12. Musuh atau Damai?

700 111 41
                                        

Pelajaran hari ini sangat membosankan bagi Felix dan Jisung yang notabene nya pemalas soal hitung-hitungan. Pagi bersama Kimia, dilanjuti dengan Fisika, Sejarah dan jam terakhir, Matematika.

"Pelajaran hari ini udah cukup banget buat gue muntah." Celetuk Felix.

Jam istirahat kedua kali ini Felix penuhi dengan kekesalan. Apalagi sesudah ini ditemukan dengan Matematika. Paket komplit sudah.

"Mending ngegosip gak sih, daripada ngeluh mulu." Jawab Jisung.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menunjukkan sebuah foto yang cukup menggemaskan. Fotonya dengan Minho tempo hari yang berakhir bermain hujan karena tak kunjung henti.

"Ikut seneng sih, gue jarang liat kak Minho senyum selebar itu akhir-akhir ini. Thanks ya." Ucap yang lebih muda sambil tertawa.

"Mimpi apa ya gue bisa kenal sama kakak lo, Lix. Kayak, gue abis lakuin hal baik apa sampe ketemu orang-orang sebaik kalian."

Jisung masih sibuk bercerita tentang kesenangannya, entahlah. Memang bawaan mood yang bagus, bahkan hampir tak pernah murung, Felix sendiri juga ikut senang melihatnya. Walau sekarang tengah sibuk memikirkan, ia teringat belum meminum beberapa obatnya.

"Kayak... Tsundere gitu ih!! Loh-" 

"Obat lagi? Gak bosen neguk obat sebanyak itu? Gue sih ogah ya. Lagian buat apa?" Sambung Jisung lagi.

Felix hanya menggedikkan bahunya, masih melanjutkan meminum beberapa obatnya tanpa memperdulikan perkataan temannya.

"Vitamin doang, biar gak gampang drop sih..."

"Kata Kak Minho." Ucap Felix.

Jisung sedikit mengernyitkan dahinya, "Ya... Gak curiga? Ntar tau-tau itu obat buat nyihir lo lagi." Canda di iringi dengan kekehan.

Felix membelalakkan matanya, "Sembarangan!"

"Lagian, gak etis juga gue curiga sama kakak sendiri. Kak Minho ngurus gue dari kecil bener-bener sendirian, gak mungkin ada niat jelek." Sambung Felix.

Yang lebih tua satu hari mengangguk paham, "Iya deh, kalo lo aja sebaik ini apalagi kakaknya, kan? Btw, balik sama Hyunjin lagi?"

"Iya, kayaknya."

Kring.... Kring....

Bel sekolah berbunyi, keduanya menghela nafas berat. Selamat bertemu dengan pelajaran Matematika yang mematikan.

"Siapin kresek ya, siapa tau gue beneran muntah abis ini."

•••

"Ho, dimana? "

"Cafe, kenapa?"

"Nggak, pengen ketemu. Gue kesana ya?"

"Dateng aja."

Changbin mematikan telepon sepihak, bergegas datang ke cafe milik Minho. Meninggalkan beberapa pekerjaannya distudio.

Saat sampai, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari keberadaan Minho yang ternyata tengah duduk dikursi pojok cafe.

Changbin memilih untuk duduk dihadapan temannya, "Ngapain mojok?"

Minho mengalihkan pandangannya, tersenyum singkat melihat temannya yang sudah datang dihadapannya.

"Ada kerjaan bentar, ini udah mau selesai." Jawab yang lebih muda.

[√] Sunshine. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang