Saat Azeta keluar dari kamarnya, ia agak terkejut melihat Karel yang tidur di sofa. Ternyata pria itu tidak pulang. Ia mendengus dan memilih membiarkannya. Ia mulai prepare untuk memasak sarapan dan bekal untuk Kiev.
"Mommy," Kiev keluar dari kamarnya sembari mengucek mata.
"Ya? Mandi dulu, Kiev." suruh Azeta. Tapi Kiev yang melihat Karel masih tidur di sofa merasa girang. Jadi bukannya menuruti Azeta, ia malah mendekati Karel. Azeta memutar bola mata.
"Daddy," ia membangunkan Karel yang kemudian kaget dan sadar berada dimana ia. Melihat putranya yang tampan itu ia pun tersenyum dan berusaha duduk.
"Hai, jagoan." sapanya dengan suara serak.
"Daddy tidur disini? Kenapa nggak tidur sama Kiev?"
"Daddy ketiduran disini."
"Ohh, nanti malam Daddy tidur sini lagi ya... Tapi sama Kiev." pintanya. Karel hanya tersenyum.
"Mandi, Kiev." Azeta mengingatkan lagi.
"Oke, Mommy." Kiev pun segera ke kamar mandi. Sementara Karel menghampiri Azeta yang tengah sibuk.
"Aku mau numpang ke kamar mandi kamu, boleh?" Ijinnya pada Azeta.
"Hmm," jawab wanita itu. Karel yang sudah kebelet segera masuk ke kamar Azeta.
"Kamu masih marah sama aku, Zet?" tanyanya setelah selesai buang air kecil dan cuci muka.
"Masih." jawab Azeta singkat dan ketus.
"Aku nggak bermaksud, Zet. Aku cuma—"
"Minta tolong nanti kamu yang anterin Kiev." Pangkasnya langsung. Ia benar-benar masih marah. Karel mendesah dan memutuskan untuk kembali ke ruang tengah. Ia pikir, Azeta mungkin butuh waktu.
Ia membuka ponselnya. Ada 2 panggilan tak terjawab dari Nadine. Juga beberapa pesan.
Ia pun kemudian menghubunginya.
"Kamu semalem dimana, Rel?" tanya Nadine saat ia sudah mengangkat panggilan dari Karel.
"Aku tidur dirumah Azeta." Jujur Karel.
Hening.
"Nad?"
"Ya?"
"Nothing happened. Aku tidur di ruang tengah."
"Ya. Aku percaya kamu, Rel." kata Nadine lebih kepada menghibur diri. Tapi memang tidak terjadi apa-apa antara Azeta dan Karel.
"Nanti malem aku pulang."
"Oke." lalu Karel mematikan telepon tersebut.
"Mommy, Kiev sudah siap." lapor Kiev pada Mommynya.
"Oke, sekarang kita sarapan dulu sama Daddy terus nanti Kiev dianter Daddy ya..."
"Yeaaayyyy." Kiev pun bersorak senang. "Ayo, Daddy kita sarapan." mereka bertiga pun sarapan bersama walaupun Azeta masih marah dengan Karel.
Saat Karel mengantar Kiev, ia bertemu dengan Enzo. Pria itu mendekatinya. Walaupun Karel masih kesal setengah mati dengan Enzo, ia tetap bersikap hormat dan baik.
"Rel, weekend kosong?" tanyanya.
"Nanti coba gue liat dulu." Karel basa-basi.
"Gue pengen ngajakin Lo, Juno, sama Azeta liburan di puncak." kata Enzo. "Gue udah tanya sama Azeta, dia bilang dia bisa. Juno sama Livia juga bisa. Lo bisa bawa Nadine."
"Oh, oke. Nanti coba gue tanya Nadine." Ujar Karel. Tapi, jika Nadine tidak bisa ia tetap akan ikut. Ia tidak bisa membiarkan Azeta dan Enzo bersama lalu mereka berakhir bercinta.
Tidak, tidak! Bayangan itu sangat dibencinya. Terlebih putranya juga akan ikut. Ia tidak ingin jauh-jauh dari Kiev apalagi saat weekend. Itu waktu mereka.
