Love?

806 145 8
                                        


"Baik, untuk pertanyaan terakhir bagi kalian berdua. Apakah, kalian berdua saat ini berpacaran?" Tanya sang Host.

Nayeon dan Jeongyeon pun bertatapan sejenak dan terkekeh bersamaan.

"Aniyo." Jawab Jeongyeon.

"We're friends." Jawab Nayeon.

"With benefits?" Tanya sang Host yang menimbulkan gelak tawa Nayeon.

"Aniyo, kami hanya partner duet." Jawab Jeongyeon.

"Kalian taukan video kalian berciuman saat konser itu sangat viral?" Tanyanya lagi.

"Ne, tapi itu hanya kecupan singkat sekedar iseng." Angguk Nayeon.

"Kalian sering melakukannya?" Tanya sang Host.

"Aniyo, hanya saat itu." Jawab Nayeon.

"Kalau aku meminta kalian untuk melakukannya lagi sekarang, apakah kalian mau?" Tanya host itu.

"Apakah kalau kita tidak mau, kita harus makan mandu lagi?" Tanya Jeongyeon.

"Ne." Angguk sang Host.

"Woahh, kalian benar benar menyebalkan." Nayeon menghela napasnya.

"Apakah kau tidak lihat wajah keren Jeongyeon sudah banjir keringat??" Tanya Nayeon.

"Nayeon-ah, palli. Aku sudah tidak kuat." Mohon Jeongyeon.

Nayeon pun terkekeh melihat Jeongyeon.

"Geurae." Nayeon pun mengambil sumpit bersamaan dengan Jeongyeon.

Mereka pun saling menyuapi mandu ke dalam mulut masing masing.

"Hahahaha agensimu sudah melarang ya?" Tanya sang host.

"Ne, kita bisa dalam masalah jika mengulanginya lagi." Angguk Nayeon sementara Jeongyeon sudah begitu kepedasan.


.
.
.


"Nyonya, ini dokumen pengajuan yang masuk ke perusahaan kemarin." Ucap sekertaris Mina sambil memberikan setumpuk berkas.

"Pengajuan apa saja itu?" Tanya Mina.

"Semua pengajuan kerja sama ada juga yang meminta sponsor untuk debut seorang idol." Jawab sekertarisnya.

"Idol? Agensi mana?" Tanya Mina.

"Dia tidak berasal dari agensi manapun." Jawab sekertarisnya.

"Bodoh sekali." Cibir Mina.

"Tolak semuanya, aku tidak ingin ada kerjasama ataupun sponsor." Ucap Mina sambil kembali fokus ke komputernya.

"Ne, baiklah nyonya." Sekertarisnya pun mengambil kembali tumpukan map di depan Mina, namun tiba tiba map yang paling bawah terjatuh dan membuat isinya berhanburan.

"Ahh, maaf nyonya." Sesal sekertarisnya.

"Tidak masalah. Bawalah itu pergi, biar aku yang merapihkan ini." Ucap Mina.

"Ne." Sekertarisnya pun pergi keluar ruangan.

Saat sedang merapihkan kertas kertas itu, Mina menemukan sebuah pas foto dan seseorang yang begitu ia kenal. Hal itu membuat Mina membaca salah satu kertas yang jatuh itu.

"Ahh.. Kamu mau debut rupanya." Mina tersenyum tipis.

"Nyonya, mari saya bawa pergi berkasnya." Sekertarisnya pun kembali.

"Aniyo, aku tertarik dengan yang satu ini. Tolong hubungi aku dengan managermennya." Ucap Mina.

"Ah, ne baiklah." Angguk sekertarisnya.

"Dunia begitu sempit, sayang." Mina tersenyum.

"Mari kita lihat apakah kau akan menjauhiku lagi kali ini." Lanjut Mina.

.
.
.






"Nyonya, mereka sudah datang." Ucap sang sekertaris.

"Ne, duluan saja. Aku akan menyusul nanti." Ucap Mina.

