Selamat Membaca:)
***
Libur 2 hari membuat Danish benar-benar tidak keluar kosan sama sekali. Bahkan Danish rela bolak-balik dapur untuk membuatkan Theo makanan, dari pada harus keluar untuk sekedar kewarung.
Sudah tiga hari Theo masih juga demam. Kemarin malam Danish harus memapah Theo ke mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit. Lumayan sulit membujuk Theo untuk di bawa berobat, untung ada Joni yang kalau sudah mode bapak-bapaknya keluar, tidak ada yang berani melawan bahkan si tengil Teza sekalipun.
"Mending lo tuh di rumah sakit. Ada yang masakin, nggak gue mulu." keluh Danish sambil memasukkan satu sendok bubur ke mulut Theo.
"Nggak ikhlas lo?" tanya Theo sinis.
"Ya nggak gitu, ini harusnya jadwal gue tidur siang."
"Udah lah, kenyang." Theo menolak ketika Danish ingin menyuapinya lagi.
"Dikit lagi anjir, mubazir itu. Udah capek gue buatnya." omel Danish.
"Ya lo aja yang makan." Theo malah balik menyuruh.
Danish meletakkan piring di atas nakas samping kasur Theo dengan gusar. "Eh, mbak-mbak perawat kemaren kenalan lo ya?" tanya Danish saat mengingat ada nakes yang sepertinya lumayan dekat dengan Theo.
"Hmm."
"Gebetan ya?"
"Nggak."
"Halah boong lo."
"Keluar sana."
Danish berdecak kesal, tapi tetap menuruti kemauan Theo untuk keluar kamarnya. Di kosan hanya ada dirinya, Theo dan juga Jefri. Tiga penghuni lainnya sudah menghilang sejak tadi pagi.
"Theo udah makan?" tanya Jefri yang baru keluar dari kamar.
Danish mengangguk sebagai jawaban, "Nggak ngampus?"
"Nggak, dosennya minta ganti hari."
"Tumben lo nggak keluar?" tanya Jefri.
"Ngapain? Di kosan lebih enak. Lagian mau main kemana coba."
"Biasanya main sama Bintang."
"Hibernasi dia."
"Buset, beruang kutub."
"Tapi kayanya emang beneran hibernasi, nggak ada kabar sama sekali."
Jefri tertawa mendengarnya, "Ya emang lo siapanya? Sampe Bintang harus ngabarin lo terus-terusan."
Danish diam, tidak berani menjawab. Pikirannya melayang kestatus Danish dan Bintang yang memang hanya berteman tidak lebih.
"Ini kalo sampe dia pergi jangan nyesel lo."
Setelahnya Jefri kembali masuk ke kamar. Danish sampai curiga kalau Jefri keluar kamar hanya untuk menasihatnya.
***
Danish berjalan di koridor kampus dengan satu tangan memainkan handphone. Berusaha menghubungi satu nama yang sejak dua hari lalu tak ada kabar.
"Woy!"
"Apaan?"
"Lo jalan serius amat, kalo nabrak gimana? Syukur-syukur yang di tabrak mahasiswa lain, lah kalo dosen. Mampus lo." omel Yunis.
"Lo liat Bintang nggak?"
"Nggak, gue baru dateng. Biasanya kan sama lo."
"Nggak ada kabar anaknya dari kemaren."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
Ficción GeneralMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)