“Sarina … temani ik malam ini.”
Euis mengangguk patuh mendengar perintah tuannya. Dia paham apa yang diharapkan lelaki bermata coklat itu. Setelah mempersiapkan diri, kaki jenjang perempuan bertubuh langsing itu melangkah mendekati ranjang di mana tuannya menanti. Malam ini adalah awal kehidupan Euis sebagai sarina bersama tuan barunya, Tuan Ruud.
***
Langit Bandoeng pagi itu masih diselimuti kabut ketika Euis terjaga dari tidur. Tuan Ruud terbaring di sebelahnya. Napas lelaki itu sangat tenang. Dada yang dipenuhi bulu berwarna kecoklatan, membayang di bawah pantulan cahaya lentera kecil di atas meja kecil. Tampak naik turun pelan.
Euis bergegas membenahi pakaian. Bersiap untuk memasak makan pagi bagi sang tuan dan dirinya. Dengan cepat perempuan itu menggelung rambut panjang hitam legam yang tergerai. Euis hendak beranjak meninggalkan ranjang ketika mendadak satu tangan kekar memeluk pinggang mungilnya.
“Jij mau ke mana?”
Tanpa sepengetahuan Euis, tuannya ternyata telah membuka mata.
“Hendak memasak, Tuan pasti lapar,” jawab Euis pelan.
“Nanti saja, aku lebih lapar melihatmu. Ke sini berbaring di sampingku, temanilah aku seperti semalam,” ucap Tuan Ruud tegas.
Euis memahami maksud sang tuan dan dia harus mematuhinya. Tubuh langsing perempuan itu mendekati lelaki bercambang itu. Tak sabar, tuannya mencabut tusuk konde yang tertancap di gelungan rambut Euis. Rambut hitam itu pun tergerai indah.
“Jij punya rambut indah sekali.”
Euis tertegun. Baru kali ini seorang lelaki memuji rambutnya. Ada perasaan tak biasa merasuki jiwa.
Mungkinkah Tuan Ruud berbeda dengan tuan-tuan sebelumnya? Batin Euis.
Perempuan itu masih terdiam. Namun, dia bisa merasakan jemari sang tuan menelusuri rambut hitam miliknya.Membelai penuh kelembutan. Sedetik kemudian, pipi Euis seperti digelitiki. Rupanya bibir berhias kumis milik Tuan Ruud menyusuri pipi halus perempuan berwajah mungil itu.
Lengan kekar sang tuan memeluk tubuh langsing Euis penuh gairah. Dan kehidupan barak yang mulai menggeliat pagi itu tak dipedulikan lagi oleh sang tuan. Lelaki itu ingin menikmati waktu bersama sarina-nya seperti semalam.
***
“Kumaha ayeuna, Neng?” (bagaimana sekarang?)
Pertanyaan meluncur dari bibir Uwa Euncih. Pagi itu Euis menyempatkan mampir ke tempat makan Uwa Euncih setelah berbelanja.
“Beda dengan sebelumnya, Wa,” sahut Euis tersenyum.
“Alhamdulillah atuh, Uwa ikut senang mendengarnya setelah apa yang terjadi dengan Neng tempo hari.”
Euis mengangguk. Bibir sarina itu menyunggingkan senyum. Melengkung makin indah. Setelah melepas kangen, Euis memberikan beberapa koin pada Uwa Euncih. Hanya perempuan di hadapannya ini yang Euis anggap orang terdekat bagi dirinya di Bandoeng. Uwa Euncih menolak pemberian Euis. Namun, setelah Euis memaksa, pemberian itu diterima. Dengan syarat Euis sering mengunjunginya.
***
Tubuh tuannya terasa sangat panas. Dengan sabar Euis mengompres dengan air di dalam baskom berwarna hijau bermotif abstrak.
“Tuan, cobalah tidur,” ucap Euis lembut, “malam ini saya akan merawat Tuan.”
Mata Tuan Ruud terpejam. Saat mendengar suara Euis, mata sang tuan terbuka perlahan. Bola mata coklat itu menatap wajah unik di depannya. Wajah mungil berhias sepasang mata bulat besar dengan hidung yang terlihat indah. Kepala lelaki itu mengangguk patuh. Matanya kembali terpejam.
Euis berjaga semalaman. Penuh ketelatenan dikompresnya tubuh sang tuan dan mengganti kompres ketika mulai mongering. Menjelang fajar, tuannya membuka mata dan berkata,
“Ik sudah merasa lebih baik berkat pertolongan jij.”
Perempuan berkebaya putih itu menundukkan kepala mungilnya. Semburat merah menghiasi pipi. Dan pipi halus Euis makin memerah kala jemari Tuan Ruud menyentuh anak-anak rambutnya. Dada perempuan itu terasa sesak. Perasaan ini begitu berbeda. Setelah detak jantungnya lebih teratur, Euis mengangkat kepala dan berkata,
“Sebaiknya Tuan ke dokter saja.”
Anggukan kepala berambut coklat milik Tuan Ruud melegakan Euis. Semalam, seraya mengompres tubuh sang tuan. Perempuan muda itu memperhatikan detail wajah tuannya.
Rahang tirus berhias cambang. Bibir tipis khas bangsa Eropa tertutup kumis berwarna kecoklatan. Alis yang juga berwarna coklat menghiasi mata Tuan Ruud.
Hidung lelaki itu terukir indah bak patung pualam. Wajah lelaki itu menampilkan kejantanan seorang lelaki Eropa yang khas. Dan entah bagaimana kali ini dia menyukai sosok jan fuselier yang terbaring lemah di depannya. Sungguh sangat berbeda dengan tuan sebelumnya yang kasar dan tak peduli akan Euis.
***
“Dua pekan lagi ik akan pergi dari sini.”
Kalimat itu meluncur dari bibir tipis sang tuan. Setelah beberapa kali sakit, dokter menyarankan Tuan Ruud untuk fokus pada kesehatannya. Dan lelaki itu akhirnya mengajukan izin cuti untuk kembali ke tanah kelahiran. Holland. Fisik sang tuan tak sama lagi seperti awal menginjakkan kaki di tanah koloni ini. Sekian tahun dihabiskan untuk menyesuaikan diri dengan alam Hindia Belanda. Kondisi fisiknya kini meminta perhatian.
Euis terdiam. Pikirannya melanglang buana. Hal yang ditakutkan perempuan itu terjadi juga. Kekhawatiran menyelusup dalam ruang jiwa. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi batin. Tentang masa depan dirinya di tangsi ini.
Apakah yang akan terjadi padaku sepeninggal Tuan?
Apakah aku akan bisa menemukan hidup yang lebih baik?
Apakah ada lelaki lain yang seperti Tuan Ruud?
Semua pertanyaan itu membuat diri Euis melemah. Apabila dia tak mendapat tuan lagi, bisa dipastikan hidupnya di tangsi ini berakhir. Tak ada tempat bagi perempuan seperti dirinya untuk tetap tinggal di tangsi tanpa tuan.
Bola mata coklat itu menatap sarina-nya. Dia bisa memahami apa yang dirasakan sang sarina. Meskipun tak terucap sepatah kata pun, raut wajah Euis telah menggambarkan apa yang berkecamuk di hati. Lengan kekar itu terangkat. Membelai lembut anak-anak rambut di atas telinga perempuan di depannya.Senyum menghiasi bibir tipis itu. Sorot mata Tuan Ruud melembut kala bertemu dengan tatapan Euis.
Perempuan itu terpana. Dia selalu menyukai tatapan sang tuan. Semua yang dilakukan lelaki di depan Euis ini selalu menyiratkan kelembutan. Tutur kata. Bahasa tubuh. Tampaknya Tuan Ruud sangat menjaga hati sarina-nya. Euis merasa netranya memanas. Beberapa hari lagi dia harus kehilangan sosok lelaki berhati lembut ini. Wajah perempuan itu menunduk, berusaha menyembunyikan genangan di pelupuk mata.
Ketika Euis merasakan jemari sang tuan menyentuh dagu lancip miliknya. Mengangkat dagu itu penuh kehati-hatian. Air mata perempuan itu tak terbendung lagi. Bulir demi bulir bening itu meluncur ke pipi. Membasahi kulit eksotis Euis yang terbalut kebaya putih.
Kepalanya terasa berat. Raganya melemah. Sekali lagi dia ditinggalkan. Sendiri. Tanpa tahu bagaimana masa depannya kelak. Roda kehidupan dunia ini terus berputar. Menyisakan serpihan hati seorang sarina seperti Euis. Perempuan yang ditakdirkan hanya bisa menerima sebuah keputusan yang telah ditetapkan untuknya oleh sang tuan. Hati kecil sarina mungil itu menjerit.
Mengapa kebahagiaan tak pernah berpihak padaku?
***
-bersambung-
#sarina #bab5part1 #apnb #najmubooks #fiksisejarah #historical #history #historicalfiction #fiksi #nyaibelanda #nyaitentaraHindiaBelanda #fiction #gundik #tentara #tentarabelanda #kisahnyai
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarina
Tarihi KurguKisah Euis, perempuan melankolis berdarah Sunda yang menjadi nyai tentara kolonial Hindia Belanda karena terpaksa. Apakah Euis akan menemukan cinta sejatinya?