Enzo menepuk bahu Karel sebelum berpamitan padanya. Diam-diam ia menatap punggung Enzo sengit. Ia tidak akan membiarkan Enzo berada di sisi Azeta dan putranya lebih lama lagi.
******
Akhir pekan telah tiba. Sesuai ajakan Enzo, mereka semua liburan dipuncak dan menginap di salah satu Villa disana. Villa itu cukup mewah dengan fasilitasnya yang lengkap. Terdiri dari 3 kamar dan setiap kamarnya terdapat kamar mandi. Salah satu kamarnya bisa untuk banyak orang. Pemandangannya juga sangat indah.
Kiev dan Cleo tampak senang sekali. Mereka berlarian dan memainkan fasilitas untuk anak-anak.
"Pa, aku mau renang, ya." Pinta Cleo.
"Ya, nanti bareng-bareng ya sama Kiev juga." Ujar Enzo. Cleo dan Kiev pun berlari ke playground. Para pria berkumpul di dining room sedang para wanita merapikan bahan makanan yang mereka bawa di dapur. Nadine dan Livia jelas tampak akrab tapi Azeta pun bisa mengimbangi mereka. Bahkan mereka bertiga bercanda dan tertawa bersama.
Diam-diam, Karel memperhatikan. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia tidak menyangka Azeta yang tomboy kini bisa bergaul dan menyesuaikan diri dengan para wanita.
"Liat apa lo?" Juno yang duduk disamping Karel menyenggol lengannya. Sedang Enzo sedang memainkan ponsel.
"Kadang masih nggak nyangka Azeta udah sedewasa ini sekarang." ujar Karel lirih. Juno tak langsung merespon Karel apalagi saat raut Karel tiba-tiba berubah.
"Dia marah sama gue." Curhat Karel akhirnya.
"Lo ngapain Lagi?" Tanya Juno tak habis pikir.
"Gue nggak bermaksud nyakitin dia."
"Tapi lo nyakitin dia?" Karel mengangguk.
"Gue liatin anak-anak dulu." pamit Enzo yang kemudian ke playground.
"Gue ngerasa... Kayaknya gue nggak bisa lanjutin hubungan gue sama Nadine, Jun."
"Yang bener aja, Rel?! Kalian udah tunangan. Dia tulus sama lo, mau nerima masa lalu lo dan mau nerima Kiev."
"Gue tau, Jun. Tapi gue ngerasa bohongin diri sendiri, bohongin dia juga. Perasaan gue udah nggak ada di dia lagi."
"Karna Azeta?"
"Ya. Perasaan gue sama Azeta dari dulu ternyata belum berubah. Gue juga mikirin anak gue. Dia bilang, dia pengen kita tinggal bareng tanpa dia harus bolak-balik. Apalagi dia belum lama ketemu gue." Juno akhirnya memahami hal itu. Ia juga calon ayah jadi mengerti perasaan Karel.
"Tapi lo bakal nyakitin Nadine."
"Daripada gue paksain nikah sama dia tapi hati gue kemana-mana dan jadi nggak maksimal rumah tangga kita dan berakhir perceraian, mending gue akhiri sebelum itu terjadi." Apa yang dibilang Karel memang ada benarnya. Juno memang dulu sempat punya perasaan pada Azeta dan benci saat kedua sahabatnya ini bermain dibelakangnya. Tapi pada akhirnya ia juga ingin Azeta bahagia. Begitu juga dengan Karel, Juno pun menginginkannya bahagia.
"Gimana sama Zeta? Kak Enzo?"
"Yah, yang pasti gue mau ngobrol dulu sama Zeta."
"Kalo dia nolak lo?" Karel diam sejenak. Ia berharap Azeta juga memiliki perasaan yang sama dan mau menerimanya.
"Ya berarti gue single. Tapi gue mau fokus sama Kiev." jawabnya. Lalu Cleo dan Kiev datang.
"Daddy, ayo berenang." ajak Kiev. "Ayo, Uncle Jun." bocah itu juga mengajak Juno.
"Oke." jawab keduanya.
"Liv, aku berenang dulu, Beb." lapor Juno pada Livia.
"Iya, Beb."
Para pria dan dua bocah cilik itu pun berenang disaat para wanita asik memasak di dapur.
*****
Jangan lupa vote dan komen yakkk
