24. Berdamai

633 113 24
                                        

Hai! Aku Felix, Lee Felix. Ngga mungkin kalian ngga kenal aku, soalnya... Aku kan anak hebat? Atau apalah itu.

Aku lahir dengan lemah jantung, tapi sayangnya aku ngga tau sampai aku beranjak dewasa. Kalian tau lebih dulu daripada aku.

Keluargaku, dulu sangat harmonis! Mama selalu ingin bermain denganku, papa yang membelikanku mainan dan beberapa makanan kesukaanku, menghabiskan weekend bersama sekeluarga dan banyak hal lain yang keluarga harmonis lakukan.

Sayangnya hanya sampai aku berumur 3 tahun, setelahnya aku ngga tau harus menyebutnya apa. Rasanya lebih seperti neraka.

"Mama!" Teriakku dari arah taman.

Mama datang menghampiriku, tentu untuk menyuapiku makanan sembari aku bermain. Sudah jadi kebiasaan setiap soreku.

Mama tersenyum melihatku berlari, "Jangan lari-lari, sayang. Nanti jatuh." Ucapnya.

Aku hanya terkekeh, tak menghiraukan ucapan mama dan terus berlari. Tapi sepertinya mama berteman dengan peramal, karena tak lama dari itu aku jatuh tersungkur ke depan.

Ah, untungnya aku anak kuat! Luka dibagian lutut dan siku tak membuatku menangis kok. Hanya saja mama yang berlebihan ketika melihat banyak darah yang keluar dari lutut dan siku.

Tak sempat berpamitan dengan kedua temanku yang lain, mama langsung menggendongku untuk pulang. Huh, padahal aku masih belum puas bermain.

"Mama bilang juga apa! Jadi luka kan, dasar anak nakal." Omel mama padaku.

Aku hanya bisa mengerucutkan bibirku, "Maaf, mama. Lix mau cepat-cepat peluk mama makanya lari."

Sampai dirumah, terlihat ada papa disana. Sepertinya baru saja pulang dari kerja. Dia juga tersenyum manis padaku, tapi setelahnya aku disuruh masuk dan meninggalkan mama papa berdua dihalaman depan.

Kak Chan bawa aku ke dalam rumah dan mengobati lukaku. Terdengar sedikit teriakan dari papa dan mama.

"Sudahlah, tidak perlu ke dokter lagi! Uangku habis hanya untuk dia." Papa sedikit meninggikan nada bicaranya.

"Kamu mau bunuh dia perlahan?! Gila. Dia anakku, anakmu juga. Gimanapun juga masih jadi tanggung jawab kamu buat rawat dia."  Mama juga ikut marah-marah.

Aku ngga ngerti mereka membicarakan soal apa? 'dia' siapa yang mereka maksud?

"Ayo pulang, kembali ke Seoul. Aku bangkrut disini." 

"Apa?"

"Tidak dengar? Aku bangkrut! Harus mulai dari awal lagi. Mana bisa hidup di Aussie begini, pikir pakai otak."

Terdengar isak tangis dari mama, aku ingin menenangkannya. Tapi kak Chan masih menahanku, memelukku dan meminta agar tak mendengar percakapan itu.

Tapi kan aku punya telinga? Bagaimana bisa aku berpura-pura tak mendengarnya.

"Biar aku saja yang beritahu mereka, jangan memperkeruh suasana."

Flasback off.

•••

"Syukur banget gue kalo Lix udah mau makan, setidaknya ngga nyiksa diri lagi. Makasih loh ya dokter cantik." Ucap Chan.

Dirinya terkekeh pelan setelah menggoda dokter Kim yang sekarang sedikit kesal namun akhirnya ikut tertawa juga.

Dokter Kim tersenyum, "Gapapa, saya udah mulai ngerti tentang emosinya. Cuma perlu ditangani baik-baik."

[√] Sunshine. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang