Karel tak bisa fokus dengan pekerjaannya setelah mengantarkan Azeta ke dokter. Ia benar-benar mencemaskan kondisi ibu putranya itu. Dokter bilang asam lambung Zeta sedang naik dan tadi wanita itu benar-benar terlihat lemas. Ia ingin sekali menjaga Azeta tapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Lagipula, wanita itu juga melarangnya.
Sepulangnya dari kantor, ia segera menuju rumah Azeta. Ia menyempatkan diri membeli buah-buahan, beberapa bahan makanan juga bubur untuk wanita itu. Tak lupa, ia juga membeli camilan untuk putranya.
Sesampainya disana, ia melihat ada sebuah mobil yang dikenalnya terparkir disana. Ia mendengus kesal tapi ia tetap turun.
"Uncle!"
"Om Karel!" Kiev dan Cleo yang tengah asyik bermain di ruang tamu berseru bersamaan saat melihat Kiev. Mereka menghambur ke arah Karel yang sedang menenteng banyak bawaan. Mereka memeluk kakinya.
"Mommy mana?" tanya Karel pada Kiev.
"Di kamar." jawab putranya. Lalu Karel mengeluarkan camilan untuk Kiev dan Cleo.
"Yeay... Makasih, Uncle." girang Kiev.
"Ini kan kesukaanku. Makasih ya, Om." ucap Cleo. Karel tersenyum kepada mereka.
"Uncle mau masukkin ini ke dalam dulu, oke?" kedua bocah itu mengangguk dan kembali bermain sembari memakan cemilannya. Karel membawa barang bawaannya ke dapur sembari melirik kamar Azeta yang tertutup dengan tak suka. Tentu saja Enzo ada didalam tanpa ia bertanya kepada kedua bocah itu.
Ia memasukkan beberapa ke dalam kitchen set dan beberapa yang lainnya ke dalam kulkas. Ia menatanya dengan rapi. Ia juga menyiapkan bubur yang dibelinya untuk Azeta.
Namun, saat ia berdiri di depan kamar Azeta untuk memberikannya pada wanita itu, keraguan menghampirinya. Siapkah ia melihat kebersamaan mereka berdua?
Tidak. Tentu tidak. Cari penyakit saja!
Ia pun mengurungkan niatnya, meletakkan bubur itu di atas konter lalu bersiap untuk pergi. Azeta mungkin tak butuh dirinya karena sudah ada Enzo.
"Ya, Azeta nggak butuh gue. Dia nggak pernah butuh gue." pikirnya dengan perasaan kecewa.
"Uncle mau kemana?" tanya Kiev saat Karel hendak bersiap pergi.
"Ssst..." tegur Karel yang tak mau Azeta dan Enzo menemukannya. Ia menyejajarkan diri dengan Kiev dan Cleo. "Uncle mau pulang dulu." ia memelankan suaranya.
"Yah, kok Uncle udah mau pulang?" Kiev tampak kecewa.
"Om Karel nggak seru nih." Cleo memasang ekspresi merajuk. Pria itu pun menarik kedua bocah itu ke dalam pelukannya. Ia mengecup Kiev dan mengelus kepala Cleo.
"Kita main lain kali, oke?" janjinya sembari melepaskan mereka.
"Janji?" tanya Cleo. Karel memasang jari kelingkingnya.
"Janji." katanya. Kedua bocah itu menyambut jarinya.
Karel memasuki mobilnya setelah melambaikan tangan pada kedua bocah kesayangannya itu. Ia mendesah lalu mengecek ponselnya sebelum menjalankan mobilnya. Matanya membelalak saat melihat belasan panggilan tak terjawab dari Nadine. Ia baru teringat akan tunangannya itu.
"Astaga," ia pun buru-buru meninggalkan kediaman Azeta dan menuju tempat dimana Nadine telah menunggunya.
________
"Kamu istirahat aja, Zet. Biar aku yang urus anak-anak." ujar Kenzo. Mendengarnya, pipi Azeta yang pucat merona. Bagaimana tidak? Enzo mengatakannya seolah mereka adalah sepasang suami istri.
