Merasa Aneh

633 83 1
                                    

"Kak Doy! Ini berkasnya udah aku fotocopy!" Seru Ah Ra sambil menyerahkan berkas-berkas yang telah ia susun dengan rapih.

"Hm, taruh situ aja." Ucap Doyoung dingin sambil tetap fokus pada laptop di depannya.

"Kak Doy haus nggak? Mau aku bikinin minuman?" Tanya Ah Ra.

"Nggak perlu." Jawab Doyoung dingin yang membuat Ah Ra mengerutkan keningnya, tumben.

"Tumben, Kak. Biasanya kak Doy minta dibikinin minuman."

"Berisik, saya lagi fokus kerja." Sewot Doyoung yang membuat Ah Ra jadi tambah bingung, tumben banget Doyoung sensi hari ini, tadi pagi mood Doyoung masih baik-baik aja.

"Kak Doy kenapa sih? Stress kerja? Istirahat dulu, kasian mata sama otak Kak Doy diajak kerja mulu." Ucapan Ah Ra sama sekali tidak digubris oleh Doyoung yang masih tetap setia menatap layar laptopnya, yang Ah Ra tidak tahu, dia sedaritadi benar-benar menahan amarahnya.

"Aku bikinin minuman yang dingin-dingin deh, Kak. Biar seger." Ucap Ah Ra lagi membuat Doyoung menatap tajam Ah Ra.

"Saya bilang nggak ya nggak! Kamu ngerti Bahasa Indonesia nggak sih!" Bentak Doyoung yang membuat Ah Ra sangat terkejut, jujur Ah Ra tidak pernah dibentak seumur hidupnya, bahkan orang tuanya tidak pernah sekalipun.

"Maaf, Kak. Kalau gitu aku keluar dulu ya, Kak, bantuin yang lain." Tanpa mendengar persetujuan dari Doyoung, Ah Ra bergegas keluar, rasanya sakit sekali, dia tidak pernah dibentak, bahkan air matanya sudah keluar di pelupuk matanya.

"Ah, sial." Desah Doyoung sambil menjambak rambutnya, bingung dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan emosinya.

Lagipula kalau dipikir-pikir, untuk apa dia emosi karena mendengar omongan Ah Ra? Kenapa dia harus marah? Seharusnya dia tidak marah, tapi kenapa dia merasakan perasaan ini? Marah dan kecewa karena mendengar ucapan yang dikeluarkan Ah Ra tadi saat bersama Jaehwan?

"Ck, salah gue." Desah Doyoung lagi yang berusaha membuang fikiran tentang Ah Ra yang sangat sulit, ia sudah berusaha sedaritadi.

"Gue kenapa sih? Masa iya gue suka sama si anak magang itu?" Doyoung berdecak kesal, kenapa, kenapa, kenapa? Pertanyaan itu selalu ada di kepalanya.

"Ah, udahlah kerjain dulu ini, hal itu belakangan aja." Putus Doyoung dan segera memfokuskan dirinya kembali pada kasus-kasus yang harus ia tangani sesegera mungkin. 

 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(2) Bucin - DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang