Selamat membaca:)
***
"Nggak akan dapat kalau hanya dilihat."
Tanpa Danish sangka, Pak Jaya yang menyindirinya barusan. Ternyata beliau memperhatikannya.
Danish hanya merespon dengan senyuman kaku. "Ada yang ingin dibicarakan pak?" tanya Danish sopan, sekalian berusaha mengalihkan pembicaraan.
Pak Jaya mengangguk. "Bulan depan ada lomba karya tulis yang diadakan kemenkominfo, Kamu mau ikut?"
"Ini bapak langsung nembak pak? Nggak pakai aba-aba dulu?"
Danish cukup terkejut dengan tawaran Pak Jaya yang tiba-tiba.
Pak Jaya tersenyum tipis, "Kamu tau saya tidak suka basa-basi."
"Kalau boleh tau, pembahasannya tentang apa pak?" tanya Danish.
"Karya tulis terkait komunikasi media massa. Pihak jurusan minta saya buat nyari dua orang untuk diikutsertakan dalam perlombaan ini. Karena disposisinya baru sampai 1 hari yang lalu, jadi lumayan dadakan."
Danish tampak berfikir, "Saya tunggu jawaban kamu. Satu orang sudah setuju. Kalau kamu bersedia, berarti saya tidak perlu susah-susah nyari orang lain lagi. Kebetulan kamu juga rekomendasian orang, yang saya tau kamu memang bagus dalam beberapa mata kuliah, soalnya kamu sering jadi perbincangan dosen."
"Siapa pak?"
"Apanya?" Pak Jaya tampak tidak paham pertanyaan yang Danish ajukan.
"Yang merekomendasikan saya agar saya ikut lomba."
"Oh mahasiswi bimbingan saya, yang tadi kamu perhatikan sampai hilang dari balik dinding kelas. Katanya nilai kamu selalu bagus saat ada perintah buat paper atau esai."
Senyum tipis terbit dari bibir Danish. Pikirnya, Bintang masih memerhatikannya walau saat ini Bintang tidak mau diajak biacara.
Danish berpikir sebentar, "Saya pikirkan terlebih dahulu pak, besok akan saya konfirmasi keputusan saya pak."
Pak Jaya mengangguk, kemudian berdiri dari duduknya. Saat dirinya sudah berada diujung pintu, Pak Jaya memutar tubuhnya menghadap Danish.
"Oh iya, saya belum menyebutkan partnermu nanti kalau kamu setuju."
"Siapa pak?"
"Bintang."
Damn
***
"Bintangnya nggak buka pintu mas, kemungkinan sih belum pulang."
"Yaudah mba, makasih."
Baru saja Danish berbalik badan, Bintang turun dari motor yang jelas bukan motornya. Danish tau itu motor siapa dan siapa yang mengendarainya. Itu motor kakak tingkatnya.
"Makasih kak." Ujar Bintang yang masih belum sadar keberadaan Danish.
"Oke santai, Eh Nish duluan."
Danish mengangguk singkat, kemudian motor kakak tingkatnya itu langsung melesai menjauhi kosan Bintang. Dapat dilihat kalau Bintang sedikit terkejut dengan kedatangan Danish di kosannya.
"Sejak kapan lo deket sama Satya?" tanya Danish. Nada bicaranya jelas menunjukkan ketidak sukaan.
Bintang memutar bola matanya, "Motor gue mogok, masuk bengkel."
"Gue nanya, sejak kapan lo deket sama Satya? Gue nggak nanya kondisi motor lo."
"Lo kenapa sih? Kenapa emang kalo gue deket sama Satya? Masalahnya di lo apa?" Tanya Bintang dengan meninggikan suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Danish [END]
Fiksi UmumMelangkah jauh demi sebuah harapan. Awalnya aku mengira kalau keputusan itu adalah jalan terbaik yang pernah ada. Hingga tak sadar, bahwa banyak hambatan untuk mencapai garis selesai. -Danish- _______ Danish itu emosian dan galak. Tapi kalau sama Bi...
![Cerita Danish [END]](https://img.wattpad.com/cover/270273226-64-k771660.jpg)