Selamat Membaca:)
***
"Nggak kerasa udah mau UAS aja ya kita." celetuk Bintang di atas motor Theo yang dikendarai Danish. Danish benar-benar menepati janjinya menjemput Bintang untuk berangkat kuliah bareng.
"Semester 7 siap-siap aja." Danish memberikan peringatan. Karena kata Joni, semester akhir benar-benar susah diluar dugaan.
"Tenangg, gue udah nyiapin mental baja. Gue udah nyiapin segala macem skenario terburuk dalam urusan bimbingan dan lain-lain."
"Gaya lo. Di tatar sama Pak Jaya mampus lo." Pak Jaya adalah dosen pembimbing akademik Bintang.
"Kenapa gue kedapetan Pak Jaya sih." Keluh Bintang, mengingat Pak Jaya termasuk dosen yang susah untuk dihubungi dan masuk kedalam jajaran dosen killer.
"Mending mana, Pak Jaya apa Pak Bambang?"
"Nggak dua-duanya sih, Pak Jaya tuh to the point banget, kalo Pak Bambang udah killer kebanyakan nyombongin diri lagi."
"Ya karena ada yang disombongin."
Bintang tidak meladeni ucapan yang terakhir Danish lontarkan, karena mereka sudah sampai di fakultas mereka.
Brukk
"Kayaknya belakangan ini lo sering banget keselandung deh." celetuk Bintang. Lagi-lagi Danish kesandung dan hampir jatuh. Untung koridor tidak terlalu ramai siang ini.
Danish mengabaikan Bintang dan lebih memilih kembali berjalan.
"Eh iya, gimana liburan singkat lo?" tanya Bintang.
"Nggak liburan gue, cuma disuruh pulang aja kemaren tuh."
"Have fun dong abis ketemu keluarga."
"Sangat."
Karena malas menbahas hal tersebut. Danish berjalan lebih cepat dari Bintang agar lebih cepat masuk ke kelas.
"Nish!"
Danish menengok ke belakang, ada Yunis yang berlari kecil mengejarnya.
"Kok Danish doang yang dipanggil?" protes Bintang.
"Ah elah lebay banget lo. Ngeribetin hidup gue yang udah ribet aja." jawab Yunis.
"Pak Bambang tadi nyariin lo." ujar Yunis.
"Ngapain?" Danish merasa heran. Karena seingatnya Danish tidak ada urusan atau hubungan apapun dengan Pak Bambang, selain perihal mahasiswa dan dosen PA.
"Hape doi ilang katanya, minta data nomor hape mahasiswa bimbingan dia ke lo."
"Itu yang nyuruh Pak Bambang? Demi apa lo?" tanya Bintang yang dari tadi menyimak.
"Iya, kenapa emang?"
"Gila, gokil banget PA lo. Diem-diem doi peduli juga sama mahasiswanya."
"Nggak tau aja lo Pak Bambang tipe cowok tsundere." Danish kemudian membuka handphone. Memberi kabar di grup PA nya agar masing-masing mahasiswa melakukan list nomor handphone.
Danish terlalu malas untuk mendata satu-satu. Jadi silahkan mereka yang berkepentingan yang berurusan. Danish tinggal menyerahkan datanya ke Pak Bambang jika sudah lengkap.
***
Setelah mengantar Bintang ke kosannya, Danish langsung bergegas pulang. Namun saat Danish baru ingin berhenti di depan gerbang kosan. Mata Danish terfokus dengan satu gadis remaja yang masih memakai seragam SMA, tampak sedang mengamati kosannya dari luar pagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
Fiksi UmumMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)