"Ayo masuk, jagoan." Ajak Karel pada Kiev yang malu-malu untuk memasuki rumah Ominya. Karena Kiev tampak canggung, Karel pun segera mengangkat bocah laki-laki itu dan menggendongnya.
"Omi, coba liat ada siapa?" Suara Karel terdengar exited saat ia membawa Kiev masuk ke dalam ruang tengah. Sang Omi pun segera berdiri dari duduknya dan menatap Kiev yang berada dalam gendongan putranya.
Betapa tampan dan polosnya cucunya ini. Ia langsung jatuh cinta saat itu juga. Ia pun menyunggingkan senyum tulusnya.
"Sekarang salim sama Omi dulu, oke?" Karel pun menurunkan Kiev dari gendongannya dan bocah laki-laki itu segera menghampiri sang Omi dan mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Kiev, ya?" Kiev pun mengangguk dengan tersipu.
"Kamu ganteng sekali kayak Daddy waktu kecil." Puji Omi sembari menyentuh wajah Kiev dan mengecup pipinya.
"Ocha mana, Ma?" Tanya Karel.
"Lagi mandi. Padahal udah daritadi lho." Jawab sang Mama.
"Cha, turun nak. Udah selesai belum? Kiev udah dateng nih." Wanita paruh baya itu memanggil Ocha yang tengah berada di lantai atas. Mandi.
"Iya, Ma." Teriak Ocha yang sudah selesai dengan dandanan simple. Ia pun buru-buru turun karena exited sekali ingin bertemu dengan keponakannya itu.
"Halo, Kiev. Kenalin ini Onty Ocha. Adik Daddy Kiev." Ocha memperkenalkan diri pada Kiev. Ia membungkuk, menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi Kiev. Bocah laki-laki itu lagi-lagi mengangguk malu-malu. Membuat Ocha gemas.
"Yaampun... gemes banget sih?!" Ocha mengacak rambut Kiev lembut.
"Kiev udah sarapan belum? Omi udah siapin banyak makanan buat Kiev. Kiev boleh ambil apapun yang Kiev suka."
Kiev menatap Karel meminta persetujuannya karena biasanya ia melakukan hal yang sama saat ada Azeta. Hanya saja sayang sekali Mommynya itu sedang tidak bisa ikut mereka kali ini.
Karel pun mengangguk mengijinkan. Dan Ocha mengajak Kiev ke ruang makan yang bersatu dengan dapur.
"Dia sopan sekali." Bisik sang Mama takjub pada Karel. Pria itu mengangguk. Ia tersenyum bangga.
"Zeta cukup berhasil didik dia." Puji Karel tanpa sepengetahuan Azeta.
"Kapan Mama bisa ketemu Azeta? Mama pengen ngobrol-ngobrol juga sama dia. Gimanapun, dia ibu dari cucu pertama Mama."
"Nanti biar Karel tanya ke dia." Ujar Karel yang tidak tahu mengapa ia merasa senang. "Btw, Karel ngga ditawarin sarapan nih? Cuman Kiev doang nih?" Karel pura-pura merajuk.
"Astaga, kamu nih." sang Mama menepuk lengan Karel pelan, tak habis pikir. Keduanya pun terkekeh dan kemudian menyusul Ocha dan Kiev.
_______
"Mommy..." Kiev menghambur ke arah Azeta dan memeluknya sepulangnya ia dari kediaman sang Omi. Karel yang mengantarnya tersenyum melihatnya. Ia senang melihat putranya tampak menikmati hari ini.
"Gimana hari ini? Kiev happy?" Tanya Azeta.
"Ya." Jawab Kiev. "Ada banyak makanan di rumah Omi. Trus makanannya enak-enak banget lagi. Omi pinter masak. Tapi tadi Kiev makan secukupnya biar ngga muntah." Kiev terlihat sangat ekspresif hari ini. Membuat Azeta berbunga.
"Mau main ke rumah Omi lagi?" Tawar Azeta.
"Mauuuu." Kiev semangat. Zeta pun mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala putranya.
"Kiev mau mandi dulu ya, Mommy, Daddy." Ujar Kiev kemudian.
"Oke." Kiev pun berlari dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Mommy dan Daddynya.
"Makasih udah bikin dia seneng hari ini." Ucap Azeta tulus.
