tiga puluh sembilan (END)

1.9K 88 15
                                        

Azeta memutuskan untuk menemui Nadine. Ia tidak ingin di hantui oleh rasa bersalah karena Karel memutuskan wanita baik itu karenanya dan Kiev. Ia tidak ingin wanita itu membencinya dan Kiev. Meskipun Karel berkata bahwa Nadine tampak dewasa dan legowo.

Ia menunggu Nadine di Co.b, salah satu coffee shop dibawah naungan CB group yang mana didirikan oleh sepupunya dan kini ia bekerja di kantor pusat tersebut bersama sepupunya, Reaksi.

Azeta menunggu Nadine cukup lama hingga ia melihat sosok wanita cantik itu memasuki coffee shop tersebut. Azeta pun melambaikan tangan padanya.

"Sorry, Zet. Nunggu lama, ya?" ia tampak merasa tidak enak setelah bercipika-cipiki dengan Azeta.

"Nggak papa, Nad." jawab Azeta.

"Kamu sama Kiev sehat, Zet?" tanya Nadine. Azeta mengangguk dan tersenyum. Ia menanyakan hal serupa pada Nadine sebelum membicarakan inti dari pertemuan ini.

"Nad, aku udah denger dari Karel tentang hubungan kalian." Nadine mengangguk, tenang.

"Nad, aku bener-bener nggak enak sama kamu. Kalian udah tunangan."

"Kenapa, Zet? Yang nikah aja bisa cerai apalagi cuma tunangan." kata Nadine. Senyum masih tersungging di wajahnya. Meski ia juga butuh waktu untuk mencerna ini semua, tapi kini ia tampak lebih legowo. Lebih rela. Apalagi melihat sikap Azeta yang tidak egois ini.

"Ah, Zet, ngeliat sikap kamu, aku jadi semakin yakin keputusan yang kami ambil memang nggak salah." lanjut Nadine sembari menyesap lattenya.

"Aku pikir sekali-kali kamu juga harus pikirin diri kamu sendiri." saran Nadine.

"Aku bener-bener banyak merenung, Zet. Aku memang sakit. Tapi, aku mencoba untuk membayangkan jadi kamu selama 9 tahun ini. Gimana kamu selalu inget Karel setiap kali liat Kiev. Gimana kamu ngurus Kiev sendiri di usia yang masih sangat muda. Harus jadi Ibu dan Ayah sekaligus. Dan kamu nggak pernah berharap lebih bahkan ketika Karel udah tau tentang Kiev. Aku kadang nggak habis pikir sama kamu. Gimana kamu bisa ngejalanin semua itu sendiri?"

"Aku cuma tanggung jawab sama kesalahan yang kuperbuat di masa lalu. Ini memang konsekuensinya. Dan akupun sayang banget sama Kiev. Jadi, meskipun berat, semuanya terasa ringan." Nadine mengangguk dan tersenyum.

"Tapi sampai saat ini kamu masih cinta sama dia kan, Zet?" Tebak Nadine. Azeta kesusahan menelan ludah dan merasa tidak enak jika menjawab dengan jujur. Padahal Nadine sudah menduganya.

"Ayolah, Zet... Karel udah jujur. Sekarang giliran kamu yang jujur sama diri kamu sendiri dan juga Karel. Udah saatnya kalian menjalin sebuah hubungan yang bahkan belum pernah kalian mulai." mendengarnya, Azeta pun bangun dari duduknya dan segera memeluk Nadine.

"Nad, aku nggak pernah ketemu orang setulus dan selapang kamu. You deserve all the world, Nad." Azeta berkaca-kaca dan memejamkan mata, sedang Nadine, ia mengangguk dan tersenyum ikhlas. Meskipun ia sendiri masih butuh waktu, tapi ia tahu ia akan baik-baik saja.

"Sebenernya aku ngelakuin ini nggak cuma buat kalian kok. Aku ngelepasin Karel juga demi aku sendiri. Aku bukan nggak bisa nerima Kiev, Zet. Tapi, karena sikap Karel berubah, perasaannya berubah, aku pikir nggak akan berhasil kalo kita lanjutin sampai ke jenjang pernikahan. Yang ada kita sama-sama sakit. Jadi, kamu nggak perlu terlalu merasa bersalah." Nadine tersenyum dan Azeta mengangguk mengerti.

Ia paham Nadine tahu nilai dirinya, dan ia tahu bahwa dia pantas mendapatkan cinta seseorang secara penuh tanpa bayang-bayang masa lalu atau wanita lain.

Nadine berkata pada Azeta bahwa ia akan travelling eropa. Azeta tahu bahwa mungkin Nadine ingin menghibur dirinya yang lagi-lagi membuatnya merasa bersalah meski Nadine sudah memberitahunya bahwa ia tidak perlu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

beautiful accidentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang