"Kalaupun kita bersama pun, dia takkan bahagia bersamaku." Gumam Jeongyeon setelah membasuh wajahnya dengan air mengalir.
Ia mengebelakangkan rambutnya dan memutuskan untuk mengganti baju dengan baju yang kemarin ia pakai. Setelah itu Jeongyeon keluar dari kamar mandi, dan hendak berjalan keluar kamar.
"Mau kemana?" Suara Mina membuatnya menoleh.
"Sudah bangun?" Tanya Jeongyeon sambil menghampiri Mina.
Mina mendudukan dirinya dan bersandar. Ia menarik tangan Jeongyeon untuk ikut duduk. Jeongyeon pun menurut dan duduk sambil memandangnya.
"Mau berangkat kerja?" Tanya Mina.
"Istirahat saja hari ini, kau pasti lelah." Lanjutnya.
Jeongyeon hanya tersenyum sambil menatap Mina.
"Jeongyeon." Panggil Mina.
"Ne?" Sahut Jeongyeon.
"Apakah kau akan pergi selamanya dariku karna merasa tidak pantas untuk mencintaiku?" Tanya Mina yang membuat senyum Jeongyeon perlahan pudar.
"Iyakan? Kau pasti berpikir seperti itukan?" Tanya Mina.
Wajah Jeongyeon berubah menjadi serius dan perlahan ia menundukan kepalanya.
"Hei.. Jawab aku.." Pinta Mina.
"Aku tak mengerti mengapa kau memilih diriku, Mina." Ucap Jeongyeon.
"Bila kita melanjutkan ini, kau pasti takkan bahagia bersamaku." Ucap Jeongyeon.
"Omong kosong." Sangkal Mina.
"Kau pikir aku tertarik padamu karena kau kaya raya? Karena kau punya segalanya??" Tanya Mina.
"Aku jatuh hati padamu karena kau punya sesuatu yang tidak pernah aku miliki. Kau memberiku kenyamanan, rasa aman, rasa disayangi." Lanjutnya.
"Aku tidak peduli dengan materi yang kau miliki dan yang tidak kau miliki. Aku tidak peduli dengan pendapat orang tentang kita, jadi jika kau mau lari dariku sejauh apapun, aku pasti akan mencarimu." Ucap Mina.
"Kemarin malam kau bisa saja meninggalkanku, kau bisa saja pergi begitu saja setelah mengantarku hingga ke mobil, kau bisa saja memilih untuk mengantarku ke rumah sakit. Tapi kau tak pernah memilih itu. Kau mengantarkanku, membantuku berjalan, dan bahkan merawatku dengan kedua tanganmu sendiri."
"Jeongyeon, sebagai seorang anak dari keluarga kaya yang selalu di datangi banyak pria kaya, aku takkan pernah mendapat perlakuan seperti yang kau berikan padaku. Saat bersamamu aku benar benar merasa sangat spesial dan begitu diperhatikan. Jadi aku menginginkannya lagi, aku menginginkan semua perhatian darimu hanya untuk diriku sendiri." Ucap Mina sambil menatap kedua mata Jeongyeon.
"Baiklah.." Ucap Jeongyeon.
"Izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku ya, sayang." Ucap Jeongyeon sambil tersenyum.
Mendengar itupun wajah Mina seketika memerah.
"Curang!!" Mina langsung memeluk Jeongyeon dan menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu.
"Hahahaha." Jeongyeon terkekeh.
"Tidak boleh begitu, Jeongyeon.." Mina begitu malu malu.
"Kenapa memangnya??" Tanya Jeongyeon.
"Jantungku tidak kuat." Jawab Mina.
"Kalau begitu aku takkan memanggilmu sayang lagi." Ucap Jeongyeon yang membuat Mina melepaskan pelukannya dan langsung menatapnya.
"Ah, andwae.." Mina mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa? Kan tadi kamu tidak mau." Tanya Jeongyeon.
"Tidak apa apa deh." Ucap Mina.
"Tidak apa apa?" Tanya Jeongyeon.
"Ne, tidak apa apa. Panggil aku sayang sepuas yang kamu mau." Mina kembali bermanja pada Jeongyeon.
"Ok, sayang." Jeongyeon pun memeluk tubuh Mina.
.
.
.
"Pelan pelan." Jeongyeon memapah Mina hingga ke meja makan.
"Ne." Mina pun berjalan pelan pelan sambil berpegangan pada Jeongyeon.
Setelah duduk di kursi meja makan, Jeongyeon pun memakai apron yang ada di dapur Mina.
"Mari kita lihat apa yang bisa diolah." Ucap Jeongyeon sambil membuka kulkas Mina.
"Aku biasanya masak tumisan, jadi aku selalu menyimpan sayuran sayuran organik di kulkas. Yang itu baru datang kemarin pagi, jadi masih fresh." Ucap Mina.
"Baiklah kalau begitu aku akan memasak tumisan yang enak untukmu." Ucap Jeongyeon sambil mengeluarkan bahan makanan untuk memasak.
Mina memandang Jeongyeon yang sedang serius memasak dengan begitu bahagia.
"Jadi begini rasanya bersama orang yang kita cintai." Pikirnya.
Setelah 30 menit memasak, Jeongyeon pun menghidangkan makanannya ke meja makan.
"Woahh terlihat sangat enak." Kagum Mina.
"Semoga rasanya juga." Ucap Jeongyeon sambil melepaskan apron yang ia pakai.
Jeongyeon menggeser kursi meja makan hingga begitu dekat dengan Mina. Setelah itu ia duduk disitu sambil memakan sarapannya dengan Mina.
"Enak?" Tanya Jeongyeon.
"Kenapa masakanmu lebih enak daripada masakanku??" Tanya Mina.
"Karena kalau aku yang masak, kamu tidak perlu repot." Jawab Jeongyeon yang membuat Mina terkekeh.
"Iya juga ya." Mina terkekeh.
"Kalau begitu, ayo masak untuk aku setiap hari." Pinta Mina.
"Baiklah." Jeongyeon menyanggupi.
"Bagaimana kalau kita sekaligus tinggal bersama?" Tanya Mina.
"Tinggal bersama?" Tanya Jeongyeon.
"Apakah akan sulit?" Tanya Mina.
"Sesungguhnya aku tidak keberatan, tapi pekerjaanku yang lain berada di dekat tempat tinggalku yang sekarang. Jika tinggal disini, aku akan kesulitan." Jeongyeon memberi pengertian.
"Kau punya pekerjaan lain?" Tanya Mina.
"Ne. Setiap pagi biasanya aku bekerja mengantar susu ke rumah rumah di lingkunganku, dan saat malam biasanya aku bekerja di cafe." Ucap Jeongyeon.
"Mwo?? Menggapa kau bekerja begitu banyak? Apakah kau tidak kelelahan?" Khawatir Mina.
"Aniyo, aku sudah terbiasa. Lagipula aku ingin bekerja keras untuk membuat keluargaku hidup lebih enak." Ucap Jeongyeon.
"Tapi sekali kali pikirkanlah dirimu sendiri juga." Ucap Mina.
"Aku tak memikirkan diriku supaya itu menjadi tugasmu."
*Cup
Jeongyeon mengecup pipi Mina.
"Haish.. Bisa saja mengelaknya." Ucap Mina dengan pipi yang perlahan memerah.
"Hihi." Jeongyeon terkekeh.
"Kalau begitu mulai sekarang aku akan terus memikirkan dan merawatmu." Janji Mina.
"Ne, aku juga akan merawatmu dan memastikanmu untuk selalu bahagia." Angguk Jeongyeon sambil tersenyum.
Udah yaa double up nya:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunflower
FanfictionFull Chapter Love is easy. I love you, you love me, then let's live happily.
