Selamat Membaca:)
***
Sore ini ayah dan kakaknya Danish akan ke kosan. Karena besok Danish akan wisuda. Bukan hanya Danish, tapi juga Teza, Joni, dan Sannan. Keempatnya serempak mendaftar wisuda dikloter ke-2. Pihak kampus mengadakan wisuda setahun 3 kali.
"Bokap udah sampe mana?" tanya Joni.
"Baru keluar tol, mau jemput nyokap?" Joni mengangguk. Tadi saat makan siang, Joni izin meminjam mobil Jefri untuk menjemput ibunya di bandara.
Sebenarnya Danish, Joni dan Teza meminta orang tua mereka masing-masing untuk menyewa hotel terdekat. Tapi ayahnya Danish dan Theo menolak, katanya ingin tau seperti apa kosan mereka.
Berbeda dengan ibunya Joni yang ingin reservasi hotel tapi hotel di sekitaran kampus sudah penuh semua. Sepertinya wisuda kali ini terlalu banyak anak rantau, membuat hotel-hotel pada penuh.
Sedangkan orang tua Sannan masih kebagian satu kamar hotel, untuk bermalam. Saat mendengar itu dua hari yang lalu, Joni langsung mengomel-omel tak jelas, karena ibunya tidak kebagian kamar.
"Kosan bakalan rame nih." Ujar Jefri.
"Ah Jef, harusnya kita bisa wisuda bareng nih."
Jefri tersenyum simpul. Kecewa dengan pihak fakultasnya. Sistem fakultasnya payah. Padahal bulan ini Jefri bisa sidang dan kemungkinan masih bisa mengejar wisuda bareng yang lain. Tapi seolah buta dan tuli, mereka menahan skripsi Jefri entah apa alasannya.
"Lama-lama gue bakar tuh jurusan." ujar Jefri kembali kesal.
Sannan mengelus pundak Jefri pelan. "Sabar, fakultas hukum emang gitu. Gue kira udah ada perubahan. Ternyata masih sama aja." ujar Sannan yang dulu juga merasakan hal yang sama.
***
Danish, Teza, Joni, dan Sannan. Masih rapih dengan toga yang masih bertengger di kepala mereka masing-masing. Keempatnya sibuk berfoto bersama, tidak mau melewatkan moment yang berharga ini.
"Bayar ya." Sagara sedari tadi tidak berhenti mengoceh karena Danish dan teman-temannya bolak-balik menyuruhnya menjadi fotografer dadakan.
"Iye kak, entah Danish yang bayar."
"Ck... Udah buruan, satu... Dua... Tiga."
Sagara melihat hasil jepretannya, lalu tersenyum. Mungkin Sagara kangen masa-masa itu.
Tadi orang tua mereka pamit, Ayahnya Danish dan Teza, juga ibunya Joni berniat untuk beristirahat di kosan. Sedangkan kedua orang tua Sannan langsung pulang.
Sagara yang sibuk melihat hasil jepretannya merasa ada berdiri di sebelahnya. Gadis dengan tinggi sebahunya berdiri tegak sambil memegang beberapa bucket bunga.
"Congrats." ujarnya singkat menatap Danish dan yang lain.
Danish menjadi orang pertama yang maju, sedari tadi dirinya menunggu gadis tersebut datang.
"Gue kira nggak dateng."
Bintang tersenyum, "Dateng kok, ngambil pesenan bunga dulu." ujarnya kemudian memberikan bucket bunga yang berbeda-beda ke mereka berempat.
"Wih kita dapet juga." ujar Joni senang.
"Iya bang, kasian lo kan nggak ada yang ngasih bunga." canda Bintang.
Mereka tertawa renyah mendengar candaan Bintang.
"Thank you loh Bin."
"Makasih Bintang."
Bintang mengangguk, tersenyum tipis ke arah Sannan yang baru saja mengucapkan terima kasih.
Bintang sama seperti Jefri yang kemungkinan akan wisuda di kloter ke-3. Berbeda kasus dengan Jefri, Bintang belum wisuda karena dosen pembimbingnya terlalu sulit. Selalu menuntut kesempurnaan dari skripsi Bintang. Bolak-balik revisi, bahkan Danish pernah memergoki Bintang sedang menangis di taman fakultas mereka.
***
Setelah wisuda kemarin, orang tua mereka sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Meninggalkan anak-anaknya yang belum ada niatan untuk meninggalkan kosan.
"Terlalu berat mau pergi dari sini." Ujar Joni. Dari mereka semua, Joni merupakan orang dengan tempat tinggal terjauh.
"Pindah aja Jon, Batam terlalu bagus buat lo." ejek Teza.
Joni memukul kepala Teza dengan ringan. Keenam penghuni kosan sedang berkumpul malam ini.
"Udah sini aja, nemenin kita-kita." ujar Theo sambil menunjuk Jefri dan juga Sannan.
"Maunya sih gitu. Tapi gue udah keterima kerja."
Mendengar ucapan Danish, mereka semua terkejut. Pasalnya tidak ada yang tau kapan Danish melamar pekerjaan.
"Kerja apa pak?"
"Personal Asisten."
"Anjir, sama siapa? Artis?"
Danish menggeleng, "Ada salah satu influencer. Mau nyoba dulu setahun, biar ada pengalaman aja."
"Orang mana?"
"Jakarta."
"Oh nggak jauh-jauh amatlah, ntar kalo gue kelar wisuda, kita main bareng Nish." Jefri si anak Jakarta langsung bersuara.
"Lampung-Jakarta nggak jauh-jauh amatlah kalo naik pesawat." ujar Teza bermaksud mengejek Joni. Teza orang Lampung, masih dekat dengan pulau Jawa.
Mereka semua tertawa, "Semuanya..."
Perhatian mereka teralihkan saat satu-satunya orang yang dari tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Makasih untuk kebersamaannya. Waktu kalian dateng ke kosan ini, jujur gue seneng banget. Karena penghuni kosan sebelumnya pada nggak asik." ujar Sannan yang lebih dulu menempati kosan yang mereka tempati sekarang ini.
"Gue bisa tau caranya ngadepin orang yang doyan emosian kayak Danish, orang yang salty kaya Theo, bisa sabar ngadepin becandaannya Teza, bisa tau kalo orang ganteng yang nyaris sempurna jaya Jefri juga ternyata banyak kurangnya, bisa sama-sama ngejaga kalian yang udah kayak adik buat gue sama Joni."
"Banyak banget ekspresi yang gue dapetin ketika bareng kalian."
Joni merangkul Sannan yang ada di sebelahnya. "Gue bakal kangen banget sama masakan lo mas."
Teza membuang mukanya ke arah lain. "Nggak usah nangis Za." ledek Danish.
"Anjing lo ya."
"Bakalan sepi banget sih, dulu kosan gue juga nggak asik. Untung bisa nemu kosan yang isinya orang-orang kayak kalian." Theo melanjutkan topik pembicaraan.
Danish berdiri, masuk ke kamar. Berapa detik kemudian, Danish kembali duduk bersama yang lain. Sambil ditangannya membawa 5 buah paperbag berukuran sedang.
Danish memberikan paperbag itu ke mereka satu persatu. "Hmm, agak ke cewek-cewek an, tapi nggak tau kenapa, gue pengin banget ngasih kalian ini. Ya itung-itung untuk ucapan perpisahanlah."
Mereka serentak membuka paperbag tersebut. Ada satu frame kecil yang isinya karikatur muka mereka ber-enam. Lalu satu album kecil berwarna biru muda.
Isinya adalah kumpulan foto-foto yang Danish ambil diam-diam. Foto dimana mereka makan bersama di ruang tengah, foto mereka bekerja bakti membersihkan kosan, dan masih banyak foto mereka yang lainnya.
"Sengaja masih ada beberapa lembar yang kosong, gue harap kita bisa sering ketemu, dan ngisi album itu sampe penuh. Kalo bisa beli lagi albumnya, ntar kita isi lagi foto yang banyak."
"Nish."
Theo bangkit, memeluk Danish. "Lo adek gue." ujar Theo yang memang dari dulu selalu menganggap Danish, Teza, dan Jefri adalah adiknya. Mengingat Theo adalah anak terakhir.
"Wahhh.. Nggak nyangka, lo bikin gue terharu." Jefri yang biasanya hanya diam bengong, kini menampilkan ekspresi lain. Terlihat Jefri menyeka air matanya yang sedikit keluar.
"Makasih Nish, karena barang yang lo kasih ini. Bikin gue makin sayang sama kalian." ujar Joni.
"Agak cewek? tapi hal kayak gini nggak mandang gender bro. Ini normal."
Setelahnya mereka semua larut dalam obrolan, seolah tidak ada lagi malam-malam lain seperti saat ini.
***
Jangan lupa vote dan comment:)
Terima kasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
General FictionMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)