15. Pengakuan

712 116 24
                                        

Semalam Changbin datang untuk menginap dirumah milik Minho. Mendapat kabar soal Felix yang di bully, membuatnya ingin menemui Felix saat itu juga.

"Dedek, bangun yuk. Sarapan dulu sini." Panggil Minho dari arah dapur.

"Iya, sebentar." Felix masih sibuk menatap layar ponselnya.

Hubungannya dengan Hyunjin semakin renggang akhir-akhir ini. Felix berpikir, mungkin Hyunjin sibuk untuk mempersiapkan ujian akhirnya.

Felix dibantu berdiri oleh Changbin yang menuntunnya menuju dapur. Padahal keadaannya sudah jauh lebih baik, hanya saja kedua kakak angkatnya itu berlebihan. Heran juga, Felix akhirnya memilih duduk disebelah kursi milik Minho.

"Kamu, mau cerita gak?" Tanya Changbin pada Felix.

Yang lebih muda menoleh ke arah Changbin, "Cerita soal apa?"

"Yang bully kamu."

Changbin mengambil satu buah piring, ia isi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Memberikannya pada Felix sembari menunggunya untuk cerita.

"Oalah, Gapapa kok. Main-main aja, cuma aku lagi gak fit kemarin jadi gini." Jelasnya.

Minho menatapnya heran, "Main sampe tendang-tendangan, dedek ikut kursus bela diri apa gimana, Fel." Sarkasnya.

Changbin mengelus surai hitam milik adiknya itu, "Ini yang pertama, ya?"

Yang lebih muda hanya menundukkan kepalanya, jemarinya asik mengaduk-aduk makanan yang ada dipiringnya.

"I-ya." Jawabnya ragu.

"Yang bener? Jawabnya liat sini dong." Changbin menarik dagu itu pelan agar bisa bertatap langsung.

"Nggak... Yang kesekian." Felix mengerucutkan bibirnya, kakak satunya itu paling tau jika Felix tak pintar berbohong.

"Fel?"

Mendengar itu, Minho mengubah posisi duduknya menghadap adiknya. Begitu juga Changbin yang siap mendengarkan semuanya.

"Dari jaman sd juga dedek udah di bully. Dulu,  jam dedek pecah, vitaminnya abis lebih cepet dari biasanya. Bukan dedek yang lakuin."

"Jam dedek dilempar karena berisik, tas dedek dibuang ke tong sampah, isi tasnya juga di hamburin kemana-mana. Dedek cari vitaminnya ternyata udah diinjek sama mereka."

Felix mengambil nafasnya, "Waktu dedek pulang pake baju kotor, kumuh juga, bukan karena jatuh tau. Mereka yang pukulin, dorong dedek ke lumpur becek."

"Dulu tiap pagi sebelum berangkat, dedek selalu ambil nafas yang panjang, tau bakal jadi hari yang berat banget buat dedek. Kayak, selama dedek sekolah itu gak bisa nafas. Tapi tiap pulang, dedek selalu nunjukin senyum termanis buat kakak. Entah itu kak Minho, atau kak Abin."

"Terakhir, dedek bilang takut buat lanjut sekolah. Itu karena takut ketemu mereka lagi, keulang lagi. Untungnya nggak." Sambung Felix.

Ia tersenyum tipis diakhir kalimat, "Dedek malah ditemuin sama Jiji, sama kak Hyunjin. Malah ditahun ini kak Chan pulang jenguk dedek, walau gak sering."

"It's more than enough, kak. Dedek udah gak pake topeng kayak dulu lagi, dedek udah gak serapuh itu."

"Kejadian kemarin, cukup ngingetin masa lalu sih. But, it's okay, aku udah baik-baik aja."

"Kenapa gak pernah bilang sama kakak, Fel?"

Ding... Dong...

Bel rumahnya berbunyi ditengah situasi ini. Minho beranjak menuju pintu depan, berniat untuk membukakannya.

[√] Sunshine. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang