Aku masih menatap layar biru di depan. Deretan demi deretan kode melayang di dalamnya. Evgen terlihat sangat serius, sedangkan aku terlihat sangat bosan.
Klik
Aku memencet tombol enter dan melihat apa yang terjadi.
"Nice, you fast learner." Evgen memujiku.
"Shut up." Kalian sudah tahu bahwa aku benci sekali dipuji.
"What happen with you?" bingung Evgen.
Aku sudah tidak percaya dengan orang lagi. Rasa malas memercayai orang baru membuatku terlihat egois. Namun, inilah aku.
"Let's try my gun." Aku mengajak Evgen untuk masuk ke duniaku.
"You must wear this." Aku memberikannya earmuff untuk melindungi telinganya, agar tidak terlalu bising.
DOR
Aku mulai menembakkan satu per satu peluru dari Pistol M9A3, yang menjadi senjata favoritku sekarang. Selain itu, aku mempraktikkan cara Halton mengajariku tentang zig-zag shoot.
Aku masih gagal, namun sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku harus berlatih setiap hari jika seperti ini.
"You must try Evgen, hanya tembakan lurus ke depan. Karena zig-zagku masih buruk."
Evgen terlihat ragu untuk mencobanya. Namun, ia tetap menatap fokus ke titik merah papan shoot. Ia terlihat seperti penembak handal, hanya dengan berdiri dan memegang satu pistol. Terlebih lagi, postur tubuhnya yang kokoh, membuatnya terlihat seperti profesional.
DOR
"Melesat."
"You don't just have to focus on the point. Cara memegang pistol kau juga harus diperhatikan."
Aku mengajarinya bagaimana cara memegang pistol yang benar. Pastikan tidak ada gap atau jarak antara beaver tail dan selaput tangan (selaput antara jempol dan telunjuk). Hal tersebut berguna untuk memberikan tahanan saat ada recoil ke belakang. Prinsip ini berguna untuk mengarahkan recoil, agar muzzle atau moncong tetap stabil menghadap ke depan.
"I can't understand." Evgen terlihat bingung.
"I will teach you." Aku memberitahunya, dengan menggunakan senjata yang lain. Ia menatap caraku memegang pistol, serta mengarahkannya ke titik shoot.
Evgen mulai mencoba trik yang aku ajarkan, mulai menembakkan satu peluru ke depan.
DOR
"Not bad." Ia sudah mulai mengerti trik dasarnya. Pelurunya pun tidak terlalu jauh dari titik merah tersebut.
"Kukira ini membuat telinga sakit, tapi ternyata tidak seburuk itu." Evgen terlihat mulai berdamai dengan duniaku.
"Yeah, if you like it, you tidak akan peduli seberapa bisingnya suara itu."
Kami berdua mulai mengerti, sedikit demi sedikit basic tentang skill masing-masing.
"Thank you for teach me," ucap Evgen sambil tersenyum.
Ia suka sekali tersenyum seperti itu. Namun, aku biasa saja menatapnya.
"No need."
Evgen mulai memasuki ruangannya dan
fokus mengetik di sana.
Aku tidak mengerti bagaimana karakternya. Sedikit sulit untuk ditebak. Tadi tersenyum, sekarang sangat serius. Hal itu membuatku tidak yakin untuk bisa bekerja sama dengannya. Walaupun kami sudah mengetahui masing-masing skill.
KAMU SEDANG MEMBACA
Clandestine ( Sudah Terbit )
Mystery / ThrillerApa harus jadi penjahat agar bisa dihargai? Titik tengah kuhancurkan dengan satu peluru. Aku menembakkan peluru kedua di tempat yang berbeda. Almond eyesnya menatap tajam. DOR "Two points." Lagi-lagi, aku menghantamkan peluru kedua dengan tepat. "G...
