Closer

867 138 10
                                        

"Nanti sore kita harus ke bandara kan?" Tanya Jeongyeon sambil mengelus pinggang Nayeon di balik selimut.

"Hmm." Jawab Nayeon yang masih begitu nyaman tidur sambil memeluk Jeongyeon.

"Selanjutnya San Fransisco, Texas, New York, North Carolina, dan setelah itu tour kita akan selesai." Ucap Jeongyeon sambil melihat jadwal di ponselnya.

"Jadwal ke Texas masih bulan depan jadi kita bisa kembali dulu ke Korea kan? Aku mau mengurus lagu laguku." Tanya Jeongyeon.

"Aku punya jadwal untuk comeback, jadi tournya di lanjutkan bulan depan lagi setelah aku promosi." Jawab Nayeon.

"Kau pasti akan sangat sibuk nanti." Ucap Jeongyeon sambil menaruh kembali ponselnya ke atas meja.

"Terima kasih sudah memuaskanku semalam." Ucap Nayeon.

"Apakah ini pertama kalinya kau melakukan dengan wanita?" Tanya Jeongyeon.

"Yeah, mantan pacarku sebelumnya semuanya pria." Jawab Nayeon.

"Pasti rasanya berbeda." Balas Jeongyeon.

"Tentu. Saat bersama pria mereka akan lebih menggebu gebu karena nafsu, tapi saat bersamamu ntah mengapa aku merasakan kelembutan yang membuatku merasa rileks dan nyaman." Ucap Nayeon.

"Apakah kau sudah jatuh cinta padaku?" Canda Jeongyeon.

"Tipe idamanmu seperti apa? Aku ingin memantaskan diri." Canda Nayeon.

"Tipe idamanku adalah yang bukan dirimu." Jawab Jeongyeon yang membuat Nayeon terkekeh.

"Ughh.." Jeongyeon pun bangkit dari tidurnya.

Ia berjalan menuju jendela dan sedikit membuka gordyn untuk melihat keluar.

"Pagi ini indah sekali." Ucapnya.

"Yeah, indah sekali." Sahut Nayeon sambil mrmandang tubuh Jeongyeon yang belum memakai apa apa.

"Haish dasar mesum." Jeongyeon pun berjalan untuk mengambil bathrobenya yang ada di lantai.

"Aniyo." Nayeon bangkit berdiri dan menahan tangan Jeongyeon.

"Jangan pakai apa apa dulu." Larang Nayeon.

"Lalu kau mau aku keliling kamar suite ini sambil telanjang??" Tanya Jeongyeon.

"Tetaplah disini, jangan kemana mana dulu." Nayeon pun perlahan memeluk tubuh Jeongyeon.

Wanita itupun mengalah dan memutuskan untuk membalas pelukan Nayeon. Perlahan Jeongyeon membawa Nayeon ke gendongannya seperti koala.

"Kau sangat cantik." Puji Nayeon sambil menatap dan mengelus wajah Jeongyeon.

"Aku tau." Ucap Jeongyeon.

"Kenapa kau tidak balik memujiku?" Tanya Nayeon.

"Apakah aku harus melakukannya?" Tanya Jeongyeon.

"Eum." Nayeon mengangguk.

Jeongyeon pun mendudukan dirinya di atas kasur sambil mengelus pinggang ramping Nayeon.

"Kau sangat baik dan perhatian padaku, aku bersyukur memilikimu di hidupku." Ucapan Jeongyeon membuat pipi Nayeon merona.

"Mwoya? Mengapa kau tidak memuji kecantikanku?" Tanya Nayeon.

"Semua wanita itu cantik, tapi tidak semuanya bisa sepertimu." Jawab Jeongyeon.

Nayeon pun tersenyum sambil perlahan mencium bibir Jeongyeon.

"Kau curang." Ucap Nayeon.

"Bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu karena kata kata manis itu??" Tanya Nayeon.

"Kau tidak boleh jatuh cinta pada seseorang karena kata kata manisnya, tapi jatuh cintalah pada tindakan nyatanya." Jawab Jeongyeon sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leher Nayeon.

"Jika seandainya aku jatuh cinta padamu, apakah kau juga akan mencintaiku?" Tanya Nayeon.

"How much money do you have?" Jawaban Jeongyeon kembali membuat Nayeon terkekeh.

"Aku serius." Ucap Nayeon.

"Siapa yang melarangmu untuk jatuh cinta? Itu semua terserah kau saja. Tapi aku sudah bilang sejak kemarin jika diriku belum siap untuk jatuh cinta pada siapapun." Jawab Jeongyeon.

"Kejadian itu pasti sangat berbekas bagimu." Ucap Nayeon.

"Sangat." Angguk Jeongyeon.

"Apakah kau masih mencintai wanita itu?" Tanya Nayeon.

Jeongyeon masih terdiam.

"Aku tidak tau." Jawab Jeongyeon.

"Masih rupanya." Nayeon mengangguk angguk.

"Aku bilang aku tidak tau." Ucap Jeongyeon.

"Tapi kau tidak mengatakan tidak." Balas Nayeon.

"..." Jeongyeon terdiam.

"Katakan tidak kalau yang aku katakan itu salah. " Ucap Nayeon.

"See? Kau tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri." Lanjutnya.

"Kau akan mengerti jika kau jadi aku." Ucap Jeongyeon.

"Kalau begitu jangan memikirkan wanita itu lagi sekarang." Nayeon pun berdiri dari pangkuan Jeongyeon.

"Ayo mandi bersama." Ajaknya sambil menarik tangan Jeongyeon.

Keduanya pun berendam bersama di bathup yang begitu besar di kamar mandi Jeongyeon. Mereka sama sama menikmati hangatnya air sambil memejamkan kedua mata mereka.

"Jeong." Panggil Nayeon.

"Hmm?" Sahut Jeongyeon.

Nayeon pun perlahan beranjak, dan duduk di pangkuan Jeongyeon.

"Kenapa kau sangat suka duduk di pangkuanku?" Tanya Jeongyeon.

"Kenapa? Kau tidak suka?" Tanya Nayeon.

"Posisi ini sangat erotis." Jawab Jeongyeon yang membuat Nayeon tertawa.

"Aku sangat suka begini." Ucap Nayeon sambil terkekeh.

*Cup cup

Jeongyeon menciumi tubuh Nayeon sambil mengelus tiap tiap inci tubuhnya.

"Ughhh." Lenguh Nayeon saat tangan Jeongyeon menyentuh bagian privatnya.

"Melakukannya disini akan sangat menyenangkan." Ucap Nayeon sambil mengelus kepala Jeongyeon dan membiarkan wanita itu melakukan apapun yang ia inginkan.

.
.
.

"Aku sangat lapar." Keluh Jeongyeon.

"Bukankah kamu sudah makan?" Tanya Nayeon sambil mengancingi kemeja Jeongyeon.

"Makan apa?" Tanya Jeongyeon.

"Makan aku." Canda Nayeon.

"Dasar." Jeongyeon terkekeh.

"Sudah rapih." Ucap Nayeon setelah merapihkan baju yang Jeongyeon pakai.

"Huft.. Aku sudah begitu rindu dengan Korea." Ucap Jeongyeon.

"Aku juga." Nayeon pun bermanja kepada Jeongyeon.

"Saat di keramaian kau tidak boleh seperti ini." Larang Jeongyeon.

"Kenapa?" Tanya Nayeon.

"Tentu saja itu akan membuat rumor rumor tentang kita beredar." Jawab Jeongyeon.

"Kau berkata seperti itu seolah kemarin malam kita tidak berciuman di depan puluhan ribu orang." Ucap Nayeon.

"Benar juga.. Semua fans mu pasti benar benar mengira kita berkencan." Jeongyeon terkekeh.








































Uwwww mantap

SunflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang