lima belas

12K 768 30
                                        

Note: banyak typo, belum di revisi

****

"No, of course not." jawab Azeta berdusta.

"Gue ngga menghindar dari kalian." dustanya lagi. Dan matanya kini tertuju pada bekas luka sobek di sisi kiri bibir Karel.

"Ini kenapa?" Azeta hampir menyentuhkan tangannya pada bibir Karel secara refleks sebelum seseorang memanggilnya.

"Azeta," wanita itu sontak menoleh dan menatap ke arah si pemanggil.

"Enzo," gumamnya yang langsung menurunkan tangannya. Enzo yang bersama putrinya menatap Karel dan Azeta bergantian. Begitu juga dengan Karel yang menatap Enzo dan Zeta bergantian. Bertanya-tanya bagaimana Azeta bisa mengenal Enzo?

"Om Karel!" seru Cleo riang yang segera menghambur dalam pelukan Karel. Pria itu tersenyum penuh kasih sayang lalu menggendongnya. Dan mencium pipinya. Azeta menatap pemandangan itu dengan hati berdesir, membayangkan bahwa Kiev yang di gendong oleh pria itu.

"Om Karel, tadi aku nyari-nyari Om tau!" katanya.

"Emang mau ngapain?" tanya Karel.

"Main dong." jawab Cleo yang kemudian mendapat ciuman gemas lagi dari Karel.

"Hai," Enzo mendekat pada Azeta dan menyunggingkan senyum menawan. Wanita itu segera sadar dan menatap pria yang luar biasa tampan itu.

"Hai," balas Azeta.

"Saya tau kita bakal ketemu lagi." ujar Enzo.

Yaiyalah. Batin Azeta.

Tapi mau tak mau ujarannya membuat Azeta tersenyum malu-malu.

"Kalian berdua saling kenal?" tanya Karel penuh selidik. Enzo hendak menjawab namun pertanyaan Cleo menghentikan niatnya.

"Kiev ngga ikut?"

Mampus gue!

Azeta panik dan ia terlihat pucat pasi.

"Kiev?" tanya Karel pada Cleo.

"Iya. Temen aku."  Azeta memejamkan mata ketar-ketir. Sedangkan Karel merasa tidak asing mendengar nama Kiev dan ia teringat bahwa itu adalah anak Aletta yang ia temui saat bertemu dengan Alena.

"Anak Aletta, Zet?" tanya Karel yang membuat Azeta dapat bernapas lega.

"Ya." jawab Azeta cepat dan lugas. Membuat Enzo mengernyit. Ia tahu Azeta berdusta. Ia tahu betul bahwa Kiev adalah anak Azeta dari sang Mama. Bahkan Mamanya bercerita bahwa anak itu ada karna kecerobohan Azeta saat one night stand dengan stranger. Lalu sang mama menambahkan, "yah, kenakalan remaja."

Azeta yang memergoki pandangan menghakimi Enzo segera mendekatinya.

"Bisa bicara sebentar?" tanyanya.

"Ya. Rel, nitip Cleo bentar." pinta Enzo yang dihadiahi pandangan curiga Karel. Mereka berdua pun menjauh.

Jika benar Enzo naksir dengannya, maka lupakan saja soal jaga image dan ia akan blak-blakan. Yah, hitung-hitung mengetesnya apakah ia akan menerima Azeta apa adanya atau malah menjauhinya setelah ini. Toh, yang ia butuhkan adalah orang yang dapat menerimanya dan Kiev apa adanya.

"Just so you know, mungkin kamu tau Kiev anakku." Azeta menatap pria tampan itu tanpa gentar.

"Dan ya, dia memang anakku dan kamu jelas tau aku bohong didepan Karel. Itu karna aku punya alasan." Enzo balas menatapnya sembari mencerna ucapan Zeta barusan.

Azeta tidak berbohong pada Juno namun ia berbohong pada Karel. Satu-satunya alasan adalah... Mungkinkah...

Enzo membelalakkan mata. Membuat Azeta mengaduh, astaga, sayang sekali... pria ini bahkan terlihat sangat tampan dengan ekspresinya saat ini.

"Apa mungkin..." Enzo menggantung kalimatnya.

