"Apa dia bener anak gue, Zet?" sela Karel dengan nada menusuk. Azeta berkedip cepat dan membasahi bibirnya. Ia gugup dan menunduk.
"Dia anak gue, Zet?" ulang Karel. Kali ini suaranya sarat kesakitan.
"Ya." jawab Azeta lirih. Karel berdiri dan berjalan mondar-mandir sembari meremas rambut frustrasi.
"Berengsek, Zet!"
"Maaf," ucap Azeta.
"Bisa-bisanya lo nyembunyiin dia dari gue selama sembilan tahun, Zet! Bahkan kalo seandainya gue ngga tahu sampe puluhan tahun pun, lo pasti ngga akan kasih tau gue, kan?!" mata Karel berkaca-kaca. Ia tampak marah dan kecewa. Azeta menggigit bibirnya dan menangis.
"Fuck!" Karel menendang roda mobilnya beberapa kali lalu kembali menghadap Azeta.
"Kenapa lo nyembunyiin dia dari gue, Zet?! Gue juga berhak tau tentang dia."
"Kita masih muda, Rel. Gue sadar kita cuman sekedar temen dan ngga akan pernah jadi lebih." kata-kata Azeta barusan semakin meremukkan hati Karel. "Lo pasti bakal nyuruh gue buat gugurin dia. Apalagi lo balikan sama Agatha saat itu. Gue ngga mau hancurin hubungan kalian karena kehamilan gue." Karel memijat pelipisnya dan menghapus air matanya.
"Jadi lo bisa baca masa depan? Lo bisa tau kalo gue bakal minta lo gugurin dia?"
"Terus apa, Rel? Jangan sok mikir lo bisa nerima kehamilan gue saat itu!" tukas Azeta. "Lo pikir lo bakal percaya gue hamil anak lo setelah secara ngga langsung lo ngatain gue murahan dan mungkin aja gue juga ngelakuin sama Juno?" Azeta menatap Karel tajam. Sedang Karel, perlahan matanya menyayu. "Jangan bersikap seolah lo ngga akan ngelakuin hal berengsek, Rel!" Karel diam. Azeta salah mengenai dirinya. Azeta tak tahu perasaannya saat itu. Ia bersikap berengsek karena menurutnya Azetalah yang memancing pertengkaran itu.
Azeta mendesah lalu mengusap air matanya. Ia kembali teringat saat masa-masa sulit itu. Menjadi seorang ibu diusia begitu muda bukan hal mudah. Apalagi jika ia sendirian, tanpa seorang pasangan, di negara orang.
"Sorry, Rel. Karena hal ini mungkin lo shock dan ngerasa terbebani. Tapi gue ngga akan minta apapun dari lo. Gue ngga akan minta segala pertanggung jawaban dari lo. Bahkan lo bisa lupain dia dan anggap gue cuman ngada-ngada."
"Jadi selama ini lo pikir gue seberengsek itu?! Dia anak gue, Zet! Darah daging gue! Fakta itu ngga bisa terhapus. Dia nyata! Dan dia butuh gue!" jujur saja, ada kehangatan yang mengalir deras dalam diri Azeta saat Karel mengakui Kiev bahkan tanpa ingin membuktikan dengan test DNA.
Azeta menelan ludahnya dan menyilangkan tangan di dada, membasahi bibirnya. "Tapi, gue udah cukup buat Kiev, Rel. Dia ngga butuh lo."
"Serius, Zet? Dia bahkan nanyain Daddynya ke gue sedangkan gue sendiri adalah Daddynya!" Azeta cukup terkesiap mendengarnya. Kemudian ia mendesah dan nenurunkan tangan dari dadanya.
"Rel, gue udah bilang sama lo, lo ngga perlu ngerasa punya tanggung jawab atas Kiev. Gue ngga mau hal ini bikin kehidupan lo berbeda. Gue—"
"Entah gue tanggung jawab atau engga, udah pasti kehidupan gue bakal berbeda mulai sekarang. Gue ngga mungkin lupain gitu aja kalo gue punya anak. Gue memang berengsek, tapi gue ngga seberengsek itu." Azeta tak menduga Karel akan menerima Kiev dan bahkan mempunyai niat untuk turut bertanggung jawab atas Kiev. Tapi entah kenapa rasanya ia ingin Karel bersikap berengsek saja. Selain agar ia tak terlalu merasa bersalah, juga agar lebih mudah baginya untuk melenyapkan perasaannya pada pria itu.
