Kringg....
Bel pulang telah berbunyi, Felix bergegas membereskan semua bukunya yang ada di atas meja agar dapat segera pulang. Senyumnya yang cerah terukir dibibirnya, ia paling senang jam pulang.
Dari sekian banyak jam pelajaran, hanya ini yang ia suka. Karena itu berarti, penderitaannya selesai walau hanya sesaat.
"Baiklah, anak-anak silahkan pulang." Ucap seorang guru.
"Baik, bu. Makasih banyak bu!" Jawab satu kelas dengan serentak.
Begitu juga Felix. Ia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar kelas. Namun langkahnya terhenti saat satu sapu jatuh dihadapannya.
"Nyapu, gue mau pulang. Mami udah nunggu. Ohiya, yang jadwal piket hari ini pulang aja. Felix mau kerjain sendiri katanya." Ucap anak itu.
Temannya yang lain bersorak senang karena tak perlu mengerjakan piket hari ini.
Felix mendongakkan kepalanya, "Kok gue, Liv? Kemarin gue udah piket, sekarang kan jadwal lo."
"Banyak omong lo, lagian ngapain sih mau cepet-cepet pulang. Ngga ada yang nyariin lo juga, tau ngga! Gue sibuk."
Olivia namanya, anak yang paling sering membully Felix saat SD. Sialnya, saat beranjak SMP, Felix malah satu kelas lagi dengannya.
"Kakak gue juga udah nunggu, Oliv. Gue ada jadwal check up ke dokter hari ini, harus balik cepet."
"Doktar dokter, doktar dokter mulu omongan lo dari sd. Sakit juga ngga." Olivia lantas menyambar tas milik Felix, mengeluarkan semua isinya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
"Liv-, obat gue... buku gue... Tempat sampahnya basah."
Olivia tak menanggapi perkataan Felix dan terus melanjutkan perbuatannya.
"Ngelawan lagi lo? Mau jam bego itu gue pecahin lagi? Atau mau gue ceplokin telor lagi? Ah... Gue tau, mau dijatohin ke lumpur?"
"Udah Liv."
"Diem aja, jawab! Bosen lo ya sama hadiah gue? Butuh yang baru, mau disiram air panas? Atau air pel? Mau gue jatohin lo dari atap sekolah? Kan belum pernah... Biar ngga jadi beban dikelas!"
Felix tak menanggapinya, ia memilih untuk diam daripada membalas perkataan itu.
"Diem berarti mau ya? Paling patah kaki doang, Lix. Besok deh, hari ini gue sibuk."
"Atau mau sekalian gue modif ya seragam lo? jadi biar pas jatoh, ada fashion gitu ngga cupu kayak gini."
Felix menggenggam kuat tangannya, "Diem Liv, Diem! Udah... 6 tahun lo bully gue masih ngga puas?"
"Siapa suruh lo satu kelas sama gue lagi." Jawab Olivia santai.
Memuja pelipisnya karena sedikit pusing, "Gue ngga mau debat, takut kambuh. Sana pulang, biar piketnya gue yang selesain."
"Kambuh terus, gausah berlarut dalam skenario lo deh Lix. Orang sehat-sehat aja berlagak sakit parah."
"Udah ada kerjaan kan lo, sekalian nyapu. Besok kalo gue dateng, kelas kotor yang salah lo ya." Sambungnya sebelum meninggalkan Felix sendiri dikelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
[√] Sunshine.
Fanfiction{Revisi} • Beberapa part di unpub sementara untuk perbaikan. "Dan untuk kesekian kalinya kakak bilang, dedek berhasil jadi mentari kakak yang paling cerah sekalipun dengan cara yang berbeda. Rest In Peace, dedek." - Lee Minho. - siblings, brothersh...
![[√] Sunshine.](https://img.wattpad.com/cover/284451746-64-k219432.jpg)