"Ya, Karel ayah kandung Kiev." sahut Zeta yang membuat Enzo tampak tercengang.

"Tapi... bukannya karna one night stand?" Azeta menahan diri untuk memutar bola mata. Ia sudah dapat menebak, informasi ini pasti dari mulut sang Mama yang bocor. Azeta menggeleng.

"Jadi, semua itu bohong?"

"Ya." Azeta menyilang tangan didada, ia tak mengelak.

"Selamat datang di dunia Azeta yang penuh tipu-tipu." Azeta melambaikan tangan ke udara dan menyunggingkan senyum palsu. Ada sepercik kekecewaan di mata Enzo. Ia menelan ludahnya.

"Jadi, Karel ngga tau soal Kiev?" Azeta menggeleng.

"Aku ngga mau dia tau." katanya.

"Maksudku, aku belum mau dia tau." ia mengoreksi.

"Kenapa kamu ngasih tau aku soal ini?" tanya Enzo. Sekarang ia ikut-ikutan memakai aku-kamu.

"Karna aku ngga mau kamu kelepasan."

"Aku bisa jaga rahasia." ujar Enzo meyakinkan.

"Bagus," kali ini Azeta tersenyum namun tak sampai menyentuh mata. Dan ia bertanya-tanya, kira-kira apakah setelah ini Enzo akan menjauh darinya dan mundur teratur? Bahkan sebelum dimulai?

Dari kejauhan Karel menatap Enzo dan Azeta yang terlibat pembicaraan serius. Itu jelas membuatnya penasaran.

"Rel, astaga, aku nyari kemana-mana. Ayo, kita foto dulu." ajak Nadine yang datang setelah mencari Karel.

"Kak Enzo mana?" tanyanya saat melihat Cleo digendongan kekasihnya sembari celingak-celinguk. Lalu ia menemukan Enzo bersama Azeta yang sedang berjalan ke arah mereka bersamaan dengan Cleo yang minta turun dan segera lari saat melihat Omanya.

"Zet," sapa Nadine ramah.

"Nad," balasnya dengan tersenyum.

"Ayo, Kak Enzo foto dulu." ajak Nadine.

"Mmm, klo gitu aku pamit dulu." pamit Zeta yang menatap mereka bergantian.

"Tadi kamu kesini dijemput atau...?" tanya Enzo menggantung.

"Aku berangkat sendiri." jawab Azeta tersenyum.

"Oh, sayang sekali," Enzo terlihat kecewa. Padahal ia ingin mengantarnya.

"Padahal Cleo pengen sekali ketemu Kiev." mendengarnya sontak Azeta mendelik sesaat yang di respon tawa kecil Enzo.

Sialan! Pria ini mengerjainya.

Azeta segera melirik sekilas ke arah Karel yang sepertinya tak tampak curiga. Hanya saja, tatapan pria itu tampak seperti orang yang tengah merajuk.

Nadine yang memperhatikan keduanya pun tersenyum dan memegang lengan kokoh Karel.

"Mereka serasi ya," bisiknya. Karel hanya menatap nanar lalu memberikan senyum terpaksa pada Nadine. Ia bisa melihat kakak ipar Juno yang juga dekat dengannya ini tertarik pada Azeta.

Dan memikirkan tentang hal itu membuatnya tak suka. Itu mengganggunya.

"Klo gitu aku pulang dulu. Rel, Nad," ia mengangguk pada Karel dan Nadine lalu menghadap Enzo dan hanya tersenyum padanya, bingung hendak memanggil apa. Pria itu terlihat jauh lebih dewasa. Usianya mungkin sekitar 30an.

"Hati-hati, Zet." pesan Nadine. Azeta pun mengangguk dan segera melangkah pergi dari acara itu. Hingga seseorang berlari dan memanggilnya. Ia menoleh dan sosok itu mendekat.

"Kita belum selesai, Zet. Masih ada banyak hal yang perlu kita omongin."

"Oke," hanya itu tanggapan Azeta. Sesaat mereka bertatapan dengan canggung sampai kemudian Karel memeluknya, erat.

"Gue kangen sama lo."

🌻🌻🌻

Vote dan komennya jangan lupa yaaa 💕💞

beautiful accidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang