tiga puluh tujuh

4.9K 194 43
                                        

Menjelang malam, mereka semua barbeque bersama. Para wanita yang meracik saucenya sedangkan para pria yang membakarnya. Mereka benar-benar menikmati malam itu dengan penuh canda tawa meski Azeta mengabaikan Karel yang berusaha mencari perhatiannya.

Azeta terlibat obrolan seru dengan Nadine dan Livia. Keduanya benar-benar menyenangkan. Kiev dan Cleo pun terlihat senang dan menikmati liburan akhir pekan ini.

"Ayo, anak-anak waktunya tidur." ajak Enzo.

"Papa, aku boleh nggak tidur sama Papa?" tanya Cleo.

"Kamu tidur sama Tante Zeta, Tante Livia dan Tante Nadine ya." ujar Enzo pada putrinya. Dengan berat hati Cleo mengangguk.

"Liv, Nad, kalian duluan aja sama Cleo. Aku mau cuci peralatan ini semua." pinta Azeta pada Livia dan Nadine.

"Kamu serius, Zet? Aku bantuin ya?" tawar Nadine.

"Nggak usah, Nad. Biar aku sendiri aja." tolak Azeta halus.

"Ayo, Kiev." kini Karel mengajak Kiev untuk tidur.

"Good night, Cleo. Besok kita main lagi ya." ucap Kiev pada Cleo.

"Oke. You too." balas Cleo. Mereka saling melambaikan tangan sebelum ke kamar masing-masing. Hanya tersisa Azeta dan Enzo.

"Mau aku bantu?" tawar Enzo.

"Nggak usah, En. Kamu istirahat aja." lagi-lagi Azeta menolak.

"Kamu yakin, Zet?" Enzo tampak memastikan. Wanita itu mengangguk mantap. Enzo pun maju untuk mengecup pipi Azeta dan merangkul pinggangnya sebelum meninggalkannya.

Azeta seharusnya salah tingkah dengan apa yang dilakukan Enzo. Namun entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dengan pria itu. Matanya tampak sedih dan lelah. Jujur saja Azeta kepikiran.

Apa Enzo masih merindukan Kak Jane?

Azeta melanjutkan aktivitasnya. Saat hampir selesai sebuah suara yang memanggilnya mengagetkannya dan membuatnya berteriak.

"Aaaa..." ia hampir menjatuhkan piring. Saat melihat siapa sosok yang membuatnya kaget, ia semakin kesal. Apalagi sosok itu tertawa.

"Sialan! Nggak lucu, Rel!" kesalnya.

"Sorry, Zet. Aku nggak bermaksud ngagetin kamu." ucap Karel merasa bersalah. Azeta tak menjawabnya dan buru-buru untuk selesai. Sedang Karel masih disana, menunggunya.

"Zet," Karel menarik pergelangan tangan Azeta saat wanita itu hendak pergi dari dapur.

"Apa?!" ketus Azeta sembari menarik tangannya dengan kasar. Wanita itu terlihat masih marah.

"Kamu masih marah, Zet?"

"Lo masih nanya, Rel?" Azeta geleng-geleng kepala tak habis pikir.

"Aku minta maaf, Zet." ucap Karel serius.

"Lo cuma bisa nyakitin gue, Rel."

"Zet, aku cuma nggak suka liat kamu sama Enzo." aku Karel akhirnya, membuat Azeta semakin tak habis pikir.

"Hubungan gue sama dia, nggak ada urusannya sama lo dan lo nggak berhak!" tandasnya.

"Zet," Karel membasahi bibirnya. "Aku sayang sama kamu, Zet. Aku udah cinta sama kamu dari dulu dan ternyata nggak pernah berubah sampai sekarang. Bahkan saat disuruh milih antara kamu sama Agatha aku lebih milih kamu." ungkapnya. Mendengarnya, membuat Azeta terkejut dan membeku sesaat. Namun hatinya agak melunak. Ada kelegaan yang menggelitik mendengar pengakuan Karel.

"Tapi apa kamu berhak ngejudge aku malam itu, Rel? Kamu nyakitin aku." Tapi mengingat malam itu, Azeta masih tampak terluka

"Aku tahu aku keterlaluan dan berengsek. Tapi, ngeliat kamu sama Enzo malam itu dalam keadaan... kacau, rasanya aku mau marah. Tapi aku sadar aku nggak berhak marah dan malah berakhir passive agresif." Azeta diam. Ia menelan ludah dan matanya menyayu.

"Kenapa kamu seegois ini, Rel?" tanya Zeta. "Nadine gimana? Enzo gimana?"

"Aku sadar ternyata selama ini aku cuma bohongi diri. Kamu nggak tau gimana aku dulu selalu nunggu kamu pulang ke Jakarta. Bahkan aku harus ke Manchester sama Juno walaupun hasilnya nihil. Pikiranku selalu pengen tau gimana keadaan kamu. Saat kita ketemu lagi untuk yang pertama kali, aku memang mutusin buat nggak kehilangan jejak kamu lagi sampai akhirnya aku tau aku punya anak dari kamu." ungkapnya panjang lebar.

"Terus apa, Rel? Aku nggak mau jadi pelakor dihubungan kalian. Aku nggak mau nyakitin Nadine dan Enzo, Rel." Azeta mencoba berpikir rasional. Ia tidak ingin egois setelah mengetahui perasaan Karel yang sebenarnya.

"Aku juga nggak mau nyakitin dia, Zet. Demi Tuhan aku nggak mau nyakitin dia. Tapi aku lebih jahat dan munafik kalo mempertahankan hubungan ini karena bohongin dia. Aku mau jujur tentang perasaanku yang sebenernya."

"Jangan gila, Rel! Kalian udah sejauh ini."

"Aku harus gimana, Zet?" Karel tampak frustasi. "Disatu sisi aku nggak mau nyakitin dia, disisi lain aku pengen hidup sama kamu dan Kiev. Aku pengen nebus waktu yang udah Kiev lewatin tanpa aku. Aku pengen nebus kebrengsekanku dulu dan hidup sama orang yang aku cinta selama ini." Azeta menggeleng. Ia bingung, jadi Karel pasti serba salah.

"Zet, please." ia meraih tangan Azeta dan membawanya mendekat. Ia lalu menangkup wajahnya. "Bisa kamu jawab jujur, Zet?" tanya Karel yang belum melontarkan pertanyaannya.

"Apa kamu nggak punya perasaan apapun sama aku, Zet?" Jika sebelumnya Azeta tidak mengakuinya, kini ia menunjukkan gelagat bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan Karel.

"Aku bisa ngalah soal perasaan. Tapi seandainya kita nggak ketemu, pasti sekarang kamu udah nikah sama Nadine, Rel."

"Nggak ada yang tau, Zet. Siapa tau justru aku putus sama dia karena hal lain. Kayak sehebat apapun kamu nyembunyiin Kiev dari aku, akhirnya aku tau juga. Bahkan kamu nggak expect itu bakal terjadi secepat ini, kan?" Karel menatap Azeta intens.

"Nggak ada yang bisa prediksi masa depan, Zet. Jadi, jangan berandai-andai." Karel lalu mengecup dahi Azeta, membuat jantung wanita itu berdegub kencang.

"Rasanya semuanya rumit, Rel. Aku bingung." ujar Azeta lirih. Ia benar-benar memikirkan Nadine dan Enzo.

"Ya. Maka dari itu aku mau coba menyederhanakannya. Aku bakal ngomong sama Nadine yang sebenarnya. She deserves better." ujar Karel yang kemudian mencium bibir Azeta lembut dan seringan bulu. Meski Karel menginginkan lebih tapi ia dapat menahannya. Sedang Azeta segera menarik diri sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Seperti make out misalnya.

Tidak boleh. Mereka mempunyai pasangan masing-masing.

Apa ini termasuk selingkuh?

"Apa kamu udah pikirin ini mateng-mateng, Rel? Aku nggak mau kamu memutuskan hal ini karena kasihan sama Kiev. Aku nggak mau kamu nyesel seumur hidup."

"Aku serius, Zet. Aku udah mikir mateng-mateng. Lagipula mana mungkin aku nyesel buat milih anakku dan Mommynya? Kiev juga berharap kita bertiga bisa tinggal bareng." Azeta diam. Berpikir. Ia masih mencintai Karel dan putranya menginginkan keduanya bersatu. Tapi konsekuensinya adalah membiarkan beberapa orang patah hati dan kecewa.

Apa yang akan ia putuskan?

"Kalo semisal aku nolak?"

"Nggak papa. Aku bakal tetep ngomong sama Nadine." sepertinya Karel memang sudah mantap dengan keputusannya.

"Aku—"

"Gimana perasaan kamu sama Enzo?" tanyanya memotong Azeta.

"I like him." jujurnya.

"Mmm..." Karel mengangguk. "More than me?" dengan wajah merona karena pertanyaan tak terduga dari Karel, Azeta menggeleng. Pria itu tersenyum.

"I love you, Zet."

******

Akhirnya setelah berapa purnama yaaa.... Dan setelah vote mencapai 100 lebih hihi

Suka tidak?

Coba komen gmn part ini? Yang banyak yaa

Dan jangan lupa vote yaa... Sampe 100 bisa dong yaa... Hihi

Makasih sudah meluangkan waktu untu membaca...

Love you guys💓

beautiful accidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang