tiga puluh tiga

4.5K 178 4
                                        

"Karena... Mommy sama Daddy memang ngga berjodoh." Jawab Azeta sedih. Entah Kiev mengerti atau tidak tentang jodoh.

"Berarti, kita ngga bisa serumah sama Daddy ya?" Air mata Kiev sudah meleleh. Azeta agak kesulitan menelan ludahnya.

"Ya." Azeta membawa Kiev ke dalam pelukannya.

"Mommy tau Kiev sedih. Tapi yang harus kita ingat dan syukuri adalah, Kiev masih bisa ketemu Daddy walaupun kita tidak satu rumah. Kiev bisa main sama Daddy. Kiev juga bisa nginep di rumah Omi sama Daddy. Iya, kan?" Hibur Zeta. Putranya itu mengangguk.

"Tapi, artinya Kiev harus bolak-balik. Kiev ingin Mommy sama Daddy serumah jadi Kiev ngga perlu bolak-balik kalo mau sama Mommy atau Daddy." Ungkapnya sambil menangis. Azeta mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung Kiev. Ia memejamkan mata dan kesusahan menelan ludahnya.

"Maafin Mommy, ya... Mommy belum bisa kabulin yang satu itu." Ucap Azeta merasa bersalah. Air matanya pun mulai berjatuhan.

"Hiks... oh ya, Mommy," Kiev menarik diri dari pelukan Azeta agar bisa menatap sang Ibu. "Kalo Daddy menikah dengan Tante Nadine hiks... apa artinya Kiev akan punya dua Mommy? Hiks..." Pertanyaan Kiev membuat Azeta terdiam. Tiba-tiba ia membayangkan Kiev mempunyai ibu lain selain dirinya. Rasanya ia tidak rela.

Lalu ia teringat pada Enzo. Kiev barangkali belum sadar bahwa Enzo dan dirinya sedang melakukan pendekatan. Bagaimana jika Kiev akhirnya menyadari hal itu? Apakah ia bisa menerima Enzo disaat ia baru saja bertemu dengan Karel?

Pikirannya kini berkecamuk. Ia tidak menjawab Kiev dan hanya mendengarkan isakan Kiev yang dipeluknya kembali sampai keduanya pun tertidur.

______

"Kira-kira, Kiev happy ngga ya, Rel?" Nadine kepikiran. Karel membasahi bibirnya. Kiev terlihat senang, namun berbeda. Seringkali anak itu tiba-tiba diam, seperti tampak berpikir. Mungkin karena tak ada Azeta.

"Dia keliatan happy kok tadi." Hibur Karel. Tapi Nadine tahu Karel hanya mencoba menenangkannya.

"Ayolah, sayang... kalian lagi proses adaptasi." Hibur Karel lagi.

"Tapi waktu sama kamu, dia cepet adaptasinya?" Tanya Nadine. Karel mengangguk.

"Yah, mungkin karena ada ikatan darah." Nadine mendengus pelan. Rautnya tampak sedih.

"Gimana kalau aku ngga bisa ngambil hatinya, Rel? Aku takut." Cemas Nadine.

"Kamu pasti bisa, Nad." Karel meyakinkan wanita itu meski ia sendiri tidak yakin. Bukan berarti Nadine bukan sosok yang tulus hanya saja Kiev seperti memberi jarak pada Nadine. Yah, walaupun mungkin karena mereka sedang beradaptasi atau karena kejadian Nadine membentak Azeta(?)

Entahlah, rasanya Karel pusing sekali memikirkan banyak hal. Memikirkan Kiev dan Azeta, hubungannya dengan Nadine yang kini terasa hambar dan juga pekerjaannya.

Ya Tuhan...

*****

Pagi ini Azeta mengajak Karel untuk mengantar Kiev ke sekolahnya bersama. Azeta pikir supaya Kiev tetap merasakan diantar oleh kedua orang tuanya meski mereka tidak harus menjadi pasangan hidup. Tapi setidaknya mereka tetap menjadi partner untuk orang tua Kiev.

Sesampainya disana, setelah berpamitan pada Azeta dan Karel, Kiev melambaikan tangan pada Cleo.

"Cleoo," teriaknya yang kemudian berlari menghampiri gadis cilik itu. Cleo berhenti dan menunggu Kiev untuk bersama-sama nemasuki kelas mereka.

"Hai," Enzo yang kali ini mengantar Cleo pun menghampiri Azeta dan Karel.

"Hai," balas Azeta tersenyum sumringah. Mereka pun berpelukan sesaat. Diam-diam Karel mengamati ekspresi Azeta.

beautiful accidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang