Empat belas

121 13 0
                                        

Selamat Membaca:)

***

"Apa kabar pa?"

"Baik."

Setelah Sagara mengirim alamat rumah baru papanya 'Dandi', malam harinya Danish langsung ke rumah baru yang papanya tinggali. Rumah lantai satu, cukup nyaman bagi Danish yang baru pertama kali menginjakkan kakinya disana.

Kedatangan Danish yang tiba-tiba membuat hati Papanya jadi menghangat. "Kamu udah makan? Papa baru aja mau masak mie instan."

"Nggak ada makanan lain pa?"

Dandi menggelengkan kepalanya. Di sebenarnya ada telur dan kentang, tapi Dandi yang notabene tidak bisa memasak jelas lebih memilih mie instan untuk mengisi perutnya.

Danish berjalan menuju kulkas, diambilnya dua butir telur dan 3 kentang. Tangan Danish dengan lincah memotong kentang menjadi dadu. Danish berniat untuk memasak orak arik kentang telur yang pernah Sannan masak di kosan mereka.

"Kamu bisa masak ya." Papa Dandi berusaha mencari pembahasan.

"Danish anak kos pa, nggak bisa masak ya nggak makan."

"Emang kamu nggak pernah jajan di luar?"

"Jarang, paling ke coffeshop nyari WiFi biar lancar ngerjain tugas."

"Kosan kamu mau papa pasang WiFi?"

Tawaran yang sangat menarik, tapi.. "Nggak usah pa, terlalu ribet."

"Papa serius nawarin, kalo kamu mau, nanti papa pasangin Wifi. Jarang papa direpotin sama anak papa."

Danish meletakkan masakannya di meja makan. Kemudian mengambil dua piring untuk diisi nasi. "Nggak usah, nanti anak kosan malah kerjaanya main hp mulu." Ujar Danish, mengingat Theo, Teza dan Joni adalah maniak games.

"Kamu kalo mau apa apa bilang ya Insyaallah papa kasih."

"Kalo Danish minta papa sama mama nggak usah pisah bisa?"

Dandi menelan ludahnya kasar, sebenarnya dari awal Dandi sudah menduga maksud kedatangan anak bungsunya ini.

"Kita makan dulu, papa laper."

.
.

Malam ini Danish memutuskan untuk menginap di rumah papanya. Pembahasan saat di meja makan tadi, tidak dilanjutkan hingga mereka selesai makan malam. Saat ini keduanya sedang duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala, menyaksikan anak dan bapak yang sama-sama melihat kearah benda persegi yang menampilkan tayangan lawak.

"Papa rasa cerai adalah pilihan tepat nak."

"Buat papa, nggak buat aku atau kakak." Ujar Danish.

"Kenapa harus pisah sih? Emang udah nggak bisa lagi dibicarain baik-baik?" Danish bertanya dengan nada lirih.

"Mama kamu terlalu egois, papa emang nggak masalah kalo mama kamu kerja sana sini, tapi dia selalu lupa kalo udah punya suami. Papa dulu selalu bilang ke mama, kalo mau kerja silahkan tapi jangan lupa sama kewajiban dia sebagai istri dan ibu. Selama ini papa selalu sabar ngadepin mama kamu. Kamu tau kan?" Danish mengangguk.

Danish pikir mamanya menggugat cerai karena ada masalah lain yang lebih berat, tapi ternyata masalahnya masih sama. Danish akui, mamanya memang terlalu egois untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Mendengar papanya bercerita, Danish jadi bingung sendiri ingin menanggapi apa. Niat awal ingin membujuk jadi gagal, karena jujur Danish jadi kasian melihat papanya yang selalu sabar menghadapi tingkah mamanya.

Cerita Danish [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang