tiga puluh empat

4.2K 185 15
                                        

"Daddy," panggil Kiev di tengah-tengah cerita yang sedang dibacakan Karel.

"Ya?" sahut Karel.

"Daddy nggak mau tinggal sama Kiev dan Mommy?" tanyanya dengan raut memelas.

'Mau, Kiev. Daddy mau sekali.'

"Sebenarnya Daddy mau kok."

"Tapi kenapa Daddy nggak tinggal disini?"

"Karena... Daddy dan Mommy kan belum menikah."

"Belum menikah tapi kok Kiev udah lahir?" mendengar peranyaan Kiev ini membuat Karel menggaruk keningnya yang tidak gatal.

"Yah, itu kesalahan Daddy sama Mommy." jawabnya jujur. "Tapi yang salah perbuatan kami. Kiev bukan kesalahan. You're a gift." Karel menjelaskan.

"Kata Mommy, Daddy sama Mommy tidak berjodoh." Karel mendengus. Kesal pada Azeta seolah ia Tuhan. Mana tahu kan sebenarnya mereka berjodoh.

"Daddy mau menikah dengan Tante Nadine, ya?" Karel diam. Ia sendiri juga bingung.

"Kiev nggak suka Tante Nadine. Kiev nggak mau Tante Nadine jadi Mommy Kiev juga." Kiev merengek. Mendengar hal tersebut, Karel pun jadi berpikir memang sebaiknya ia melepaskan Nadine.

________

Saat Kiev sudah tidur, ia mendengar suara mobil di depan. Sepertinya Azeta sudah sampai. Ia ingin menginap disini sebenarnya tapi ia khawatir Azeta keberatan.

Ia merapikan buku cerita Kiev dan bedcovernya lalu keluar dengan pelan-pelan. Saat ia berjalan menuju ruang tamu, ia mendengar suara desahan dan kecupan. Jantungnya berdetak cepat. Karena gelap sebab ia mematikan lampunya sebelum menemani Kiev tidur, ia pun menyalakan lampu.

Ia agak terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.

Bangsat!

Azeta yang tali dressnya sudah melorot, Enzo yang 3 kancing kemejanya sudah terbuka begitupun sabuknya.

"Shit!" umpat Azeta yang sangat terkejut. Harusnya ia tidak terkejut karena Karel memang ada disini. Tapi ia terbawa suasana sampai lupa bahwa ada Karel dirumahnya. Ia segera membenahi dressnya yang hampir memperlihatkan seluruh payudaranya yang berisi itu.

"Sorry sorry, gue nggak bermaksud ganggu." ucap Karel. Enzo yang juga terkejut buru-buru membenarkan kemeja dan sabuknya.

"It's okay, Rel." balasnya agak canggung. Azeta berdiri disampingnya. Ia tidak tahu harus berkata apa karena... Situasi macam apa ini?

"Aku pulang dulu, Zet." pamit Enzo. "Rel," ia mengangguk pada Karel dan pria itu membalasnya. Azeta mengantarkan Enzo sampai ke depan.

"Aku minta maaf, En. Aku lupa ada Karel." Enzo tersenyum tipis.

"Bukan salah kamu, Zet. Kita berdua terlalu kebawa suasana." katanya. Pria itu maju dan mencium puncak kepala Azeta sebelum meninggalkan kediamannya.

Saat Azeta kembali kedalam, ia melihat Karel tengah bersiap untuk pulang. Azeta merasa canggung dan tidak tahu mengapa rasanya ia merasa bersalah.

"Mau pulang sekarang?" tanya Azeta basa-basi.

"Ya." jawab Karel datar.

"Makasih udah jaga Kiev malem ini." ucap Azeta.

'ya, disaat lo asik make out sama Enzo kan?'

Karel diam. Ia justru memperhatikan bibir bengkak Azeta yang lipstiknya belepotan. Ia berjalan maju mendekatinya dan menyapukan ibu jarinya ke bibir penuh Azeta tanpa wanita itu duga. Ia terkesiap.

"Lipstik lo belepotan." ujar Karel dingin. Rasanya jelas ia tak rela dan cemburu melihat adegan yang dilakukan Azeta dan Enzo. Ia ingin marah, tapi ia menahan amarahnya.

"Sorry, gue... Kita berdua kebawa suasana." ucap Zeta. Mendengarnya Karel mendengus tertawa.

"Gue nggak akan heran." katanya. "Bukan pertama kali, kan?" mendengar hal itu Azeta tersinggung.

"Maksud lo apa?" Azeta menatapnya tajam.

"Lo memang selalu gini, kan? Ini hal yang biasa buat lo, kan?"

'Bajingan!'

"Hmh! Kayaknya lo butuh kaca, Rel." sindir Azeta. "Bukan gue disini yang selalu tidur sama siapapun. Bukan gue juga yang kumpul kebo sama pasangan." balas Azeta. Karel menelan ludahnya, tersinggung. Tapi membenarkan apa yang dikatakan Azeta.

"Seenggaknya gue nggak munafik, Zet." Azeta tertawa meledek.

"Lo jelas munafik! Kata-kata lo tadi buat gue seolah gue cewek gampangan!" kini meledaklah emosi Azeta. "Atau memang lo anggep gue gitu?" Karel hendak menjawab tapi Azeta menyela.

"Sekarang berapa banyak cewek yang udah tidur sama lo? Berapa banyak hati yang udah lo sakitin? Oh god, gue benci harus bilang ini sama lo!" Azeta berhenti sejenak.

"Seumur hidup gue, cuma lo, bajingan satu-satunya yang pernah tidur sama gue. Dan gue nyesel setengah mati! Fuck off!" usir Azeta yang berbalik untuk meninggalkan Karel.

Mendengar pengakuan Azeta, Karel menyesal, ia sama sekali tidak bermaksud mengatai Azeta murahan atau gampangan. Ia hanya cemburu melihat Azeta bercumbu dengan Enzo.

"Zet, gue minta maaf." Karel mengejar Azeta yang berjalan menuju kamarnya.

"Fuck you, Rel! Brakk!" umpatnya tanpa berbalik pada Karel dan membanting pintu kamarnya.

"Sial!" Karel benar-benar menyesal dan ia memutuskan untuk tetap berada di rumah Azeta.

Air mata Azeta berlinang. Hatinya sakit sekali. Kenapa Karel selalu menyakitinya? Kenapa selalu itu-itu saja pandangan Karel terhadapnya? Karel dari dulu selalu menganggapnya murahan padahal ia tidak pernah sekalipun memberikan hatinya pada selain Karel. Terkecuali Enzo yang sedang ia upayakan.

Kenapa, Rel? Kenapa?

******

Double update hari ini.

Jangan sepi sepi yak komennya hihihi

Love u full guys 💖

beautiful accidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang