*Klek.
Jeongyeon masuk ke dalam unit apartment Mina. Hari itu Jeongyeon pergi ke sana karena Mina baru saja pulang setelah 2 minggu keluar negri. Sudah cukup malam ketika Jeongyeon sampai disana, karena ia harus bekerja di cafe. Jeongyeon melangkahkan kakinya untuk menghampiri Mina yang sudah tertidur pulas diatas kasur.
*Cup.
Jeongyeon menyalurkan kerinduannya dengan mengecup kening Mina.
"Dia pasti lelah." Jeongyeon tersenyum sembari memperhatikan wajah cantik Mina.
Setelah memandang Mina cukup lama, Jeongyeon memutuskan untuk pergi mandi. Gadis itu berjalan perlahan ke arah kasur begitu selesai mandi. Ia naik ke atas kasur dan mendudukan dirinya sambil bersandar ke tembok. Jeongyeon membuka ponselnya dan membuka internet. Ia mencari info terkini mengenai Nayeon karena penasaran mengapa ia bersedih. Jeongyeon menemukan beberapa artikel yang memberitakan bahwa Nayeon baru saja putus dari kekasihnya yang juga adalah seorang selebriti.
"Tidak heran mengapa suasana hatinya buruk hari ini. Ia pasti sangat bersedih karena ini." Gumam Jeongyeon sambil memikirkan lagu apa yang bisa dirinya bawakan.
"Ughh.. Sayang.." Terdengar suara serak Mina yang terbangun.
"Hey.. Terbangun ya?" Jeongyeon tersenyum.
Mina pun bangkit untuk memeluk tubuh Jeongyeon.
"Aku sangat merindukanmu." Ucapnya.
"Aku juga lebuh merindukanmu." Jeongyeon mengelus punggung Mina.
*Cup.
Mina melonggarkan pelukannya dan mencium bibir Jeongyeon.
"Aku tidak tau kau akan kesini, kamu naik apa?" Tanya Mina.
"Seperti biasa, jalan kaki." Jawab Jeongyeon.
"Jalan kaki?! Seperti biasa?!" Kaget Mina.
"Iya." Angguk Jeongyeon.
"Aku memang selalu berjalan kaki kemanapun aku pergi." Lanjut Jeongyeon.
"Kenapa tidak naik taxi?? Akukan selalu kirim kamu uang setiap bulan." Tanya Mina.
"Sudah aku bilangkan untuk berhenti melakukan itu? Aku tidak suka jika kamu mengirimkan aku uang. Semua uangmu masih utuh, aku tidak pernah memakainya." Jawab Jeongyeon.
"Tapi aku mau membantu kamu. Belilah baju dan ponsel baru, lihatlah ponselmu sudah rusak." Paksa Mina.
"Aku akan membeli yang baru dengan uangku sendiri, Mina. Aku tidak mau menggunakan uangmu. Aku tau kamu jauh lebih mampu daripadaku, tapi aku tidak ingin sepeserpun hartamu. Aku bisa bekerja keras dan mendapatkan uang sendiri." Jeongyeon begitu serius mengatakan semua itu hingga membuat Mina sedikit takut.
"Jangan marah lagi.." Bujuk Mina sambil memeluk Jeongyeon.
"Kamu yang masih keras kepala mengirimkan aku uang. Sudah jelas kita bertengkar hebat 3 bulan lalu karena ini." Ucap Jeongyeon.
"Yasudah jangan marah lagi hari ini.. Aku sangat merindukanmu... Jangan panggil namaku, aku takut." Bujuk Mina sambil memeluk Jeongyeon.
"Baiklah baiklah, maafkan aku, sayang." Jeongyeon mengelus kepala Mina.
"Aku hanya khawatir padamu dan tidak tega mengetahui dirimu selalu berjalan kaki kemana mana." Ucap Mina sambil memegang kaki Jeongyeon yang begitu berotot.
"Aku paham.. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menjalani semua ini sejak lama." Jeongyeon kembali mengelus rambut Mina.
"Aku belikan mobil, kamu mau ya?" Tawar Mina yang langsung mendapat tatapan malas Jeongyeon.
"Ahh sayangg~ aku tidak tega.." Mina kembali bermanja pada Jeongyeon.
"Yang aku inginkan darimu adalah waktumu. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu." Jeongyeon mengecup pipi Mina penuh cinta.
"Maafkan aku ya, akhir akhir ini aku selalu pergi ke luar negri dalam waktu yang lama." Mohon Mina.
"Tidak masalah, sayang." Ucap Jeongyeon.
"Apakah kamu akan kembali lagi dalam waktu dekat?" Tanya Jeongyeon.
"3 hari lagi aku harus kembali ke sana." Jawab Mina.
"Kalau begitu, setiap hari aku akan kemari agar bisa menemanimu tidur." Ucap Jeongyeon.
"Benarkah??" Tanya Mina.
"Ne." Angguk Jeongyeon.
Malam itupun keduanya tidur bersama sambil berpelukan dan menyalurkan kehangatan.
.
.
.
"Aku tak menyangka kemarin Nayeon akan mengatakan itu. Tapi aku salut padamu yang masih berusaha untuk membujuknya. Aku paham betul kau pasti berlatih begitu keras selama beberapa bulan terakhir, dan jika semua berakhir begitu saja kau pasti akan sangat kecewa." Ucap guru vokal Jeongyeon.
"Aku ingin membawakan lagu berbeda besok. Aku ingin meminta persetujuanmu untuk membawakan lagu ini, dan aku juga ingin anda melatih vokalku untuk membawakan lagu ini." Pinta Jeongyeon.
"Baiklah, kalau begitu ambil gitarmu dan mulailah bernyanyi." Ucap sang guru.
"Aniyo, kali ini aku takkan memakai gitar. Ijinkan aku memakai itu." Tunjuk Jeongyeon pada sebuah piano di ujung ruangan.
*Keesokan harinya...
"I'm sorry, don't leave me, I want you here with me
I know that your love is gone
I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone"
Jeongyeon bernyanyi dengan begitu mengahayati sambil menekan tuts tuts piano di depannya. Banyak staff dan trainee yang melewati ruangan itu berhenti sejenak di depan jendela untuk mengagumi suara Jeongyeon. Hari itu Nayeon yang sudah berusaha untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik pun gagal. Suara merdu Jeongyeon membuat dirinya menangis. Tetes demi tetes air mata terjun begitu saja karena lagu indah yang dibawakan oleh Jeongyeon. Hingga saat lagu yang Jeongyeon bawakan selesai, dan saat gadis itu berdiri menghadap ke para penilai, Nayeon bangkit dan berjalan menuju gadis itu.
*Greb.
Jeongyeon terkejut saat Nayeon memeluk dirinya tanpa mengatakan apapun. Melihat itu, orang lain yang berada disana pun pergi dari ruangan itu sambil terenyum hangat ke arah Jeongyeon.
"Gadis itu akhirnya berhasil meluluhkan hati Nayeon dengan kerja kerasnya." Pikir mereka.
Nah nah nah...
KAMU SEDANG MEMBACA
Sunflower
Fiksi PenggemarFull Chapter Love is easy. I love you, you love me, then let's live happily.