Kemudian ponsel Azeta berdering. Enzo.
Azeta segera menjauh dari Karel dan mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, En?"
"Gimana, Zet? Kiev udah pulang?"
"Ya, beberapa menit yang lalu."
"Oh, Thank God." Ia mendesah lega. Kelegaan yang terdengar tulus. Membuat hati Azeta menghangat.
"Kamu udah ketemu Karel?"
"Hm-mm," ia menengok sekilas ke arah Karel yang tengah memperhatikannya.
"Well, cukup dramatis. Dia marah."
"Itu pasti. Reaksi alami aku pikir." Katanya. Azeta mengangguk. "Apa dia masih disana?"
"Ya."
"Oh, kalo gitu pasti aku ganggu."
"Ngga, En." Justru Azeta butuh ini. Ia butuh jeda saat bersama Karel tadi dan bersyukur Enzo menelponnya.
"Kalo gitu kalian selesaiin masalah kalian dulu?"
"Ya."
"Kamu bisa hadapin dia, Zet." Dukung Enzo.
"Thanks." ucap Azeta yang kemudian menutup telepon tersebut setelah mendapat balasan dari Enzo. Ia kembali pada Karel yang tatapannya tak terbaca.
"Kasih gue kesempatan," katanya. "Kasih gue kesempatan buat mengenal Kiev." Mohonnya. Azeta menatapnya, bertanya-tanya bagaimana Karel dapat menerima Kiev? Ia pikir pria itu akan melepaskan tanggung jawabnya dan tidak dapat menerima anaknya karena mengingat ia sudah bertunangan.
Jadi sejak kapan ia tahu tentang Kiev?
"Gimana sama Nadine? Lo yakin hal ini ngga akan hancurin hubungan kalian?" tanya Azeta. Sejenak Karel terdiam, merenung.
"Gue bakal kasih tau dia. Dia cukup pengertian."
"Bagus. Karena hancurnya hubungan kalian adalah hal terakhir yang gue mau. Gue ngga mau Kiev dijadiin alasan buat itu." Karel mengangguk. Lalu keadaan menjadi canggung. Mereka hanya diam dan tak mencoba melanjutkan percakapan mereka. Hingga Karel berpamitan pada Azeta. Dan mengirimkan salam untuk orang tua wanita itu.
Azeta menghembuskan napas lega saat Karel pergi, seolah sedari tadi ia tengah menahan napas.
"Mommy!" Kiev berlari menghampiri Mommynya. "Uncle Karel sudah pulang?" tanyanya. Azeta mengangguk dan segera, kekecewaan menghinggapi raut Kiev.
"Apa Mommy sama Uncle Karel bertengkar?" Azeta menatap sang Mama yang terlihat tengah menunggu penjelasan darinya. Ia menyejajarkan diri dengan putranya dan mengelus rambutnya lembut.
"Kita cuma ada salah paham sedikit." Dusta Azeta. Mereka jelas lebih dari salah paham. Bocah cilik itu menatap Azeta dengan tatapan seperti menyelidik, tapi khas anak usia 8 tahun.
"Apa Uncle Karel mau kesini lagi?" ada harapan di mata anak itu.
"Kiev suka Uncle Karel?" tanya Azeta. Kiev mengangguk semangat. Tentu saja Kiev menyukainya.
"Uncle Karel baik. Ini Kiev dibelikan mainan." Ia menunjukkan figure transformers pada Mommynya dengan berseri-seri. Azeta tersenyum dan memeluk putranya. Ia bertanya-tanya, bagaimana jika Kiev tahu kalau Karel adalah Daddynya? Bagaimana reaksinya?
"Bagus. Kalo gitu, beresin mainan Kiev terus kita pulang. Oke?" bocah laki-laki itu menurut. Tersisalah sang Mama dan Azeta.
"Ada apa kamu sama Karel?" todong sang Mama. Zeta menarik napas sejenak. Mungkin sudah saatnya juga memberi tahu Mamanya.
"Karel ayah kandung Kiev, Ma."
****
Masih dapet feelnya ngga?
Komen dan votenya kutunggu yaa hihi
