Sepulang Azeta dan Kiev dari puncak, ia pun mampir ke rumah sang Mama yang ternyata Alena pun berada disana.
"Lesu amat, Zet." heran Lena. Menurutnya, adik satu-satunya itu harusnya senang.
"Kiev, istirahat dulu, nak." suruh Zeta pada putranya setelah ia menyapa Alena. Bocah itu mengangguk lalu menuju kamar yang biasa ia tempati saat disana.
"Aku bingung, Kak."
"Kenapa?" tanya Alena yang ingin tahu. Azeta pun menceritakan apa yang terjadi saat di puncak.
"Aku bener-bener ngerasa jadi perusak hubungan mereka." Zeta tampak benar-benar sedih.
"Zet, semua memang tergantung keputusan kamu. Tapi kalo semisal kamu nolak Karel dan dia tetep putus sama Nadine, apa kamu juga jadi perusak hubungan mereka?"
"Tapi kan karena aku dan Kiev, Kak. Aku bener-bener mikirin perasaan Nadine. Dia bener-bener tulus mau nerima Kiev."
"Zet, sebenernya apa yang dibilang Karel itu bener. Justru kalo dia ngelanjutin hubungan mereka ke jenjang pernikahan, Nadine bakal lebih kasihan karena hati dan pikiran Karel ada di kamu dan Kiev. Apalagi Karel cinta sama kamu. Lagipula Kiev juga sering nanya sama Kakak kenapa dia nggak bisa serumah sama Karel. Dia juga pengen ngerasain punya keluarga utuh, Zet. Dan beruntungnya Karel mau tanggung jawab. Mungkin ini hasil dari doa-doa anak kamu selama ini. Tunggu apa lagi, Zet?"
Azeta diam merenung. Apa yang kakaknya bilang memang ada benarnya.
"Terus gimana sama Enzo?" Azeta bingung karena memikirkan pria itu juga.
"Kamu cinta sama dia, Zet?" Azeta diam. Ia cinta dengan Karel sejak dulu dan tidak pernah berubah. Tapi, saat dekat dengan Enzo, ia pikir ia dapat mencintainya seiring dengan berjalannya waktu. Tapi, dengan situasi saat ini, dengan Karel yang akhirnya mengungkapkan perasaannya dan ingin bertanggung jawab rasanya perasaannya campur aduk. Ada bahagia, sedih, bingung juga perasaan bersalah.
"Aku—belum yakin soal itu."
"Kalo Kakak menilai, Enzo memang baik dan tulus. Tapi sepertinya perasaannya sama kamu nggak sedalem itu. Karena dia hanya pikir kamu sosok yang tepat untuk Ibu sambung Cleo. Bukan berarti kamu bisa gantiin sosok Jane sepenuhnya. Hubungan kalian seperti mutualisme pada awalnya. Kiev butuh sosok Ayah dan Cleo butuh sosok Ibu. Tapi pada akhirnya Kiev udah ketemu Daddynya. Ayah kandungnya. Jadi menurut kamu sekarang, mana yang lebih buat Kiev bahagia? Dan mana yang buat kamu lebih bahagia?"
Azeta menelan ludahnya. Ia pikir, ia dan Kiev akan lebih bahagia dan nyaman bersama Karel.
Alena menyentuh tangan adiknya dan meremasnya pelan. Memberinya dukungan.
"Demi kebahagiaan Kiev, Zet." katanya sembari tersenyum tulus. Ia memang sangat menyayangi keponakannya itu yang ia anggap seperti anaknya sendiri. "Dan kamu." tambahnya.
"Kalian berdua berhak bahagia."
******
Karel menatap Nadine yang tengah packing untuk menginap di rumah orang tuanya. Ia bersandar pada daun pintu.
"Mau aku bantu?" tawarnya sembari menghampiri wanita yang masih menjadi kekasihnya itu dan segera membantunya memasukkan barang-barang wanita itu ke dalam koper.
"Nggak usah, Rel." tolak Nadine datar tapi kemudian ia seperti memaksakan senyum. Karel pikir, akhir-akhir ini Nadine berbeda. Ia lebih sering diam. Sejak kapan tepatnya?
Ah, sejak pulang dari puncak.
"Kamu baik-baik aja, Nad?" tanya Karel khawatir. Ia memang masih peduli pada wanita yang akan menjadi mantannya ini.
