Mom

859 142 10
                                        

"Aku sangat gugup bertemu dengan Ibumu." Ucap Mina sambil menggenggam tangan Jeongyeon.

"Tidak perlu takut, mamaku justru sangat senang jika dapat mengenalmu." Jeongyeon menenangkan.

Dari kejauhan, gadis itu melihat mamanya berjalan keluar dari stasiun.

"Eoh! Mama!" Jeongyeon melambaikan tangannya dan tersenyum begitu lebar.

"Ayo." Jeongyeon mengajak Mina untuk mendekati mamanya.

"Mama!" Jeongyeon pun memeluk mamanya dengan begitu bersemangat.

"Aigooo." Mamanya membalas pelukan Jeongyeon sambil mengelus punggung anaknya.

"Apa kabar, sayang?" Tanya mamanya.

"Baik, ma. Mama sehat kan? Bagaimana? Rutin berobat jalannya kan?" Tanya Jeongyeon.

"Mama sangat sehat." Jawab mamanya.

"Eoh? Ini Mina yaa? Astaga cantik sekali kamu." Mama Jeongyeon pun memeluk Mina.

"Anyeonghaseyo, nyonya Yoo." Ucap Mina.

"Panggil mama saja." Ucap mama Jeongyeon sambil terkekeh.

"A-ahh ne." Mina malu malu.

"Kalau begitu mari aku bawakan barang barang mama." Jeongyeon pun mengangkut tas tas besar yang ibunya bawa.

"Astaga, mama bawa apa saja sih?? Kenapa berat sekali?" Tanya Jeongyeon sambil berjalan beriringan dengan Mina dan mamanya.

"Itu mama buat kimchi dan banyak makanan untuk kamu dan Mina. Kalian masih muda, jadi harus banyak makan makanan sehat." Jawab mamanya.

"Tapikan ini terlalu berat untuk mama bawa." Ucap Jeongyeon.

"Sekarangkan kamu yang membawanya." Tukas mamanya yang membuat Mina terkekeh.

"Haish.." Jeongyeon cemberut.

Jeongyeon pun menganjak mamanya makan di suatu restoran daging premium. Disana Mina dibuat bingung karena setaunya Jeongyeon tidak pernah ke restoran semacam itu.

"Mama mau makan apa? Kita makan daging sapi yaa. Disini daging sapinya sangat enak." Tanya Jeongyeon.

"Mama ikut Jeongyeon saja." Jawab mamanya.

"Baiklah kalau begitu." Jeongyeon pun mengangguk dan memesan potongan daging premium untuk mereka bertiga makan.

"Dasar pembohong." Pikir Mina di dalam hati.

"Dia hidup menghemat setiap hari, tapi berusaha menjadi yang terbaik di depan wanita yang menjadi cinta pertamanya." Pikir Mina sambil menatap kedekatan Jeongyeon dan mamanya.

"Dia selalu mengirim 70% uang gajinya kepada keluarganya, meneraktir daging premium untuk mamanya, bahkan berpakaian mahal saat berada di depan mamanya." Mina memperhatikan Jeongyeon.




.
.
.




"Salam kenal, Sana." Mama Jeongyeon pun menjabat tangan Sana.

"Ne, salam kenal juga nyonya Yoo." Sana tersenyum manis.

"Mama mau mandi dan istirahat dulu?" Tanya Jeongyeon.

"Ne." Angguk mamanya.

"Baiklah kalau begitu." Jeongyeon pun duduk diatas sofa bersama Mina.

Mina menggeser tubuhnya untuk bersandar kepada Jeongyeon.

"Kau menghabiskan banyak uang hari ini." Ucap Mina.

"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mama." Jawab Jeongyeon.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau bahkan selalu makan ramyeon setiap hari. Ususmu bisa keriting, tau." Nasehat Mina.

*Cup.

Jeongyeon mengecup pipi Mina.

"Aku akan baik baik saja." Jawab Jeongyeon.

"Kenapa kamu tadi tidak membeli tas juga? Aku ingin membelikanmu sesuatu." Tanya Jeongyeon.

"Aku tidak ingin tas mahal itu." Jawab Mina.

"Pasti karena kamu sudah punya banyak tas seperti itu." Ucap Jeongyeon.

"Ne, tapi kalau boneka pinguin yang kemarin itu aku baru punya satu. Aku mau kau memenangkan hadiah lain seperti kemarin." Pinta Mina.

Jeongyeon tersenyum.

"Mengapa kamu terkesan sangat sederhana?" Tanya Jeongyeon

"Aku suka yang sederhana. Hal sederhana justru dapat membuatku lebih bahagia. Karena itulah aku memilihmu." Jawab Mina.

"Kalau begitu di kencan selanjutnya aku akan menenangkan banyak permainan untukmu." Ucap Jeongyeon.

"Ne, aku suka begitu." Mina mengangguk angguk.

"Cium." Jeongyeon menunjuk pipinya.

*Cup.

Mina pun mencium pipi Jeongyeon dan memeluk gadis itu.

.
.
.

"Jeongyeon?" Panggil mamanya sambil berjalan ke arah Jeongyeon.

"Ne?" Sahut Jeongyeon yang sedang duduk diatas kasur.

"Belum mengantuk?" Tanya mamanya sambil naik ke atas kasur dan duduk di samping Jeongyeon.

"Sebentar lagi Jeongie tidur." Jawab Jeongyeon.

Keheningan pun terjadi diantara keduanya.

"Ma." Panggil Jeongyeon.

"Hmm?" Mamanya menoleh.

"Menurut mama, Mina seperti apa?" Tanya Jeongyeon.

"Dia wanita yang baik dan sopan. Tapi dari yang mama lihat sepertinya dia orang yang sangat berada ya?" Tanya mamanya.

"Ne, Mina adalah direktur utama perusahaan tempat dulu Jeongyeon bekerja sebagai office girl." Jawab Jeongyeon.

"Direktur utama??!" Kaget mamanya.

"Ne." Jeongyeon mengangguk.

"Jeongyeon.." Mamanya yang begitu terkejut menantikan penjelasan dari anaknya.

"Ne, aku paham.. Posisi kita terlalu jauh untuk bisa bersatu." Jeongyeon mengangguk angguk.

"Aku juga tidak yakin pada awalnya karena itu. Dia punya segalanya, namun aku tidak bisa menyamainya. Aku tidak tau apa yang ia cari dariku, namun Mina sejak awal meyakinkanku jika ia hanya ingin diriku." Lanjut Jeongyeon.

"Aku tidak tau sampai kapan ini akan berlangsung, tapi siapa yang tidak jatuh cinta kepada wanita secantik dan sebaik dirinya. Saat ini aku hanya berusaha yang terbaik agar terlihat layak bersanding dengannya dan berusaha untuk selalu dapat membuatnya bahagia bersamaku." Ucap Jeongyeon.

"Kemarilah." Mama Jeongyeon pun membawa anak gadisnya itu kedalam pelukannya.

"Mama bangga telah membesarkan anak yang memiliki pemikiran sebaik dirimu." Ucap Mamanya sambil mengelus kepala Jeongyeon.

"Terima kasih, mama." Jeongyeon memeluk erat tubuh mamanya.

"Pekerjaan barumu itu, yang kau ceritakan pada mama itu benarkan?" Tanya mamanya.

"Ne, tentu saja." Jawab Jeongyeon.

"Kalau begitu bekerja keraslah hingga kau dapat menjadi super star." Ucap mamanya.

"Pasti. Aku takkan mengecewakan mama dan menyia nyiakan kesempatan emas ini." Ucap Jeongyeon.












































Halooo

SunflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang