*Klek.
Mina membuka pintu kamar rawat Jeongyeon dan memasuki ruangan itu. Mina berjalan duduk kembali ke kursi yang ada di sampjng kasur dan menatap Jeongyeon yang masih pulas tertidur.
"Sudah larut." Pikirnya saat menatap jam yang menunjukan pukul 11 malam.
Mina pun memutuskan untuk merebahkan kepalanya di atas kasur Jeongyeon. Perlahan ia memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian ia langsung tertidur pulas. Saat mata Mina terpejam, mata Jeongyeon pun terbuka. Ia yang terbangun, menatap wajah Mina yang tertidur di dekatnya. Perlahan Jeongyeon mengangkat tangannya dan menaruhnya diatas kepala Mina. Dielusnya dengan lembut kepala wanita yang menolongnya hari ini.
"Andai gengsiku tidak sebesar ini, aku pasti sudah mengucapkan terima kasih secara langsung padamu." Pikir Jeongyeon.
*Sret.
Saat tiba tiba tubuh Mina bergerak, Jeongyeon pun segera menarik tangannya dan berpura pura tak ada yang terjadi.
"Eoh? Kamu terbangun?" Tanya Mina sambil mengusap matanya.
"Air." Ucap Jeongyeon sambil memegang lehernya.
"Ah, ne." Mina segera beranjak dari duduknya dan mengambilkan Jeongyeon air.
Perlahan Mina membantu Jeongyeon untuk mendudukan tubuhnya, dan menenggak minumannya.
"Pelan pelan." Ucap Mina penuh perhatian.
Setelah selesai, Jeongyeon pun kembali merebahkan tubuhnya.
"Aku sakit apa?" Tanya Jeongyeon.
"Dokter bilang, kamu kelelahan, kurang asupan nutrisi, dan asam lambungmu naik." Jawab Mina.
"Huft.." Jeongyeon menghela napasnya.
"Kamu harus istirahat penuh selama seminggu kedepan." Ucap Mina.
"Bagaimana dengan debutku?" Tanya Jeongyeon.
"Sudah di atur ulang. Semua jadwalmu selama seminggu kedepan diundur." Jawab Mina.
Jeongyeon hanya terdiam.
"Tolong pahami ini, tapi mulai sekarang aku akan mengatur makanan yang masuk ke dalam tubuhmu. Tidak ada kopi selama 1 minggu kedepan, dan kau harus makan banyak makanan bergizi." Ucap Mina.
"Memangnya siapa kau?" Tanya Jeongyeon.
"Pemilik perusahaan dari brand brand yang bekerja sama denganmu. Jadi jika kau tidak suka, kau bisa membatalkan kontrak kita." Jawab Mina.
"Cih." Jeongyeon menatap Mina seolah tak percaya dengan yang wanita itu katakan.
"Kau sudah jauh lebih kaya, tapi pola makanmu tetap saja berantakan seperti dulu." Cibir Mina.
"Kalau kau gagal bagaimana?" Tanya Jeongyeon.
"Mwo?" Bingung Mina.
"Kalau kau gagal membuat pola hidupku lebih baik bagaimana?" Tanya Jeongyeon.
"Aku akan berhenti mencintaimu." Jawab Mina.
Jeongyeon pun terdiam.
"Tapi kalau aku berhasil, berikan aku satu kesempatan lagi untuk bisa bersamamu." Pinta Mina.
"Dasar wanita cerdik." Cibir Jeongyeon.
.
.
.
"Selamat pagi, nona Yoo.." Sapa suster yang datang membawakan sebuah buket bunga untuk Jeongyeon.
"Selamat pagi, suster." Jeongyeon tersenyum.
"Ada titipan bunga dari nona Nayeon." Ucapnya sambil menaruh bunga itu di atas meja yang ada di samping kasur Jeongyeon.
"Ah, khamsahamnida." Ucap Jeongyeon.
"Sarapan anda akan diantarkan sebentar lagi, mohon tunggu sebentar ya.." Ucap sang suster sambil menuangkan segelas air untuk Jeongyeon.
"Baik, terima kasih banyak, suster." Jeongyeon menerima air itu dan meminumnya perlahan.
*Tok tok.
"Selamat pagi.." Sapa Mina sambil memasuki ruangan Jeongyeon.
"Eoh? Pagi nyonya Myoi." Sapa suster itu sebelum meninggalkan ruangan Jeongyeon.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jeongyeon.
"Aku mampir sebentar sebelum berangkat kerja. Apakah kamu sudah sarapan?" Tanya Mina.
"Belum." Jeongyeon menggeleng.
"Kalau begitu makanlah ini dulu." Mina mengeluarkan sebuah tempat makan besar berisi bermacam macam buah.
"Apa ini??" Kaget Jeongyeon.
"Makanlah." Perintah Mina.
"Aku tidak suka buah." Ucap Jeongyeon.
"Aku tau, tapi makanlah." Paksa Mina.
"Haish." Jeongyeon begitu enggan.
Melihat itupun Mina duduk di pinggir kasur dan mengambil sebuah apel dari dalam tempat makan itu.
"Aaa." Mina menyuapi Jeongyeon.
"Kau pikir aku anak kecil??" Tanya Jeongyeon.
"Makan." Ucap Mina dengan begitu lembut.
Jeongyeon pun mengalah dan memakan apel yang disuapi Mina. Pagi itu Mina benar benar terus menyuapi Jeongyeon supaya wanita itu mau memakan buat yang sedari pagi ia kupas dan potongi satu persatu.
*Greb.
Jeongyeon memegang tangan Mina dan menariknya. Jeongyeon memperhatikan tangannya yang terlihat terluka.
"Itu hanya sedikit terkena pisau." Mina menarik kembali tangannya.
"Dasar bodoh." Jeongyeon membuka laci di samping kasurnya dan mengambil obat merah.
Jeongyeon meraih tangan Mina dan perlahan mengobatinya.
"Fuhh.." Jeongyeon meniup perlahan luka di jari Mina.
Melihat itupun Mina tersenyum tipis.
"Terima kasih." Ucap Mina.
"Aku hanya membalas kebaikanmu." Balas Jeongyeon.
Mina memajukan dirinya untuk mengelus rambut Jeongyeon. Ia mengebelakangkan rambut wanita itu yang menutupi wajahnya.
"Siapa yang bilang kau boleh menyentuhku?" Tanya Jeongyeon.
"Kenapa? Kemarin malam kamu juga mengelus rambutku." Tanya Mina.
Jeongyeon terdiam. Mina pun tersenyum dan memajukan dirinya untuk mengecup pipi Jeongyeon.
*Cup.
"Aku tau diriku masih ada di hatimu. Kamu bukan menolakku, kamu hanya tidak mau mengakui perasaanmu." Ucap Mina sambil mengelus lembut pipi Jeongyeon.
Keduanya saling menatap mata indah masing masing. Setelah sekian lama, Mina akhirnya dapat kembali merasa seperti tenggelam di mata indah Jeongyeon. Pesona wanita itu benar benar semakin kuat menarik hatinya. Jeongyeon yang sudah semakin dewasa membuat Mina semakin tertarik padanya. Wajah cantiknya disertai dengan tatto yang memenuhi lengan wanita itu selalu berhasil membuat Mina berdebar tak karuan. Mina yang semakin terbawa suasana perlahan mulai mengelus pundak Jeongyeon sambil memajukan dirinya. Diraihnya pipi Jeongyeon dan hendak diciumnya bibir wanita di depannya itu.
*Sret.
Jeongyeon menggeleng sambil menjauhkan diri dari Mina.
"Kamu harus tau batasanmu, Mina." Ucapnya sambil mengusap pipi yang dicium Mina.
Mina pun tersenyum sendu sambil menunduk.
"Maaf, harusnya aku tidak terbawa suasana." Ucapnya.
Huuuuuuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunflower
FanfictionFull Chapter Love is easy. I love you, you love me, then let's live happily.
