23. Ayo Hadapi!

719 110 28
                                        

Sudah seharian ini Felix menghabiskan waktunya untuk tidur, bahkan menolak untuk berbicara sedikitpun setelah kejadian 2 hari lalu.

Menolak untuk makan, yang membuat dirinya juga tak bisa meminum obatnya. Ah, Minho masih tak diperbolehkan masuk ke dalam kamar.

Ia juga menerima kenyataan itu, toh memang sudah menjadi salahnya. Menyembunyikan rahasia sebesar itu bisa membuat siapapun melakukan hal yang sama seperti yang Felix lakukan.

Minho tak banyak berkomentar soal adiknya yang marah, ia lebih mengkhawatirkan karena adiknya tak makan apapun sedari tadi.

"Felix masih ngga mau gue masuk ya?" Tanya nya pada Chan.

Yang lebih tua menggedikkan bahunya, "Gue masuk aja dicuekin, Ho. Apalagi lo."

Minho memang selalu memanjakan Felix. Karena ia pikir, orang seperti Felix memang butuh perhatian yang extra. Apalagi dirinya yang harus memerankan ibu dan ayah sekaligus.

Tak mungkin setiap hari dirinya harus memanggil kedua orang tuanya yang berada di Gimpo. Mereka juga sudah terlampau tua untuk bolak-balik ke Seoul.

"Hhh... Bingung banget gue, dia ngga makan dari kemarin. Dokter Kim juga sibuk kerja dirs lain." Keluh Minho.

Chan mengalihkan pandangannya pada Minho, tersenyum tipis, "Khawatir lo berlebihan deh, makan kok dia. Seuprit doang."

"Ya tetep aja, ngga minum obat ini itu. Aduh, dia yang sakit gue yang stress ini namanya." Ucap Minho.

"Kenapa? Bukannya dulu lo paling ngga suka punya adek?"

Minho sedikit diam, menoleh pada yang lebih tua dan berpikir. Chan benar, dulu ia paling tak suka diganggu oleh anak kecil.

"Ngga tau."

"Gue sayang Felix, ngga tau sebagai apa." Sambungnya.

Chan mengangkat kedua alisnya, "Ngga jelas."

"Serius, gue bingung. Ngga ada waktu buat mikirin itu. Cuma, gue selalu ngga bisa seneng kalo dia begini. Gue seneng kalo liat dia ketawa, senyum. Ngga ada Felix tuh, kosong rasanya." Jelas Minho.

Yang lebih tua tak menghiraukan, "Gue balik dulu ah, Abin bentar lagi dateng nemenin lo."

•••

Kret....

"Gue bilang jangan ganggu masih aja masuk. Pusing tau ngga." Celetuk Felix.

Dokter Kim menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum singkat. Ia menutup pintu kamar itu dan mendekati ranjang Felix disana.

Tangannya penuh dengan makanan daru rumah sakit yang hambar tak ada rasanya. Dokter Kim menduduki dirinya dikursi dekat sana.

"Lix, ini saya. Bukan kakakmu."

Felix yang tadinya membelakangi dokter Kim, mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk.

"Aku kira kak Minho." Jawabnya.

Dokter Kim mengarahkan tangannya pada surai hitam milik Felix, mengelusnya dengan lembut sembari tersenyum.

"Saya ngga ada shift disini kok kamu ngga mau makan sama minum obat, nakal ya." Ucap Dokter Kim.

Felix mengerucutkan bibirnya, "Ah, males. Ngapain makan, akunya juga sakit-sakitan."

[√] Sunshine. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang