10. Kesalahan?

906 126 27
                                        

"Ini udah jam tangan ketiga yang dedek pecahin, loh. Kalo yang keempat pecah juga mau kakak hukum apa?" Tanya Minho pada adiknya.

Dari rumah sakit, mereka tak langsung pulang ke rumah. Melainkan pergi ke mall untuk bermain sebentar dan membeli jam baru untuk Felix.

Felix hanya menjawab dengan wajah cemberutnya, "Maaf..."

Minho mengarahkan tangannya pada pucuk kepala yang lebih muda, mengusapnya lembut, "Gak masalah buat kakak."

"Tapi ini soal tanggung jawab dedek, udah gede harusnya tau gimana cara jaga barang. Apalagi harganya gak murah." Sambungnya lagi.

Felix mengangguk pelan, "Tadi malu, gak bisa dikontrol marahnya."

"Kalo emang terlalu berisik kan bisa langsung dilepas aja, gak usah pake dilempar."

"Susah tau kak, lepasinnya sambil nahan nyeri." Protes Felix.

Minho terkekeh pelan, "Makanya jangan pelupa. Vitamin aja ditinggal dimeja makan, gimana kamu tuh."

Felix menyeringai didepan kakaknya itu. Entah apa yang ia pikirkan juga sejak pagi sampai lupa memasukkan obat-obatan itu kedalam tasnya. Sembari menunggu jam tangannya disiapkan, Felix dan Minho memilih untuk membeli beberapa snack dan minuman agar stok di rumah nya tak habis.

"Kakak mau nanya deh." Ucap Minho saat dalam perjalanan kembali ke toko jam tadi.

"Apa?"

"Sosmed kamu, di private gak?"

Felix menggelengkan kepalanya, "Nggak, kalo di private nanti guru gak bisa liat tugas-tugas dedek. Kan kadang ada tugas disana."

"Sama biar banyak yang liat kegantengan dedek sih." Sambung Felix lagi.

Yang lebih tua hanya tertawa mendengarnya, "Berarti, banyak orang aneh yang kemungkinan liat sosmed kamu ya?"

Felix mengernyitkan dahinya, "Gak juga, sih. Yang liat snapgram sama postinganku kebanyakan pada ganteng sama cantik kok, gak aneh." Jelas Felix.

Minho sedikit menghela nafasnya, memijat pelipisnya, "Gak gitu konsepnya."

"Salah lagi, terus gimana? Katanya yang aneh." Keluh yang lebih muda.

"Ganteng, cantik yaiya itu mah tau. Sifatnya maksud kakak yang aneh, kayak sampah." Jelas Minho.

Yang lebih muda hanya mendengarkan apa yang dikatakan Minho tanpa menjawab apapun. Jujur, dirinya masih tak terlalu mengerti apa yang kakaknya katakan.

"Kalo kakak bilang... Kakak nya dedek pulang, gimana?"

•••

Satu minggu belakangan ini, Minho masih sangat khawatir akan kehadiran Chan. Walau terpantau tak terlihat lagi keberadaannya sejak kali terakhir dicafe. Minho tetap takut jika ternyata Chan menemui Felix secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.

Bagaimanapun juga, Chan tetaplah kakak kandung Felix. Minho paham soal itu, sangat paham. Apalagi seseorang seperti Felix, tak meyakinkan bahwa kehadiran Chan akan ia benci. Malah kemungkinan sebaliknya, Felix menyukai kehadiran Chan.

Posisinya sebagai kakak Felix sekarang bisa tergeser kapanpun, dan Minho tak mau itu terjadi. Seringkali ia melihat sosial media milik Felix, mencari tanda-tanda keberadaan akun Chan disana.

Namun nihil, entah Minho yang tak terlalu pintar soal ini atau memang Chan yang sengaja menggunakan fake account agar Felix tak mengenalinya.

[√] Sunshine. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang