Sepoi angin lembut memainkan anak-anak rambut Euis yang digelung. Mata Jansen menatap wajah perempuan mungil yang duduk di sebelahnya lembut. Garis wajah Euis sangat memesona lelaki itu.
Rambut yang digelung rapi. Kulit Euis yang dulu sawo matang karena terbakar matahari saat pertama kali Jansen melihatnya, kini telah berubah menjadi kuning langsat. Khas kulit “mojang Priangan” seperti yang selalu dipuja-puji oleh para seniman.
Pipi Euis yang dulu tirus kini sedikit berisi. Memerah alami tanpa pulasan riasan tebal. Bibir bulat penuh. Hidung bangir dan mata bulat dihiasi alis hitam rapi selalu membuat Jansen terpana kala memandangnya.
“Ze is zo mooi,” (dia cantik sekali) gumam Jansen.
Euis lamat-lamat mendengar gumaman sang tuan. Kepalanya menoleh dan menatap Jansen penuh tanya,
“Ada apa, Tuan?”
“Nee, tidak apa-apa ….” sahut Jansen buru-buru, “pemandangannya indah sekali.”
Euis tersenyum mendengar ucapan tuannya. Aloon-aloon ini terletak di tengah kota Bandoeng. Tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Terdapat dua pohon beringin di sisi tengah aloon-aloon.
Satu pohon telah tumbuh besar dan kokoh. Biasa disebut Wilhelmina-boom. Ditanam untuk memperingati pelantikan Ratu Wilhelmina pada tanggal 8 September 1898.
Sedangkan satu pohon beringin baru ditanam beberapa purnama berselang. Untuk memperingati kelahiran Putri Juliana pada 1 Mei 1909. Itu mengapa disebut Juliana-boom.
Euis dan Jansen duduk di bawah Wilhelmina-boom. Menikmati semilir angin dan daun-daun pohon beringin yang saling bergesekan menciptakan simfoni alam.
Euis menatap bangunan yang berada di sisi selatan aloon-aloon. Bangunan pertama di awal Bandoeng mulai berdiri. Pendopo, begitu wargi Bandoeng menyebutnya. Tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahan bupati Bandoeng yang dibangun tahun 1811. Bangunan yang menghadap tepat ke arah gunung Tangkuban Parahu. Bangunan tembok bercat putih itu gagah berdiri.
Euis mengalihkan pandangan pada bagian barat aloon-aloon. Terdapat bangunan juga di sisi barat. Bangunan yang telah direnovasi beberapa kali itu kini berupa bangunan tembok dengan atap genteng bersusun berbentuk nyungcung (lancip). Bale nyungcung, begitu penduduk Bandung menyebutnya. Terdapat pawestren (teras) di samping kiri dan kanan. Bangunan megah itu berfungsi sebagai masjid bagi masyarakat Bandoeng.
Pandangan Euis beralih ke arah utara. Tampak penjara Banceuy berlatar belakang gunung Tangkuban Parahu di kejauhan. Pagi yang cerah membuat puncaknya terlihat jelas. Hanya saputan awan tipis menutup sedikit puncak gunung yang menyimpan kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi itu.
“Indah sekali,” gumam Euis.
“Ya … ik suka Bandoeng, kota yang sangat indah.” Jansen menimpali ucapan Euis.
Perempuan itu menoleh ke arah sang tuan. Pandangan mereka bertemu. Waktu seakan membeku sesaat. Tanpa kata, semua rasa seakan tersirat dari tatapan mata kedua anak manusia berbeda bangsa itu.
Jansen tersadar ketika selembar daun beringin jatuh di atas rambut hitam Euis. Reflek, jemarinya mengambil daun itu dan menunjukkan pada Euis yang memandang Jansen. Perempuan itu menundukkan kepala, tanpa bisa ditahan pipinya bersemu merah.
“Kita ke Pasar Baroe?” tanya Jansen pelan.
Euis menganggukkan kepala mengiyakan. Mereka kemudian berdiri dan melangkah ke arah Pasar Baroeweg yang jaraknya tak terlalu jauh dari aloon-aloon.
Jansen dan Euis melangkahkan kaki dengan santai sembari menikmati pemandangan. Tak banyak bangunan berdiri di sisi jalan ke arah Pasar Baroe. Pepohonan yang berjajar memberikan keteduhan pada pejalan kaki yang melintas. Tanpa mereka sadari karena asyik menikmati pemandangan, keduanya sampai juga di depan Pasar Baroe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarina
Narrativa StoricaKisah Euis, perempuan melankolis berdarah Sunda yang menjadi nyai tentara kolonial Hindia Belanda karena terpaksa. Apakah Euis akan menemukan cinta sejatinya?
