What Happend?

802 145 11
                                        

Jeongyeon kembali ke gedung agensi dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan, Jeongyeon hanya bisa merutuki nasibnya sambil menangis. Bisa bisanya ia tidak menyadari keanehan selama ini. Ia tidak tau bagaimana Mina bisa selingkuh dengan begitu santainya.

"Jeong.. Jeongyeon.." Panggil Nayeon yang membuat Jeongyeon tersadar pada lamunannya.

"N-ne?" Tanya Jeongyeon.

"Ayo mulai." Pinta Nayeon.

"Ah ne." Jeongyeon pun mulai memainkan gitarnya.

Siang itu hanya jadwal Jeongyeon dan Nayeon untuk berlatih duet mereka. Sepanjang latihan Nayeon merasakan keanehan pada partnernya itu.

"Terima kasih atas hari ini.. Jangan lupa besok pagi kita akan gladi resik di gedung konser." Ucap seorang staff begitu mereka selesai latihan.

"Ne..." Jawab mereka serentak.

"Jeong." Panggil Nayeon.

"Hmm?" Sahut Jeongyeon.

"Kau baik baik saja?" Tanya Nayeon.

"Ne, aku baik baik saja." Bohong Jeongyeon sambil tersenyum tipis.

"Kalau begitu aku pulang duluan ya." Pamit Jeongyeon sambil membawa tasnya.

Sesampainya di apartment, Jeongyeon langsung mengetuk pintu roommate kesayangan sekaligus teman curhatnya.

*tok tok tok.

"Ne?" Sana pun keluar dari kamarnya.

"Kami putus." Ucap Jeongyeon yang berusaha menahan tangisnya.

Sana pun langsung membawa Jeongyeon ke pelukannya.

"Hiks hiks.. Dia sudah menikah dengan laki laki lain, Sana!" Rengek Jeongyeom sambil menangis.

Malam itu, Sana dengan setia menemani Jeongyeon yang sedang begitu bersedih.

"Hiks.. Aku sangat mencintainya, Sanaaa.." Lirih Jeongyeon sambil menangis.

Sana hanya bisa terdiam sambil setia mendengarkan cerita Jeongyeon dan mengelus pundak roommatenya itu.

"Sial! Ini sangat menyebalkan!!!" Teriak Jeongyeon sambil berdiri dan mengacak acak rambutnya.

*Buk! Buk! Buk!

Jeongyeon memukul mukul dadanya yang terasa sakit.

"Arggghhhh!!!" Ia kembali berteriak sambil menonjok lemari di depannya.

"Katakan sesuatu, Sanaa!! Ini begitu menyesakan!!" Marah Jeongyeon.

"Aku tidak akan bicara kalau kamu masih emosi begitu." Ucap Sana.

Amarah Jeongyeon pun mereda. Perlahan gadis itu melangkahkan kedua kakinya dan kembali duduk di sofa.

*sret..

Tangan Sana perlahan mengelus pundak Jeongyeon. Diusapnya perlahan air mata yang membasahi wajah Jeongyeon. Setelah itu sana meraih tangan yang Jeongyeon yang baru saaja ia pakai untuk meninju lemari.

"Aku tau kamu merasa begitu sakit." Sana mulai berbicara dengan suara lembut.

"Tapi dengan melakukan hal yang menyakiti dirimu, justru akan membuatmu lebih sakit." Lanjutnya sambil mengelus tangan Jeongyeon.

Gadis itupun menggeser tubuhnya untuk memeluk Sana.

"Dadaku terasa begitu sesak, Sana." Keluh Jeongyeon.

"Ini bukan akhir dari segalanya, Jeongyeon." Ucap Sana sambil memeluk tubuh Jeongyeon.

.
.
.







SunflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang