Proposal

254 41 0
                                    

Ah Ra berlari dari ruangan sidang dengan wajah sumringah. Akhirnya di belakang namanya tersematkan gelar yang ia capai dengan jerih payahnya. Setelah empat tahun lamanya ia kuliah, kini ia sudah berada di garis finish.

"Abang! Aku lulus!" Seru Ah Ra menghamburkan badannya ke tubuh Ten, memeluk abangnya erat.

"Congratulation adik abang yang cantik! Semoga ilmunya bisa dipergunakan untuk hal-hal baik ya." Ten memeluk adiknya erat. Tidak perlu dipertanyakan, Ten sangat bangga melihat adiknya.

"Abang...." Air mata terjatuh begitu saja dari kedua bola mata Ah Ra. Tangis harunya, akhirnya perjuangannya selama ini membuahkan hasil yang manis.

"Abang bangga sama kamu. Bukan cuma hari ini, tetapi setiap hari abang selalu bangga liat kamu."

"Ini semua nggak terlepas dari support abang. Ah Ra sayang banget sama abang!" Tangis Ah Ra kembali pecah. Semua rasanya campur aduk. Senang, sedih, terharu, bangga, menjadi satu perasaan yang mereka rasakan.

"Selamat ya, sayang. Kamu hebat." Ucap suara berat seorang pria, membuat Ah Ra melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang. Di sana, Doyoung sudah berdiri membawa sebuket bunga mawar merah yang sangat manis.

"Kak Doy...." Ah Ra memeluk tubuh tegap kekasihnya, yang dibalas dengan rengkuhan erat oleh Doyoung.

"Pelan-pelan, nanti bunganya jatuh." Bisik Doyoung membuat Ah Ra berhenti bergerak.

"You did very well! Aku tahu kamu pasti bisa. Pacar aku kan pintar." Ucap Doyoung lagi sambil mengusap pipi gadis itu dengan lembut.

"Bunganya harum." Gumam Ah Ra menghirup dalam-dalam bunga yang diberikan Doyoung. Mawar merah, kesukaannya.

"Kamu mau tahu sebuah fakta?" Tanya Doyoung dengan segala pertanyaan randomnya. Ah Ra menatap Doyoung bingung, tiba-tiba?

"Mau." Jawab Ah Ra, meskipun gadis itu bingung dengan apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh kekasihnya.

"Kecerdasan seorang anak menurun dari ibunya."

"Lalu?" Tanya Ah Ra, semakin kebingungan dengan arah pembicaraan Doyoung.

"Kamu pintar. Semua orang tahu. Aku juga mengakui itu." Ucap Doyoung menjeda ucapannya sebelum ia mengucapkan intinya–

"Jadi, mau nggak jadi ibu dari anak-anak aku?"

Tubuh Ah Ra membeku, ia tidak bisa mencerna ucapan Doyoung barusan. Apa tadi kata pria itu?

"Hah?"

"Respon kamu jelek banget. Kok cuma hah doang." Gerutu Doyoung yang jengkel mendengar respon Ah Ra yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.

"Tunggu dulu, maksudnya gimana?" Tanya Ah Ra lagi, ia harus memastikan, apakah yang Doyoung maksud sesuai dengan yang ia tangkap.

"Aku ngajak kamu membangun rumah tangga bersama, Ra. Let's get married." Ulangnya sambil mengenggam kedua tangan Ah Ra.

"Kak, nikah itu sakral loh. Jangan main-main!" Ah Ra memberikan peringatan agar Doyoung tidak main-main dengan yang ia ucapkan.

"Nggak ada yang main-main, Ra. Aku serius, apalagi tentang kamu. Nggak ada sedikitpun dalam pikiran aku untuk main-main." Ucap Doyoung dengan tegas.

"Wah gila, beneran dia lakuin...." Bahkan Ten yang sudah tahu bahwa Doyoung akan melamar adiknya saja ikut terkejut. Doyoung benar-benar menepati ucapannya untuk melamar Ah Ra detik itu juga setelah Ah Ra dinyatakan lulus.

Doyoung melepaskan genggamannya, berlutut dengan kaki kiri sebagia tumpuan. Mengeluarkan sebuah kotak merah beludru dari kantong jasnya. Cincin manis yang sudah ia persiapkan dari tiga bulan yang lalu. Khusus untuk Ah Ra.

"Can I? Can I be your one and only husband, for the rest of your life?"

"Kak...." Dua kali. Ah Ra menangis dua kali hari ini. Pertama karena kabar bahwa ia lulus. Kedua, karena lamaran dari kekasihnya.

"Nggak mungkin aku nolak. Yes. I'll be your wife, you'll be my husband. For the rest of our life." Jawab Ah Ra dengan air mata yang kembali berjatuhan. Doyoung tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh Ah Ra dengan erat.

"Thankyou for saying yes. I love you." Bisik Doyoung lagi, Ah Ra hanya mengangguk sebagai respon.

"CIUM CIUM CIUM!" Teriak sahabat Ah Ra yang menyaksikan acara lamaran Ah Ra dan Doyoung.

"Heh ngadi-ngadi! Ini masih lingkungan kampus. Jangan sampe adek gue batal lulus, ya!" Teriak Ten rusuh, membubarkan barisan teman-teman Ah Ra yang justru semakin heboh dengan mengabaikan teriakan Ten. Ah Ra dan Doyoung hanya bisa tertawa melihat Ten yang disoraki oleh seluruh sahabat Ah Ra. 

(2) Bucin - DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang