Selamat Membaca:)
***
Danish, Bintang dan Yunis, ketiganya duduk di atas karpet bulu yang ada di kosan Danish. Menghindari mereka-mereka yang bermain ps, jadilah Danish mengajak keduanya untuk belajar di ruang tamu. Ruangan yang sangat jarang untuk menerima tamu.
"Emang rada beda sih hawa ruangan ini." ujar Yunis.
"Nah berarti emang bukan gue doang yang ngerasa." Bintang dari dulu tidak perna mau kalau disuruh duduk-duduk di ruanh tamu kosan Danish. Padahal hanya 10 menit, tapi Bintang tetap enggan.
"Mau pindah?" tawar Danish.
"Kemana?"
"Ya ke ruang tengah. Masa ke kamar gue."
"Nggak Nish, tambah bego gue kalo kesana." tolak Yunis. Pasalnya, kalau mereka ke ruang tengah, yang ada bukan belajar tapi bermain game. Yunis tidak bisa sama sekali melihat stik ps. kalau ada di depan mata, pasti khilaf untuk memainkannya.
Bintang membolak-balikkan catatannya, "Manajemen Media Massa UAS nya gimana dah? Gue sama sekali nggak ada catetannya." keluh Bintang.
"Kalo lo ada catetannya justru gue bingung sih Bin, masa lo mau nulis di tahun 1995 Pak Ari Ke Bali buat penelitian, dan bingung cari masjid dimana." ujar Yunis sambil mengingat cerita apalagi yang Pak Ari sampaikan ketika perkuliahan berlangsung.
Pak Ari adalah satu dari banyaknya dosen di jurusan mereka yang kalau mengajar bukannya memberi materi tapi malah bercerita tentang masa mudanya.
"Gilaaaa rajin banget." Ledek Teza saat baru keluar dari kamar.
Yunis mencibir ketika mendengar ledekan Teza, "Bacot anjing."
"Kalo liat Danish sama Bintang belajar mah nggak kaget lagi gue, lah ini si kampret gegayan banget lo." Teza menunjuk Yunis sambil menahan tawanya.
"Pergi lo sana." usir Yunis.
"Ngaca! Ini kosan gue anjir."
"Berisik!"
Keduanya langsung diam. Bintang yang menjadi satu-satunya perempuan di ruangan itu berasa paling berkuasa, karena teriakannya langsung membuat Teza dan Yunis diam seketika.
"Diem." tutur Danish pelan, ikut menenangkan keadaan. Padahal dirinya sudah menahan tawa karena ekspresi Teza dan Yunis yang langsung diam seketika.
"Ngamuk anjir." bisik Teza ke Yunis.Kemudian dirinya langsung bergabung dengan Joni dan Jefri di ruang tengah.
Yunis membolak-balikkan bukunya secara asal, teriakan Bintang membuat dirinya jadi salah tingkah sendiri, jadi bingung harus apa. "Eh btw judul lo udah acc ya?"
Danish menganggukkan kepalanya.
Judulnya sudah keluar sejak sebulan yang lalu, Danish benar-benar menargetkan kuliah hanya 3,5 tahun.
"Enak banget."
"Lo tuh buruan ngajuin." suruh Danish.
Yunis berdecak pelan, "Otak kita kan beda Nish. Situ enak kalo mikir langsung sat set sat set kaya windows 10."
Bintang tertawa mendengar keluhan Yunis. Padahal Yunis aslinya tidak bodoh, hanya saja rasa malas terlalu mendominasi.
Danish menunjuk belakang kepala Yunis, "Makanya otak yang udah dikasih tuhan tuh dipergunakan dengan baik.
Kebanyakan nonton yang aneh-aneh sih lo."
"Yang aneh-aneh tuh yang gimana sih pakkk?" tanya Yunis cengengesan.
"Tapi serius deh, sekali lo nonton gituan tuh otak lo bakalan ngecil. Apasih namanya itu lupa gue." ujar Bintang yang berusaha mengingat kalimat yang pernah ia baca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
Ficción GeneralMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)