"Jeongyeon-ssi, bisa tolong siapkan 10 gelas jus jeruk? Kami akan melakukan rapat." Pinta seorang karyawan.
"Ah, ne. Saya akan antarkan ke ruang meeting nanti." Angguk Jeongyeon.
Setelah menyiapkan minuman, Jeongyeon pun membawanya dengan nampan ke ruang meeting.
*tok tok tok.
"Permisi.." Jeongyeon melangkah masuk ke dalam.
Ia berkeliling dan meletakan gelas satu persatu di meja.
"Bagaimana nyonya direktur? Apakah anda setuju?" Tanya seorang pegawai.
Yang ditanya hanya terdiam sembari menatap tangan Jeongyeon yang sedang menaruh gelas berisi jus jeruk di depannya. Wanita itu menoleh dan menatap figur Jeongyeon dari samping.
"Rasa hangat apa ini??" Pikirnya.
*krang!
"Astaga! Nyonya Mina, anda tak apa apa??" Jeongyeon begitu terkejut saat setelah ia menaruh gelas di depan Mina, atasannya itu tidak sengaja menyenggol gelas sehingga terjatuh ke lantai dan pecah.
"Hei! Kerja yang benar!" Seorang pegawai meneriaki Jeongyeon.
"Maafkan saya!" Ucap Jeongyeon sambil berlutut dan mengelap kaki Mina yang terkena tumpahan jus dengan lengan kemejanya.
Mina hanya terdiam menatap Jeongyeon yang sedang membersihkan kakinya.
"Dasar OG ini benar benar tidak bisa bekerja dengan baik!" Umpat karyawan yang lainnya.
"Apakah kau tidak tau apa yang sudah kau lakukan??" Tanya karyawan yang lainnya.
"Jauhkan tanganmu dari nyonya Mina!" Perintah seorang manager yang ada disitu.
"Cukup." Suara tenang Mina membuat mereka semua terdiam.
"Rapat ini sudah cukup. Silakan kembali ke meja masing masing." Lanjutnya dengan wajah dingin.
Dengan wajah bingung, seluruh bawahan Mina pun menurut dan pergi keluar. Sementara Mina menatap Jeongyeon.
"Kakiku sudah bersih, mau berapa lama lagi kau mengelapnya?" Suara Mina berhasil membuat Jeongyeon terdiam ketakutan.
"M-maafkan saya.." Suara bergetar Jeongyeon membuat Mina bingung.
"Saya mohon! Maafkan kesalahan saya!" Jeongyeon bersujud dibawah kaki Mina.
"Jangan pecat diriku. Kumohon, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Pinta Jeongyeon.
"Mengapa kau sangat takut dipecat?" Tanya Mina.
"A-aku akan kesusahan jika kehilangan pekerjaan ini. Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini." Jawab Jeongyeong.
"Karyawanku.. Mereka memperlakukanmu seperti sampah hanya karena pekerjaanmu. Mengapa kau masih ingin bertahan? Bukankah lebih baik mencari pekerjaan lain?" Tanya Mina.
"A-anieyo. Bila dikeluarkan dari sini, aku tidak akan bisa memiliki penghasilan yang cukup. Tidak masalah dengan segala perkataan orang, yang terpenting adalah aku dapat menghidupi keluargaku." Jawab Jeongyeon.
Mina terdiam.
"Berapa umurmu?" Tanya Mina.
"23 tahun, nyonya." Jawab Jeongyeon.
"23?" Tanya Mina.
*pluk
Jeongyeon terkejut saat rambutnya dielus oleh Mina.
"Anak muda yang bekerja begitu keras demi keluarganya." Ucap Mina sambil mengelus lembut kepala Jeongyeon.
"Angkat kepalamu dan tataplah kedua mataku." Perintah Mina.
Jeongyeon pun menurut dan bertatapan dengan Mina.
"Mengapa kau menangis? Kau tidak pelu khawatir. Aku tidak akan merenggut apapun darimu." Ucap Mina sambil tersenyum manis dan mengelus kepala Jeongyeon.
"Bekerjalah dengan baik. Aku senang memiliki karyawan yang bekerja keras sepertimu." Lanjutnya.
"D-dia tersenyum??!" Jeongyeon begitu terkejut.
"Siapa namamu?" Tanya Mina.
"Yoo Jeongyeon, nyonya." Jawabnya.
"Salam kenal Yoo Jeongyeon, aku Myoi Mina." Ucapnya sambil tersenyum.
.
.
.
*tuk tuk tuk.
Suara hak sepatu memenuhi koridor saat Mina berjalan menuju ke ruangannya. Bos muda yang dikenal dengan wajah dingin dan sifat elegannya, selalu saja berhasil membuat siapapun enggan untuk menganggunya bila tidak bersangkutan dengan pekerjaan. Mina adalah anak sulung dari keluarga Myoi, pewaris perusahaan besar keluarganya. Dengan sifat tenangnya, ia selalu dapat memimpin perusahaan besar itu hingga semakin sukses.
Mina mendudukan dirinya di kursi kebesarannya sembari kembali mengingat kejadian barusan. Begitu banyak hal hal yang dapat ia lihat. Hal menjijikan, seperti bagaimana saat ia melihat bawahannya memperlakukan manusia seperti sampah, serta hal yang berhasil menghangatkan hatinya yang beku.
"Aku tak pernah melihat seseorang begitu takut kehilangan pekerjaannya seperti barusan. Gadis itu.. Ia benar benar menjatuhkan harga dirinya dengan bersujud di kakiku demi dapat tetap bekerja." Pikir Mina.
"Keluarga ya..." Ucap Mina.
"Aku tak pernah tau bila seseorang bisa sesayang itu dengan keluarganya." Ucap Mina.
"Aku ingin tau bagaimana rasa keluarga yang sesungguhnya." Lanjutnya.
*tok tok tok
"Masuk." Ucap Mina
"Selamat siang nyonya, anda ada jadwal untuk pertemuan di kantor cabang Itaewon setelah ini." Ucap sekertaris Mina.
"Ne, baiklah." Mina pun mengangguk.
.
.
.
"Malam ini seperti biasa kau bernyanyi dengan sangat bagus, Jeong." Ucap bos nya.
"Terima kasih banyak, sajangnim." Jeongyeon membungkuk.
"Ini gajimu minggu ini. Hati hati di jalan yaa, ini sudah cukup larut." Ucap bosnya.
"Ne, khamsahamnida."
Jeongyeon pun pulang dari cafe dengan berjalan kaki. Setiap harinya gadis itu selalu pergi kemanapun dengan berjalan. Hal itu sengaja ia lakukan untuk menghemat uang. Alih alih untuk membayar transportasi umum, Jeongyeon lebih memilih untuk berjalan kaki ataupun lari jika terburu buru.
*drrtt drrrtt
"Yeoboseyo?" Jeongyeon mengangkat ponselnya.
"Ahh, anda yang berminat untuk menyewa kamar ya? Ah, baiklah sebentar lagi saya akan sampai di apartment." Ucap Jeongyeon.
"Ne, mohon tunggu sebentar." Ucapnya sebelum menutup sambungan telepon.
Beberapa minggu yang lalu Jeongyeon berencana untuk menyewakan salah satu kamar yang ada di apartmentnya. Jeongyeon tinggal di sebuah apartmen yang cukup lebar dengan disertai 2 kamar dan dapur. Apartment itu ia dapatkan dengan harga sewa murah karena unit itu tadinya begitu kotor, dan sang pemilik gedung enggan untuk membersihkannya setelah pemilik unit yang lama pindah. Hal itu menjadi sebuah keberuntungan untuk Jeongyeon. Karena alih alih menyewa unit kecil, ia dapat menyewa sebuah unit yang lebih besar dengan bayaran sewa pertahun yang lebih murah. Karena kamar yang satunya tidak Jeongyeon pakai, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menyewakannya sehingga ia bisa mendapatkan uang tambahan.
Wdyt?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunflower
FanfictionFull Chapter Love is easy. I love you, you love me, then let's live happily.
