Apa sih kehidupan yang sempurna itu? Dan bagaimana bisa standar kesempurnaan seisi dunia berbeda-beda? Jika pertanyaannya seperti ini, maka Minho lah jawaban terbaiknya. Standar kesempurnaan untuk seorang laki-laki yang berasal dari Gimpo ini akan jauh lebih tinggi dibanding milik orang lain.
Jika bertanya juga tentang alasannya, itu karena kehidupan seorang Lee Minho sudah terlampau sempurna untuk diberikan sebuah kesempurnaan. Orang tua yang lengkap, keluarga yang harmonis, hidup sederhana kaya raya namun patut juga untuk disyukuri, memiliki teman yang baik, pintar bela diri, bahkan terlahir dengan wajahnya yang sangat tampan. Kurang apalagi?
Namun, manusia yang seharusnya tak akan pernah merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Begitupula yang terjadi dengan Minho.
"Kapan gue bisa kayak gitu ya?" Monolognya saat melihat segerombolan orang yang tengah menyaksikan grand opening sebuah cafe sekitar sana.
Memang sudah lama sejak dirinya menginginkan mempunyai usaha sendiri dan sukses agar dapat membanggakan kedua orang tuanya.
Mengingat bahwa tidak ada bahan makanan di kulkas, pemuda Gimpo ini memilih untuk membeli beberapa makan malam agar dapat disantap bersama beberapa temannya. Awalnya. Jangan heran, Minho baru-baru ini memang merantau ke Seoul untuk melanjutkan pendidikannya. Jadi masih malas rasanya untuk mengeluarkan effort banyak hanya untuk sekedar makan malam.
Minho berjalan pulang ke arah apartemen nya setelah membeli 2 porsi tteokbokki untuk mengisi perut kosongnya. Mengambil jalan pintas, jalan yang ia tempuh memang termasuk jalan yang sepi dan jarang sekali ada kendaraan yang lewat, tak heran jika baru pukul 8 malam jalanan disana sudah seperti pukul 12 malam.
Srek... Srekk...
Ia mendengar suara samar dari arah semak-semak. Minho yang biasa tak takut dengan yang namanya setan, kalau di kerjain begini juga merinding sih. Lagian, siapa juga yang iseng menakuti para pejalan kaki di malam hari yang dingin seperti ini. Namun pada akhirnya, Minho memutuskan untuk mendekati arah suara, siapa tahu itu rezeki yang tak bisa ditolak, pikirnya.
"Siapa lo? Ada orang gak?" tanya Minho ke arah semak-semak tadi.
Tak ada yang menyahut. Tetapi suaranya masih saja ada. Seperti anak ayam yang tengah mencari induknya. Minho sibuk memikirkan ada apa dibalik sana sampai memikirkan yang tidak-tidak, hingga memutuskan untuk membuyarkan pikiran anehnya.
"Apasih. Masa anak ayam suaranya segede ini, anak kucing kali ya." Ia masih saja berdebat dengan pikiran sendiri.
"Fix sih ini, kalo anak kucing gue rawat biar bisa temenan sama Soonie, Doongie, Dori. ntar gue kasih nama Dora biar kembaran sama Dori." Minho terkekeh pelan lalu mulai mendekati diri ke arah suara lagi.
Dirinya membuka perlahan semak-semak itu, melihat sesuatu dibalik sana dan membelalakkan mata kaget sesudahnya.
"Lah anjing, bukan anak kucing sama anak ayam lagi ternyata. Ini mah anak orang." Minho mendesah pelan.
Ia berjongkok dihadapan anak kecil itu. mungkin umurnya kisaran 2 atau 3 tahun, "Gak, jangan di lelepin dulu. Ini anak orang, sabar dulu ho." Gumam Minho.
"Orang tuamu dimana? Kok mainnya di semak-semak sih, gak elit banget." Ucap Minho pada anak kecil itu.
Sang lawan bicara hanya menggelengkan kepala pelan, "nda tau, dedek nda tau. Huwa kak Chan!" Ia kemudian menangis, merasa terancam bahwa Minho adalah orang jahat yang ingin menculiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[√] Sunshine.
Fanfiction{Revisi} • Beberapa part di unpub sementara untuk perbaikan. "Dan untuk kesekian kalinya kakak bilang, dedek berhasil jadi mentari kakak yang paling cerah sekalipun dengan cara yang berbeda. Rest In Peace, dedek." - Lee Minho. - siblings, brothersh...
![[√] Sunshine.](https://img.wattpad.com/cover/284451746-64-k219432.jpg)