"Itu udah jadi kewajibanku, Zet." Kata Karel. "Cita-citaku sekarang cuman satu, mau bahagiain dia." Tambah pria itu yang membuat Azeta merasakan sesuatu mengaliri tubuhnya. Sesuatu yang hangat.
Azeta menelan ludahnya. Tina-tiba suasana berubah menjadi canggung.
"Mmm... masuk dulu, Rel. Aku bikinin minum." Azeta yang sedari tadi berada di teras bersama Karel sejak kedatangan pria itu dan putranya pun akhirnya mempersilahkan masuk. Karel mengangguk dan mengikuti langkah wanita cantik itu.
"Jadi, udah ada kabar dari Nadine?" Tanya Azeta sembari menghidangkan secangkir kopi untuk Karel. Pria itu menggeleng. Rautnya berubah putus asa.
"Belum." Jawabnya. "Dari kemarin dia ngga bisa dihubungi." Azeta menatap Karel sesaat. Secercah harapan yang tadi muncul kembali padam. Ia berpikir sepertinya Karel amat menyayangi Nadine.
Ia harus menekan kuat harapannya yang secuil itu. Karena ia tidak mau bersikap jahat. Karel dan Nadine tidak boleh berpisah.
"Dia masih butuh waktu, Rel. Kalo aku diposisi dia pasti aku juga bakal ngelakuin hal yang sama. Banyak hal yang harus dipertimbangin." Ujar Zeta. Karel mengangguk mengerti.
"Aku bakal nunggu sampai dia tenang."
*****
Sudah lima hari ini Karel tidak dapat menghubungi Nadine. Sepertinya wanita itu benar-benar menghindarinya. Tapi sampai kapan?
Saat ia pulang dari rumah Azeta ke apartemennya, ia dikejutkan dengan kedatangan Nadine tanpa sepengetahuannya. Wanita itu tidak memberi kabar padanya sama sekali.
"Nadine," gumamnya tak percaya. Wanita itu tersenyum sembari menahan tangis dan segera menghambur dalam pelukan Karel. Pria itu pun membalasnya.
"Aku kangen kamu." ungkap Nadine. Karel diam sejenak. Bertanya-tanya apa ia merindukan Nadine? Ia mencemaskan Nadine, itu sudah pasti.
Tapi beberapa hari kemarin hari-harinya diisi oleh Kiev dan Azeta. Dan ia teringat, setiap malam selama lima hari ini ia merasa kesepian tanpa Nadine disisinya.
"Aku juga." balasnya.
"Maafin aku kemarin. Aku keterlaluan." ucapnya setelah melepas pelukannya.
"Itu normal, sayang. Aku tahu pasti ini berat buat kamu." Karel memaklumi.
"Tapi aku pikir, sekarang aku udah bisa nerima dia, Rel. Dia bagian dari kamu dan aku nggak bisa ignore hal itu." Karel tersenyum mendengarnya.
"Aku juga minta maaf karena telat ngasih tau kamu." Karel turut meminta maaf. Nadine mengangguk dan kembali memeluk Karel.
"Aku besok mau ketemu dia ya?" Pinta Nadine.
"Boleh,"
"Apa yang dia suka?"
*****
"Daddy," Kiev segera menghambur ke arah Daddynya saat ia yang tengah bermain lego melihat Karel.
"Ah, ini dia jagoan Daddy." Karel memutar-mutar tubuh Kiev dalam gendongannya lalu menciumnya. Nadine yang melihatnya tersenyum gemas. Karel memang luwes dengan anak kecil. Tak heran Kiev tampak menempel dan menyayanginya meski belum lama ini bertemu. Sepertinya ia memang tidak salah pilih. Jika dengan Kiev ia bisa menjadi ayah yang baik, dengan anak mereka pun pasti takkan ada beda.
Kiev yang tengah tertawa tiba-tiba berhenti saat melihat Nadine. Yang ia ingat, perempuan itu adalah tante yang telah membentak mommynya dan membuat keributan di rumahnya beberapa waktu lalu.
"Hai," sapa Nadine saat mendekat. Kiev mengeratkan tangannya di leher Karel. Ia menatap Nadine dengan cemberut. Karel dan Nadine pun saling pandang. Nadine tampak sedih.
"Kenapa Daddy bawa tante jahat ini kesini?"
🌻🌻🌻
Masih excited ga guys?
Jangan lupa vote dan komen yang banyak yaa aku dari kmrn nunggu2in haha 😘😘
