Selamat Membaca:)
***
Pukul setengah 7 pagi, Theo keluar kamar mendapati Danish yang beneran tidur di sofa. Matanya beralih ke perempuan yang berdiri tepat di samping sofa yang Danish tiduri sambil matanya memerhatikan Danish.
"Kenapa Bin?"
Bintang terlonjak kaget "Hah? Apa? Oh ini, kok Danish tidur disini?"
"Kamarnya kan lo pake."
"Katanya dia mau tidur sama lo." ujar Bintang mengingat perkataan Danish semalam.
Theo terkekeh pelan, Bintang lucu juga pikirnya.
"Danish nggak bisa tidur satu kasur sama orang, katanya dia cuma bakalan satu kasur sama istrinya nanti." jelas Theo yang itu memang benar, Danish pernah berkata seperti itu.
Bintang yang mendengar itu langsung merasa tidak enak. Walaupun Danish ngeselin tetap saja Bintang masih punya hati nurani. Apalagi Danish seperti itu karena dirinya.
"Udah santai aja, Danish bisa tidur dimana aja asal di sampingnya nggak ada orang tidur juga." celetuk Joni keluar dari arah dapur, yang ternyata sempat menguping pembicaraan Bintang dan Theo.
"Mau balik?" tanya Joni.
Bintang mengangguk. Kemudian Joni dengan entengnya menepuk keras bahu Danish yang masih terlelap.
"Apasih anjing." lirih Danish yang belum sepenuhnya sadar kalau ada Bintang di dekatnya.
"Tuh Bin, Danish tuh emang sering bener ngomong kasar." lapor Theo.
Mata Danish terbuka sempurna, melirik kearah belakangnya kemudian langsung terduduk karena baru ingat kalau Bintang menginap di kontrakannya.
"Mau balik?"
Lagi-lagi Bintang mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Danish.
Tanpa banyak kata, Danish masuk ke kamarnya yang sudah rapih dari pada semalam. Mencuci muka kemudian mengambil kunci motor untuk mengantar Bintang.
"Ayok."
.
.
Setelah mengantar Bintang pulang, Danish langsung pulang ke kosan. Ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda. Baru bisa tidur pukul 3 pagi, karena di ruang tengah ada Teza dan Joni yang bermain PS.
Saat baru masuk kosan, mata Danish tertuju oleh satu perempuan dengan dress hijau tosca yang sedang duduk manis di ruang tengah bersama Jefri.
Tidak mau terlalu kepo, Danish tanpa menegur langsung masuk ke kamar. Matanya sudah sangat berat. Sepertinya hari minggu kali ini Danish akan menghabiskan waktunya di kosan.
Dua jam setelahnya, Danish keluar kamar sambil mengusap-usap perutnya yang minta di isi.
Ternyata perempuan tersebut masih ada. Sekarang sedang tertawa dengan Jefri yang tampak jelas raut bahagianya.
"Lo tadi dibangunin Mas Sannan nggak bangun-bangun." ucap Jefri.
"Kenapa emang?"
"Ngingetin sarapan." Sannan memang selalu baik, sudah seperti ibunya anak-anak kosan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
Ficción GeneralMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)