena air.

"Alisya bisa antar nak Azka, sepertinya noda nya tidak akan mudah hilang" aji memberi saran. Alisya mengangguk lalu berjalan di ikuti oleh azka

"Dari sini kamu hanya perlu lurus lalu belok kanan" alisya tiba-tiba berhenti melangkah membuat mereka sejajar.

Azka hanya mendelik heran.

"Tidak sebaiknya wanita berjalan di depan, karena takut sebagian dari pakaian nya terlihat oleh pria yang belum menjadi muhrim nya" jelas alisya. Azka mengangguk tanda mengerti.

"Kamu sangat mengerti batasan seorang wanita, aku akan sangat bersyukur jika wanita di luar sana bisa menirukan perilaku baik mu" Azka mulai berjalan.

Pipi alisya kini merona, apa yang membuat hati wanita ini yang kukuh menjadi rubuh hanya karena ucapan seorang pria yang kini belum dikenalnya. Alisya tersenyum, dan melangkah kan kakinya kembali ke ruang makan.

Apa alisya akan mudah menerima perjodohan ini?

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang