"Kemarin malam konser penyanyi solo kebanggaan korea berhasil menyita perhatian publik. Tak perlu diragukan lagi penampilan superstar yang selalu berhasil memanjakan mata dan telinga para penggemarnya itu. Namun sejak konser pertamanya yang diadakan di Gymnasium Center Seoul yang di datangi sebanyak 35.000 penonton, seluruh media dihebohkan dengan kehadiran seseorang. Seorang gadis yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya ini, kemarin malam baru saja berduet diatas panggung bersama sang superstar selama kurang lebih 20 menit dengan membawakan 4 buah lagu." Ucap pembawa acara di televisi.
"Hingga saat ini agensi yang menaungi penyanyi Im Nayeon, Starlight entertaiment, belum merilis pernyataan apapun tentang gadis ini. Namun para fans yang sudah dibuat jatuh cinta olehnya begitu penasaran siapa gerangan gadis ini. Dikabarkan bahwa ia bukanlah bagian dari line up trainee di Starlight Entertaiment. Lalu, siapakah dia sebenarnya??"
*Bib.
Jeongyeon mematikan siaran TV yang sedang ditonton oleh Nayeon.
"Kenapa dimatikan?" Tanya Nayeon.
"Apa yang kau lakukan di kamarku sepagi ini?" Tanya Jeongyeon yang baru saja bangun.
"Ingin memberitahumu bahwa semua orang saat ini mencaritahu siapa dirimu." Jawab Nayeon.
"Bagaimana kau masuk ke sini?" Tanya Jeongyeon sambil mengusap usap matanya.
"Aku meminta kunci cadangan ke resepsionis." Jawab Nayeon.
"Mereka memberikannya begitu saja?" Tanya Jeongyeon.
"Well, mereka tidak akan mengatakan tidak pada Im Nayeon." Jawab Nayeon.
"Huft..." Jeongyeon pun menidurkan dirinya dengan kepalanya yang ia taruh di atas paha Nayeon.
"Kau masih mengantuk ya?" Tanya Nayeon sambil memandang wajah Jeongyeon.
"Hmm." Jawab Jeongyeon dengan mata tertutup.
"Well, semalam kau sangat keren." Puji Nayeon.
"Bukankah seharusnya kau lebih lelah dariku?" Tanya Jeongyeon.
"Memangnya siapa bilang aku tidak lelah?" Tanya Nayeon.
"Lalu mengapa tidak tidur saja?" Tanya Jeongyeon.
"Aku lapar, ayo sarapan." Ajak Nayeon.
"Huft.. Baiklah ayo." Jeongyeon pun bangkit dari tidurnya.
Keduanya pun menuju ke restoran yang ada di lantai bawah untuk sarapan. Jeongyeon dan Nayeon sarapan bersama sambil membicarakan penampilan yang akan mereka bawakan di konser hari ke 2, malam ini. Saat sudah hampir selesai makan, mata Jeongyeon tidak sengaja bertemu dengan mata seseorang yang membuatnya cukup terkejut.
"Huftt.. Aku kenyang.." Ucap Nayeon.
"Kau sudah selesai? Tanyanya.
"Ah, sudah." Jeongyeon mengangguk.
"Mau kembali?" Tanya Nayeon.
"Ne, ayo." Jeongyeon pun bangkit berdiri dan berjalan beriringan bersama Nayeon.
"Hey, Jeongyeon." Seseorang memanggilnya dan membuat Jeongyeon menoleh.
"Bisa bicara sebentar?" Tanyanya.
"Nayeon, kau duluan saja ke atas ya." Ucap Jeongyeon.
"Ah, ne baiklah. Aku akan ke kamarmu lagi ya." Angguk Nayeon.
"Ne." Angguk Jeongyeon.
"Ada apa, Mina?" Tanya Jeongyeon.
"Dia mau apa ke kamarmu?" Tanya Mina.
"Ntahlah, lagipula itu bukan urusanmu." Jawab Jeongyeon.
"Tapi aku ingin tau." Paksa Mina.
"Untuk apa? Kita sudah putus, kau ingat?" Tanya Jeongyeon.
"Aniyo, aku tidak mau putus denganmu!" Tolak Mina.
"Kau benar benar gila, Mina." Jeongyeon yang enggan berdebat pun hendak berjalan pergi.
"Jangan pergi, Jeongyeon." Mina menahan tangan Jeongyeon.
"Berhenti menggangguku, Mina! Kita sudah selesai! Hiduplah bersama suamimu dan jangan ganggu hidupku lagi! Ini semua sudah berakhir! Kau tidak bisa memilih 2 orang secara bersamaan! Kau sudah menikah! Jadi berhenti datang menemuiku! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Kau menghancurkan hati dan perasaanku dengan kebodohan dan keegoisanmu itu. Aku mencintaimu dan begitu percaya jika aku akan terus bersamamu sampai akhir. Tanpa aku ketahui kau hanya manusia serakah yang begitu egois." Kemarahan Jeongyeon membuat Mina terdiam.
"Jangan ikuti aku lagi. Kita sudah selesai, ini semua sudah berakhir." Lanjut Jeongyeon sebelum akhirnya pergi meninggalkan Mina.
Alih alih pergi menuju lift, Jeongyeon pun melangkahkan kakinya menuju ke tangga darurat.
"Hiks.." Tangisan yang ia tahan pun pecah di tempat sepi itu.
Jeongyeon menangis sejadi jadinya. Ia kembali merasakan sakit yang begitu dalam di dadanya karena harus mengatakan hal yang seperti itu kepada Mina. Hatinya tidak sanggup karena ia masih begitu mencintai wanita itu.
*Sret.
Sebuah tangan mengelus pundak Jeongyeon dari belakang. Hal itu membuatnya menoleh.
"Kemarilah." Ucap Nayeon sambil membawa Jeongyeon ke pelukannya.
"Menangislah, tidak apa apa.. Aku paham betul perasaanmu.." Hibur Nayeon sambil mengelus punggung Jeongyeon.
"Hiks.. Hiks.." Tangisan Jeongyeon pun semakin menjadi jadi.
"Maaf aku mendengar pembicaraanmu. Tapi jujur sejak beberapa hari yang lalu kau tampak murung, jadi aku penasaran dengan apa yang terjadi padamu. Namun sekarang aku paham dengan keadaanmu." Ucap Nayeon sambil masih memeluk Jeongyeon.
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Nayeon saat mereka hendak berangkat menuju tempat konser.
"Sudah lebih baik." Jeonyeon mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Malam ini lupakan sejenak kesedihanmu dan bernyanyilah sekuat tenaga untu menghilangkan sesak di dadamu." Ucap Nayeon.
"Ne." Angguk Jeongyeon.
Konser malam itupun tak kalah ramai dengan konser di hari sebelumnya. Karena seluruh media mengabarkan tentang Jeongyeon, seluruh penonton kali ini menjadi lebih antusias untuk menantikan sesi duet Nayeon dan Jeongyeon. Malam itu para penonton kembali dihipnotis dengan penampilan Jeongyeon. Mereka semua bersorak lebih kencang lagi saat di akhir penampilan duet, Nayeon berinisiatif untuk memeluk Jeongyeon diatas panggung. Hal itu tentu saja membuat orang orang senang mengetahui chemistry keduanya yang terlihat begitu imut saat bersama diatas panggung.
Mengrumit duniawi
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunflower
FanficFull Chapter Love is easy. I love you, you love me, then let's live happily.