"Baik." Angguk sekertarisnya

Mina berpura pura tenang dengan tetap duduk di atas kursi kebesarannya. Namun saat sekertarinya pergi, Mina tidak lagi menahan kegugupannya.

"Omo! Omo! Kaca! Dimana kacaku." Ia segera berdiri di depan sebuah kaca besar yang ada di ruangannya.

Ia memakai ulang make upnya serta merapihkan baju dan rambutnya. Jantungnya begitu berdebar mengingat dirinya akan bertemu dengan Jeongyeon. Gadis muda yang sekarang sudah berubah menjadi wanita dewasa super hot yang selalu Mina puja puja setiap kali menonton penampilannya di internet.

"Huft.. Tenang... Tenang.." Ia berusaha tetap anggun dengan menarik napasnya dan perlahan keluar dari ruangannya.

Ia berhasil menutupi rasa gugupnya dengan wajah elegan yang ia tunjukan. Mina pun membuka ruangan meeting dengan rasa tidak sabar untuk bertemu Jeongyeon.

"Anyeonhaseyo." Sapanya begitu memasuki ruangan itu.

"Anyeonghaseyo." Semua orang berdiri dan membungkuk kepada Mina.

Saat melihat ke arah tamu yang datang, Mina begitu terkejut saat tak menemukan sosok yang ia cari. Senyumannya pun pundar, dengan rasa kecewa ia berjalan ke tempat duduknya.

"Selamat siang, nyonya Myoi. Sebelumnya kami ingin berterima kasih banyak karena telah diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan brand brand dari anak perusahaan anda. Terima kasih telah menerima kami hari ini." Ucap manager Jeongyeon.

"Sama sama." Mina mengangguk dengan wajah seriusnya.

"Apakah sudah semuanya hadir?" Tanya Mina.

"Ne, sudah semuanya." Angguk manager Jeongyeon.

"Dimana talentnya?" Tanya Mina.

"Ne?" Bingung team staff Jeongyeon.

"Kita sedang melakukan kesepakatan kerja sama. Jika anda sekalian bisa bertemu langsung dengan saya, mengapa saya tidak bisa melihat secara langsung dengan siapa saya bekerja sama?" Tanya Mina yang membuat perwakilan staff Jeongyeon kebingungan.

"A-ahh ne, kalau begitu saya akan menghubungi Yoo Jeongyeon untuk bisa datang kesini." Manager Jeongyeon pun langsung sigap berdiri dan menuju ujung ruangan untuk menghubungi Jeongyeon.

"Sambil menunggu talent, bisakah kita mulai untuk membicarakan kontrak kerja sama kita?" Tanya staff Mina.

"Silakan dimulai." Angguk Mina.

Pembicaraan mereka mengenai kontrak kerjasama dengan pihak Jeongyeon pun dimulai. Walaupun saat itu Mina mendengarkan dengan fokus dan seksama pembicaraan kedua belah pihak, namun suasana hatinya sudah begitu buruk. Sepanjang meeting, Mina hanya menyimak pembicaraan tanpa mengatakan sepatah kata pun.

*Tok tok tok.

"Anyeonghaseyo." Sebuah suara berhasil membuat semua orang yang ada di ruangan itu terdiam sejenak dan melihat ke arah pintu.

Terlebih lagi Mina yang seketika merubah raut wajahnya.

"Maaf saya telat." Ucap Jeongyeon sambil membungkuk.

Jantung Mina benar benar berdebar begitu kuat saat melihat wanita yang datang dengan menggunakan jeans yang sedikit sobek di bagian lutut, serta kemeja putih polos yang bagian lengannya dilipat hingga sebatas sikut. Style itu membuat tattoo di bagian lengan Jeongyeon dapat terlihat begitu jelas.

"S-she's so hot!!" Pekik Mina dalam hati.














































Lanjut besok mwehehehehehehe

SunflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang